Sunday, 10 August 2014

Cerpen Tentang Ibu

 Mama...Mama…Mama

            “Iya ma… aku ingat kok. Habis pulang sekolah ntar aku pergi check up. Umm… mama juga cepat sembuh yach, biar  bisa mudik lagi kesini.”
            “Iya insya Allah. Ya sudah sana pergi sekolah, salam ya sama adikmu. Assalamualaikum.”
            “Waalaikum salam.” Seketika terdengar bunyi tutt…yang panjang pertanda telpon diseberang telah ditutup. Sebersit keceriaan menyelinap direlung hatiku yang belakang ini merasa suntuk. Mendengar suara mama telah cukup mampu membuatku semangat menjalani aktivitas hari ini.
            Seperti biasa aku ke sekolah mengendarai sepeda motor yang jika dikatakan secara jujur itu pinjaman dari ayahku. Dan ow…ow…ada telepon lagi.”
            “Halo…,” kataku denga nada ceria ketika kulihat nama kontak mete@mo tertera diponselku.
            “Gimana udah dapat kabar belum dari mama?” Tanya Em, sosok penelpon kedua yang selalu kutunggu sebelum ke sekolah.
            “Iya kak, tadi mama nelpon tapi katanya masih dirumah sakit.”
            “Doain mama moga cepat sembuh dong Buccu,”
            “Pasti dong, oh ya aku jalan dulu ya. Ntar jemput aku jam dua-an,”
            “Siap bos buccu…assalamualakum .”
            “Waalaikum salam.” Aku segera mengendarai sepeda motorku menuju ke sekolah.
            Dan Alhamdulillah hari ini aku gak telat lagi, kalau iya aku bisa dapat sanksi lagi dari satpam sok disiplin itu.aduhhh…maafun Eline ya pak Uceng, aku hilaf abis gimana lagi terkadang Bapak tidak mau menerima alas an apapun. Dengan gaya setengah lompat kijang aku ikut bergabung dengan teman-teman yang lagi berkumpul, entah lagi membahas apa.
            “Hei semua, lagi ngobrolin apa? Tanyaku dengan raut wajah yang ceria.
            “Mamanya Eti meninggal, Lin,” jawab Tita dengan raut wajah sedih tak kalah dari teman-teman.
            “Innalillahi rojiun, kapan kejadiannya?,” tanyaku cemas, biar bagaimanapun Eti udah aku anggap sahabat karibdan aku masih ingat waktu kerumahnya, mamanya begitu baik pada kami. Tepatnya seminggu yang lalu, saat dokter telah memprediksi bahwa beliau telah sehat namun bagaimanapun juga dokter hanyalah manusia biasa dan Allah jualah penentu hidup matinya seseorang. Pertanyaanku tak terjawab oleh teman-teman. Tita langsung menyodorkan sms Eti kepadaku dan aku paham. Entah apa yang terjadi kuasa kedua pipiku basah dan kami saling merangkul aku memanjatkan doa untuk mama Eti.
            Saat pelajaran terakhir usai aku sempatkan diri menelpon mama dan kau tahu ketika dering pertama tidak diangkat terasa jantungku akan bergetar hebat dan rasa panik menyentak dalam hatiku entah apa sebabnya. Inilah yang kulakukan belakangan ini, sejak mama masuk rumah sakit akibat penyakit yang dideritanya. Aku selalu ingin memastikan bahwa mama baik-baik saja. Dan mendengar suara mama seketika membuatku tenang kembali.
            Hari ini aku akan ke dermaga bersama Em, sosok yang selalu setia mendengarkan curahan hatiku atau sekedar mendengar lelucon-lelucon yang sebenarnya tak layak untuk ditertawakan. Dan inilah salah satu sekian banyak kesamaan kami, malah menertawakan hal yang terkadang tidak lucu bagi oranglain.
            Di dermaga ini tempat yang sering kami kunjungi walau hanya sekedar ngobrol, bermain ular tangga, kerja PR, terkadang juga berdebat walau hanya memperdebatkan mengapa gelombang air laut itu terhempaskan ke bibir pantai dan bahkan bergosip, tentang teman-temannya atau orang yang kebetulan lewat di hadapan kami. Bahkan seekor katak pun tak luput dari bahan perbincangan kami. Seekor katak yang sering melompat ke bibir pantai, kau tahu mengapa? Karena katak itu mungkin saja telah mengadakan janji dengan kekasihnya di pantai ini, wkwkwkwkwk…
            Di cakrawala, bintang bergemintang tersenyum melihatku yang mematung di jendela kamar, sinar bulan menerpa wajahku yang jelas menampakkan kegelisahan. Aku sempat berpikir mungkin malam ini aku takkan bisa tidur lagi. Malam ini hatiku begitu resah entah apa yang akan terjadi. Pukul 00.00 telah berdenting menandakan hari lelah berganti tapi tidak pada suasana hatiku yang yang tetap saja sama ketika aku mendengar kabar mama kembali sakit. Seperti saat ini jantungku berdegub kencang tak kalah kencangnya saat aku mengikuti test penyiar di FM Nine dua hari yang lalu. Aku melirik di sudut kamar, sebuah meja belajar disana. Diatasnya terdapat ponsel genggamku yang sejak tadi kutunggu berdering dan aku ingin suara yang kudengar diseberang sana adalah suara mama. Tittt… mendengar ponselku berdering aku segera mengambil ponselku dan mengangkat telepon.
            “Halo mama,”
            “Halo Eline, ini kak Cimma. Kalau bisa besok kamu dan ayah kesini keadaan mama udah sangat mengkhawatirkan.
            “Apaaa…? Kataku setengah histeris setelah mendengar penuturan kak Cimma bagai bunyi Guntur yang membuat gendang telingaku pecah.
            “Kata dokter mama udah komplikasi, kini mama kena lever dan keadaannya udah parah. Mama udah nggak dirumah sakit, jadi kamu langsung kerumah.”Tutt…
            “Halo…halo kak Cimma,” tapi tunggu dulu apa maksudnya mama sudah tidak dirumah sakit? Belum selesai kutuntaskan pertanyaanku aku langsung ke kamar ayah dan memberitahu kabar mama. Sungguh kali ini perasaanku sudah tidak bisa lagi diajak kompromi, andai aku punya sayap sudah dari tadi aku terbang dan mendarat tepat disamping mama. Ribuan pikiran yang tidak masuk akal berputar helat di otakku. Tidak, tidak mungkin, mama akan baik-baik saja.
            Pukul 06.00 aku berangkat dan hal yang tidak kupahami ponsel masih tidak bisa dihubungi. Mobil berpacu dengan kencangnya hingga tanpa tersa kami telah memasuki kota Makassar, ibu kota provinsiku. Sebetulnya ada banyak hal yang dapat menarik pandangan dan perhatianku, tapi tidak untuk kali ini. Enam jam diperlukan untuk sampai kerumah di Sulbar sana. “Oh… Tuhan selamatkanlah mama.” Kurasakan ponselku bergetar, denga hati berdebar kubuka pesan itu.
            “Eline cepat kesini mama udah gak ada. Mama udah ninggalin kita semua. Eline cepat kesini, lihat mama untuk terakhir kalinya.”
            Aku tersentak, kata-kata itu bergemuruh didalam hatiku seperi gelombang tsunami yang maha dahsyat. Aku merasakan diriku terdampar di kutub utara dan seketika aku kaku oleh dinginnya udara yang mencapai minus nol koma sekian. Sungguh pesan ini membuatku terdiam dan kaku. Hanya linangan air mata yang mengalir deras di pipiku bak aluan anak sungai. Ayah memelukku erat, kali ini kurasakan tubuhku ambruk bersama semua harapan-harapan yang kurangkai sejak kecil bersama mama telah hancur lebur bersama berita ini.
            Ingin kuyakini bahwa ini adalah mimpi, yah mimpi dan aku igin kembali pada dunia nyataku. Aku ingin pulang mencari mama dan mencium tangnnya. Namun air mataku yang terasa hangat membasahi pipiku membuatku sadar akan kenyataan ini. Kulihat air mata ayah membanjir, seumur-umur aku baru melihatnya menangis, aku terenyuh pria tenang itu sepertinya sangat terpukul dengan kondisi ini. Kini, aku temukan jawaban atas pertanyaanku semalam, mengapa mama tidak lagi dirawat di rumah sakit itu karena dokter tidak sanggup lagi menangani mama. Harapanku satu-satunya aku ingin mencium kening mama untuk terakhir kalinya.
            Waktu telah menunjukkan pukul 18.00, sejam yang lalu kakakku mengabari bahwa jenazah mama akan dikebumikan. Namun, menunggu kedatangan aku dan ayah. Namun Tuhan berkehendak lain, perjalanan yang kuharapkan mulus menemui hambatan. Banjir di Kabupaten Pinrang membuat kemacetan yang panjang. Tepat pukul 19.00 mama dikebumikan, kembali ayah merangkulku, mama…mama…mama…, kataku lirih.
            Matahari menyeruak mengapa alam. Semburat cahaya mulai muncul. Titik-titik air hujan yang mengiringi kepergian mama diterpa oleh berkas-berkas cahaya yang menimbulkan perpaduan warna yang amat indah, namun tak seindah suasana hatiku saat ini. Dengan susah payah kukerahkan segala kekuatan untuk mengunjungi makam mama. Sungguh hati nin perih, terluka hingga bernanah melihat nisan tertera nama mama. Mungkinkah secepat itu?
            Tiba-tiba aku merasa begitu butuh dengan sosoknya, sosok dimana segala keberhasilanku ingin kupersembahkan padanya, sosok dimana ingin kujadikan prasasti atas segala mimpiku menjadi anak berbakti. Aku terdiam, membisu tanpa kata,. Seketika memori indahku bersamanya kembali terekam yang takkan terhapuskan oleh format waktu. Terakhir kulihat wajah mama saat di rumah sakit. Aku tak mampu berkata apa-apa ketika mama terbaring lesu tak berdaya, jarum infuse yang melekat di tangnnya dan selang oksigen yang dipasang dihidungnya agar dapat bernapas telah cukup mampu membuatku ikut dalam kondisi yang parah, mam selalu tersenyum dan senyum itu dapat aku maknai. Tenang saja, mam akan baik-baik saja, mungkin seperti itulah maksud senyumnya. Itulah sifat khas mama, dia tidak akan pernah menunjukkan kesedihan didepanku.
            Raut wajahnya melukiskan banyak hal: keikhlasan, kecintaan, kasih saya, pengorbanan dan tanggung jawab. Bahkan, masih sangat banayak hal yang tidak dapat kudefenisikan pada setiap senyumnya. Sentuhannya, tarikan nafasnya, tatapannya dan pada setiap gerak dalam dirinya. Sungguh, mama adalah makhluk yang misterius. Dan saat itu aku ingin kembali pada masa laluku, aku ingin kembali dan berterima kasih padanya atas semua kejengkelan. Kejengkelannya karena telah membuatku begitu butuh. Aku menangis, menangis karena telah salah mengartikan kasih sayangnya padaku selama ini, dan perbuatan khilafku, aku minta maaf mama.
            “I love you, mom,” kataku lirih setelah memanjatkan doa untuk mama.
            Aku kembali ke bantaeng dengan segala ketabahan dan sedikit kekuatan. Situasi ini menyulapku menjadi sosok yang pendiam dan kurasa teman-teman akan paham atas dukaku.
            Dermaga ini selalu menjadi tempat melampiaskan segala kejengkelan dan kesedihanku. Di tempat inilah, hatiku yang gundah gulana berdiskusi dengan gelombanglarut yang selalu pasang surut. Sesekali aku berteriak seperti orang bodoh dan hasilnya ikan-ikan yang mendekat ke bibir pantai berlompatan, entah apa maksudnya. Ombak yang saling berkejaran menjadi lambang kehidupan yang begitu keras, walaupun akan terburai pada sebuah tepian. Tiba-tiba bayangan seseorang melintasi kepalaku. Aku menoleh kebelakang. Rupanya EM sedang mematung. Wajahnya polos, dia tersenyum dan mendekat duduk di sampingku. Diam tanpa kata.


Ibu
Ibu

            Aku paham atas diamnya, dia memang selalu mengerti atas perasaanku, minimal dia tidak akan bicara sesuatu pun jika bukan aku yang memulai.
            “Hidup memang susah ditebak ya EM.” Kataku pelan.
            “Yah, begitulah hidup terkadang member kita kejutan yang awalnya tak akan mampu kita lalui. Namun berkat ketabahan dan keikhlasanmu aku yakin kamu bisa lalui cobaan ini.”
            “Tapi kenapa mesti mama EM? Aku menatapnya penuh makna dan kulihat keningnya berkerut, mungkin dia berpikir.
            “Karena Tuhan tahu bahwa kamu sangat menyayangi mama melebihi apapun. Dan Tuhan ingin menguji tingkat keikhlasanmu sebagai hambanya. Maka dari itu kamu yang sabar ya? Katanya sambil menepuk pundakku yang kurasakan memberi  kekuatan baru untukku
“Ya Tuhan terima kasih disaat aku terpuruk KAU hadirkan sosok penyemangat dalam hidupku,” kataku dalam hati.
“Oh iya buccu, kamu masih ingat tidak kata kak Ana?,” lanjutnya dan seketika pikiranku melayang mengingat kejadian itu. Kak Ana, seorang penjual baju kaos di pasar baru sana yang mengira kami saudara kembar.
“Iihh… mentang-mentang saudara kembar adik kakak, beli jaketnya juga harus kembar,” katanya waktu itu pada kami, senyum tipis melengkung di bibirku.
“Jadi, mamaku mama kamu juga dong buccu,” aku mengangguk dan kini aku bisa tersenyum lagi.

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home