Monday, 16 February 2015

Tata Cara Pemungutan Pajak

Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas mengenai Tata Cara Pemungutan Pajak. Pemungutan Pajak, dapat dilakukan berdasarkan 3 stelsel yaitu Stelsel Nyata, Stelsel Anggapan (Fictieve Stelsel), dan Stelsel Campuran. Asas Pemungutan Pajak terdiri atas Asas Domisili (asas tempat tinggal), Asas Sumber, dan Asas Kebangsaan.  Sedangkan Sistem Pemungutan Pajak terdiri atas Official Assesment System, Self Assesment System, dan With Holding System. Untuk lebih jelasnya, Tata Cara Pemungutan Pajak akan dibahas yaitu sebagai berikut: 

1. Stelsel Pajak
    Pemungutan pajak dapat dilakukan berdasarkan 3 stelsel:

a. Stelsel Nyata (riel stelsel)
    Pengenaan pajak didasarkan pada objek (penghasilan yang nyata), sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak, yakni setelah penghasilan yang sesungguhnya diketahui. Stelsel Nyata mempunyai kelebihan atau kebaikan dan kekurangan. Kebaikan setelsel ini adalah pajak yang dikenakan lebih realistis. Sedangkan kelemahannya adalah pajak baru dapat dikenakan pada akhir periode (setelah penghasilan riil diketahui).

b. Stelsel Anggapan (Fictieve Stelsel)
    Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh undang-undang. Misalnya, penghasilan suatu tahun dianggap sama dengan tahun sebelumnya, sehingga pada awal tahun pajak sudah dapat ditetapkan besarnya pajak yang terutang untuk tahun pajak berjalan. kebaikan stelsel ini adalah pajak dapat dibayar selama tahun berjalan, tanpa harus menunggu pada akhir tahun. Sedangkan kelemahannya adalah pajak yang dibayar tidak berdasarkan pada keadaan yang sesungguhnya.

c. Stelsel Campuran
    Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel anggapan. Pada awal tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan, kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Bila besarnya pajak menurut kenyataan lebih besar daripada pajak menurut anggapan, maka Wajib Pajak harus menambah . Sebaliknya, jika lebih kecil kelebihannya dapat diminta kembali.

2. Asas Pemungutan Pajak

a. Asas Domisili (Asas tempat tinggal)
        Negara berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan Wajib Pajak yang bertempat tinggal di wilayahnya, baik penghasilan yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri. Asas ini berlaku untuk Wajib Pajak dalam negeri.

b. Asas Sumber
     Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di wilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal Wajib Pajak.

c. Asas Kebangsaan 
    Pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu negara.
Tata Cara Pemungutan Pajak
Tata Cara Pemungutan Pajak

3. Sistem Pemungutan Pajak
  a. Official Assesment System
       Adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak
Ciri-Cirinya:
1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus.
2) Wajib Pajak bersifat pasif.
3) Utang pajak timbul setelah dieluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.

b. Self Assesment System
   Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang. 
Ciri-Cirinya:
1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada Wajib Pajak sendiri.
2) Wajib Pajak aktif, mulai dari menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang.
3) Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi.

c. With Holding System
    Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan Wajib Pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.
Ciri-Cirinya: Wewenang menentukan besarnya pajak yang terutang ada pada pihak ketiga, pihak selain fiskus dan Wajib Pajak.

Demikian pembahasan mengenai Tata Cara Pemungutan Pajak, semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian. 

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home