Sunday, 19 July 2015

Perkembangan Dunia Usaha

     Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas mengenai Perkembangan Dunia Usaha. Pembahasan mengenai Perkembangan Dunia Usaha yaitu sebagai berikut :

     Pada saat ini sesuai dengan rumusan UUD 1945 Pasal 33, banyak sektor penting kehidupan ekonomi Indonesia dipegang atau dikelola oleh negara. Itulah sebabnya, hampir semua tambang, perkebunan besar, transportasi (udara, darat, laut), kantor po, bank devisa, listrik, pasar, bahan bakar, telekomunikasi, distribusi pangan, pelabuhan, asuransi dikuasai dan/atau dikelola oleh negara baik langsung maupun lewat organisasi dagang, atau usaha patungan (joint venture) dengan perusahaan nasional atau asing. Sejak pembangunan lima tahun (pelita) 1993, perusahaan negara dipacu agar lebih mampu bersaing dengan swasta. Namun demikian, mengingat luasnya kehidupan ekonomi suatu negara, mulai dari pengadaan bahan baku, pembuatan produk, transportasi, sampai distribusi dari pabrik/produsen ke konsumen, dari kota sampai ke seluruh pelosok Indonesia, maka ruang gerak usaha dunia swasta masih terbuka luas.
       Indonesia masih memerlukan ratusan ribu bahkan berjuta-juta pengusaha dan perusahaan kecil. Sejarah telah membuktikan bahwa di negara modern pun (di abad komputer ini) eksistensi atau kehidupan perusahaan kecil tetap terjamin RI, pembinaan perusahaan kecil seperti dirumuskan dalam pasal 14 UU No. 9/1995 tentang Usaha Kecil dan masyarakat melakukan pembinaan dan pengembangan usaha kecil dalam bidang:
  1. Produksi dan pengelolaan,
  2. Pemasaran,
  3. Sumber daya manusia, dan 
  4. Teknologi.
    Di samping itu, sesuai dengan abad globalisasi dan perdagangan bebas antarnegara, ada kecenderungan pemerintah untuk mengadakan liberalisasi ekonomi dan sepanjang dunia swasta telah mampu, pemerintah akan mengurangi campur tangan. Kenyataan ini adalah peluang dan sekaligus tantangan bagi dunia usaha di Indonesia, atau perusahaan kecil pada khususnya.

Demikian pembahasan mengenai Perkembangan Dunia Usaha. Semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian...

Labels:

Thursday, 16 July 2015

Konsep Dasar Kewirausahaan dan Wirausaha

      Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas mengenai Konsep Dasar Kewirausahaan dan Wirausaha. Pembahasan mengenai Konsep Dasar Kewirausahaan dan Wirausaha yaitu sebagai berikut :

     Istilah Kewirausahaan merupakan padanan kata dari entrepreneurship dalam bahasa Inggris. Kata entrepreneurship sendiri sebenarnya berawal dari bahasa Prancis yaitu 'entreprende' yang berarti petualang, pencipta, dan pengelola usaha. Istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Richard Cantillon (1755). Istilah ini makin populer setelah digunakan oleh pakar ekonomi J.B Say (1803) untuk menggambarkan para pengusaha yang mampu memindahkan sumber daya ekonomis dari tingkat produktivitas rendah kr tingkat yang lebih tinggi serta menghasilkan lebih banyak lagi (Rambat Lupiyoadi, 2004;1).
      Tidak sedikit pengertian mengenai kewirausahaan yang saat ini muncul seiring dengan perkembangan ekonomi dengan semakin meluasnya bidang dan garapan. Coulter (2000;3) mengemukakan bahwa kewirausahaan sering dikaitkan dengan proses, pembentukan atau pertumbuhan suatu bisnis baru yang berorientasi pada perolehan keuntungan, penciptaan nilai, dan pembentukan produk atau jasa baru yang unik dan inovatif. Suryana (2003;1) mengungkapkan bahwa kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Adapun inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melalui berpikir kreatif dan bertindak kreatif untuk menciptakan peluang.
     Menurut Hisrich-Peters (1998;10) kewirausahaan diartikan sebagai berikut :"Entrepreneurship is the process of creating something different with value by devoting the necessary time and effort, assuming the accompanying financial, psychic, and social risk, and receiving the resulting rewards of monetary and personal satisfaction and indefendence. Kewirausahaan adalah proses menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan risiko serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi.

     Drucker (1994; 28) menyatakan bahwa kewirausahaan lebih merujuk pada sifat, watak, dan ciri-ciri yang melekat pada seseorang yang mempunyai kemauan keras untuk mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia usaha yang nyata dan dapat mengembangkannya dengan tangguh. Oleh karena itu, dengan mengacu pada orang yang melaksanakan proses gagasan, memadukan sumber daya menjadi realitas, muncul apa yang dinamakan wirausaha (Entrepreneur).
    Yuyun Wirasamita, (2003:255) menyatakan bahwa kewirausahaan dan wirausaha merupakan faktor produktif aktif yang dapat menggerakkan dan memanfaatkan sumber daya lainnya seperti sumber daya alam, modal, dan teknologi, sehingga dapat menciptakan kekayaan dan kemakmuran melalui penciptaan lapangan kerja, penghasilan dan produk yang diperlukan masyarakat. Menurut Ropke (1995:49), faktor yang memengaruhi tindakan kewirausahaan yaitu hak milik (property raight), kemampuan (competency), dan lingkungan eksternal (environment).
      Menurut Coulter (2000:3), kewirausahaan sering dikaitkan dengan proses, pembentukan, atau pertumbuhan suatu bisnis baru yang berorientasi pada pemerolehan keuntungan, penciptaan nilai, dan pembentukan produk atau jasa baru yang unik dan inovatif. Priosambodo (1998:2) menyatakan bahwa kewirausahaan merupakan gabungan kreativitas, tantangan, kerja keras, dan kepuasan. Seperti seniman dan ilmuwan bahwa wirausahawan juga harus memahami gagasan yang berasal dari imajinasinya. Begitu gagasan muncul, lantas mereka merasa tertantang mewujudkannya, meluangkan waktu yang panjang dan tak kenal henti serta siap menanggung risiko keuangan.
      Ropke (2004:71) menyatakan bahwa kewirausahaan merupakan proses penciptaan sesuatu yang baru (kreasi baru) dan membuat sesuatu yang berbeda dari yang telah ada (inovasi), tujuannya adalah tercapainya kesejahteraan individu dan nilai tambah bagi masyarakat. Wirausaha mengacu pada orang yang melaksanakan penciptaan kekayaan dan nilai tambah melalui gagasan baru, memadukan sumber daya dan merealisasikan gagasan ini menjadi kenyataan. Mekanisme penciptaan kekayaan dan pendistribusian merupakan hal yang fundamental dalam pengembangan usaha koperasi.
     Machfoedz (2004;1) berpandangan bahwa wirausaha adalah orang yang bertanggung jawab dalam menyusun, mengelola, dan mengukur risiko suatu usaha. Selanjutntya, dikemukakan bahwa pada masa sekarang wirausaha melakukan berbagai hal sehingga definisinya menjadi lebih luas. Wirausaha merupakan inovator yang mampu memanfaatkan dan mengubah kesempatan menjadi ide yang dapat dijual atau dipasarkan, memberikan nilai tambah dengan memanfaatkan upaya, waktu, biaya, kecakapan, dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Mereka adalah pemikir mandiri yang memiliki keberanian untuk berbeda latar belakang dalam berbagai hal yang bersifat umum. Wirausaha adalah pembawa perubahan dalam dunia bisnis yang tidak mudah menyerah dalam berbagai kesulitan untuk mengejar keberhasilan usaha yang dirintis secara terencana.
     Kao (1997;13) mendefinisikan wirausaha dengan menekankan pada aspek kebebasan berusaha yang dinyatakan sebagai berikut: An entrepreneur is and indefendent, growth oriented owner-operator.
     Berbagai bentuk kebebasan muncul dari definisi tersebut yang berkaitan dengan corporate entrepreneur atau intrapreneur yang biasanya bukan merupakan pemilik perusahaan, akan tetapi menjalankan perusahaan sebagaimana halnya pemilik. Oleh sebab itu, ia melihat tentang kebebasan yang bergerak dari pengusaha perseorangan yang bebas murni sampai kepada seorang manajer dalam sebuah perusahaan milik orang lain.
     Entrepeneur merupakan seseorang yang memiliki kreativitas suatu bisnis baru dengan berani menanggung risiko dan ketidakpastian yang bertujuan untuk mencapai laba dan pertumbuhan usaha berdasarkan identifikasi peluang dan mampu mendayagunakan sumber-sumber serta memodali peluang ini.
    Rumusan entrepeneur yang berkembang sekarang ini kebanyakan berasal dari konsep Schumpeter (1934), dia menjelaskan bahwa entrepreneur merupakan pengusaha yang melaksanakan kombinasi-kombinasi baru dalam bidang teknik dan komersial ke dalam bentuk praktik. Inti dari fungsi pengusaha adalah pengenalan dan pelaksanaan kemungkinan-kemungkinan baru dalam bidang perekonomian. Kemungkinan baru tersebut berupa: pertama, memperkenalkan produk baru atau kualitas baru suatu barang yang belum dikenal oleh konsumen, kedua, pelaksanaan dari suatu metode produksi baru dari suatu penemuan ilmiah baru dan cara-cara untuk menangani suatu produk supaya menjadi lebih mendatangkan keuntungan. Ketiga, membuka suatu pemasaran baru yaitu pasar yang belum pernah dimasuki cabang industri yang bersangkutan atau sudah ada pemasaran sebelumnya. Keempat, pembukaan suatu sumber dasar baru, atau setengah jadi atau sumber-sumber yang masih harus dikembangkan. Kelima, pelaksanaan organisasi baru (Yuyun Wirasasmita, Faisal Affif, M Kusman Sulaeman 1992: 33-34).
     Menurut Dun Steinhoff dan John F. Burgess (1993:35) wirausaha merupakan orang yang mengorganisasi, mengelola, dan berani menanggung risiko untuk menciptakan usaha baru dan peluang berusaha.
      "A-person who organizes, manages and assumes the risk of a business or enterprise an entrepreneur. Entrepreneur is individual who risk financial, material, and human resources a new way to create a new business concept or oppurtunities within an existing firm".
      Wirausaha sendiri menurut Joseph Schumpeter adalah;
    "Entrepreneur as the person who destroys the existing economic order by introducting new product and services, by creating new forms of  organization, or by exploiting new raw materials (Bygrave, 1996;1)
     Wirausaha adalah orang yang mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan memperkenalkan barang dan jasa baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru, atau mengolah bahan baku baru. Bygrave (1.996;2) mendefinisikan Entrepreneur is the person who perceives an oppurtunity and creates an organization to pursue it. Seorang wirausaha ialah orang yang melihat peluang lalu membuat suatu organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut.
      Scarborough dan Zimmerer (2005;4) mengemukakan mengenai wirausaha sebagai berikut :
      An entrepreneur is a person who creates a new business in the face of risk an uncertainty for the purposes of achieving profit and growth by identifying oppurtunities and assembling the necessary resources to capitalize on them.
     Para wirausaha merupakan orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan sukses (Meredith et al., 2005:5)
     Berdasarkan bidang ilmu, bagi ahli ekonomi seorang entrepreneur ialah orang yang mengombinasikan resources, tenaga kerja, material, dan peralatan lainnya untuk meningkatkan nilai yang lebih tinggi dari sebelumnya dan juga orang yang memperkenalkan perubahan, inovasi, dan perbaikan produksi lainnya. Bagi seorang Psikologi, bahwa seorang wirausaha merupakan seorang yang memiliki dorongan kekuatan dari dalam untuk memperoleh sesuatu tujuan, suka mengadakan eksperimen atau untuk menampilkan kebebasan dirinya di luar kekuasaan orang lain (Buchari alma, 2006:31).
     Meredith (2005:14), menyatakan bahwa wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan usaha mengumupulkan serta sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan kesuksesan. Para wirausaha merupakan pengambil risiko yang telah diperhitungkan. Mereka bergairah menghadapi tantangan. Wirausaha menghindari situasi risiko rendah karena tidak ada tantangan dan menjauh situasi risiko tinggi, karena mereka ingin berhasil. Mereka menyukai tantangan yang dapat dicapai.
     Menurut Totok S. Wiryasaputra (2004:16), wirausaha adalah orang yang ingin bebas, merdeka, mengatur kehidupannya sendiri, dan tidak tergantung pada belas kasihan orang lain. Mereka ingin meghasilkan uang sendiri. Uang didapatkan dari kekuatan dan usahanya sendiri. Mereka harus menciptakan sesuatu yang benar-benar baru atau memberi nilai tambah pada sesuatu yang mempunyai nilai untuk dijual atau layak dibeli sehingga menghasilkan uang bagi dirinya sendiri dan bahkan bagi orang yang di sekelilingnya.
     Kao (1997:130) mendefinisikan wirausaha dengan menekankan pada aspek kebebasan berusaha yang dinyatakan sebagai berikut: An entrepreneur is and independent, growth oriented owner-operator". Para wirausaha merupakan orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber day yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan kesuksesan.
     Dari segi karakteristik perilaku, Wirausaha (entrepreneur) adalah mereka yang mendirikan, mengelola, mengembangkan, dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri. Wirausaha adalah mereka yang dapat meciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya. Definisi ini mengandung asumsi bahwa setiap orang yang mempunyai kemampuan normal, dapat menjadi wirausaha asal mau dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan berusaha. Berwirausaha melibatkan dua unsur pokok (1) peluang dan, (2) kemampuan menanggapi peluang. Berdasarkan hal ini maka definisi kewirausahaan adalah "tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif, dan inovatif." (Pekerti, 1997).
      Dengan demikian, bahwa kewirausahaan merupakan semangat, perilaku, dan kemampuan untuk memberikan tanggapan yang positif terhadap peluang memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik pada pelanggan/masyarakat, dengan selalu berusaha mencari dan melayani langganan lebih banyak dan lebih baik, serta menciptakan dan menyediakan produk yang lebih bermanfaat dan menerapkan cara kerja yang lebih efisien, melalui keberanian mengambil risiko, kreativitas, dan inovasi, serta kemampuan manajemen.

Demikian pembahasan mengenai Konsep Dasar Kewirausahaan dan Wirausaha. Semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian...
    

Labels:

Monday, 13 July 2015

Bahan Renungan Bagi yang Ingin Sukses

     Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas Bahan Renungan Bagi yang Ingin Sukses. Pembahasan mengenai Bahan Renungan Bagi yang Ingin Sukses yaitu sebagai berikut :

     Jika Anda menghendaki sukses dalam kehidupan, maka renungkanlah dan laksanakanlah apa yang terungkap di bawah ini:
  • Anda harus menyerahkan tugas-tugas pelayanan yang baik.
  • Anda harus membuktikan modal pengetahuan yang Anda miliki.
  • Anda harus membuktikan kemampuan, siapa dirimu.
  • Anda harus memperkenalkan serta menunjukkan pribadimu.
  • Anda harus berpikir untuk menyenangkan orang banyak sebelum diri sendiri senang (kiat sukses).
     Apabila Anda telah mempelajari studi dasar-dasar pengertian yang dimaksud di atas secara mendalam, peganglah modal pengetahuan ini erat-erat di sampingmu, karena kenyataan membuktikan bahwa seluruh batasan apa pun hanya dapat dibentuk oleh dirimu sendiri. Ingatlah pula, bahwa: Anda dapat menarik kembali batasan yang telah dikeluarkan.
Bahan Renungan Bagi yang Ingin Sukses
Bahan Renungan Bagi yang Ingin Sukses
  • Jika Anda adalah majikan dari diri sendiri, apakah Anda puas dengan pekerjaan yang Anda lakukan hari ini.
  • Orang yang berhasil mempromosikan dirinya sendiri dengan menurunkan orang-orang lain, maka ia tidak akan tinggal lama pada posisi yang berhasil dicapainya.
  • Tidak ada jalan buntu untuk orang ulet yang tahu apa yang ia inginkan dan di mana ia menyangka akan menemukannya.
  • Tiap kemalangan tiap kegagalan tiap kesulitan yang amat besar membawa benih manfaat yang setimpal atau yang lebih besar.
  • Setiap perjuangan dan kekalahan akan meningkatkan keahlian dan kekuatan, meningkatkan kemampuan, dan mempertebal keyakinan.
  • Kekayaan sejati terletak di hatimu, bukan dalam tebal dompetmu.
  • Seorang pengemis hanya memikirkan sepiring nasi untuk besok pagi, sedangkan seorang kaya memikirkan sepiring nasinya yang terakhir nanti.
    Demikian pembahasan mengenai Bahan Renungan Bagi yang Ingin Sukses. Semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian... 

Labels:

Sunday, 12 July 2015

Perlukah Pendidikan Kewirausahaan Bagi Masyarakat

     hai teman-teman, kali ini saya akan membahas mengenai Perlukah Pendidikan Kewirausahaan Bagi Masyarakat. Pembahasan mengenai Perlukah Pendidikan Kewirausahaan Bagi Masyarakat yaitu sebagai berikut :

    Sekarang ini banyak anak muda mulai tertarik dan melirik profesi bisnis yang cukup menjanjikan masa depan. Diawali dengan para sarjana dan diploma lulusan perguruan tinggi, yang sudah mulai terjun ke pekerjaan bidang bisnis. Kaum remaja sekarang dengan latar belakang profesi orang tua yang beraneka ragam, mulai mengarahkan pandangannya ke bidang bisnis. Hal ini didorong kondisi persaingan di antara para pencari kerja yang mulai ketat, lowongan pekerjaan mulai terasa sempit. Posisi pegawai negeri dirasakan mulai kurang menarik.
      Sekadar contoh kita menoleh kepada keberhasilan pembangunan di Jepang, ternyata sukses itu disponsori oleh wirausahawan yang telah berjumlah 2% tingkat sedang, berwirausaha kecil 20% dari jumlah penduduknya. Inilah keberhasilan pembangunan negara Jepang (Heidjaracman Ranu P., 1982). Negara Indonesia harus menyediakan 4 juta wirausahawan besar dan sedang, artinya Indonesia harus mencetak 40 juta wirausahawan kecil. Ini merupakan peluang besar yang menantang generasi muda untuk berkreasi, mengadu keterampilan membina wirausahawan dalam rangka turut berpartisipasi membangun negara. Amerika Serikat pun menjadi maju karena peran wirausaha yang mayoritas.
      Tingkat wirausaha di Indonesia, memang masih rendah bila dibandingkan dengan negara-negara di akwasan Asia Pasifik. Rasio kewirausahaan dibandingkan penduduk di Indonesia hanya 1: 83 sedangkan di Filipina 1:66, Jepang 1:25 bahkan Korea kurang dari 20. Berdasarkan rasio secara internasional, rasio unit usaha ideal adalah 1:20.
     Untuk menumbuhkan wirausaha-wirausaha baru tersebut diperlukan adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ada pribahasa yang mengatakan "Janganlah diberi ikan, tetapi berilah kail." Mengapa hanya kail? Inilah yang perlu kita cermati. Coba kita bayangkan, seandainya kail itu patah atau rusak karena mendapatkan ikan yang sangat besar, akan bagaimanakah nasib si pengail? Menganggur! inilah gambaran ekstremnya. Untuk mengantisipasi dan mengatasi hal itu, maka sudah saatnya kita berpikir untuk tidak memberikan sekadar kail, tetapi berilah kemampuan untuk membuat kail atau lebih dari itu. Peribahasa tersebut hanya sekadar pengantar bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat penting. Kiranya sudah saatnya kita berada pada tahap yang lebih maju daripada sekadar penikmat teknologi, apalagi hanya sekadar bangsa yang konsumtif.
     Di era globalisasi, saat dunia semakin transparan, kita akan menyaksikan bagaimana hebatnya persaingan bisnis perubahan nasional, perang ekonomi lewat perdagangan antar bangsa yang berebut menguasai pasar dunia dalam bidang barang dan jasa. Karena itu, diperlukan keuletan yang luar biasa dalam menghadapinya, serta tanggap dan jeli terhadap informasi bisnis di sekitarnya. Apabila kita banyak mengetahui seluk-beluk bisnis, maka semakin banyak peluang untuk berhasil dan menggali usaha keuntungan dari pengalaman tersebut.
     Kita harus menyadari serta bersyukur bahwasanya Tuhan telah memberikan kemampuan yang cukup kepada manusia, namun manusia sendiri yang kadang-kadang malas menggunakan kemampuannya. Buktinya tidak sedikit orang yang mengeluh terlalu sibuk, terlalu pusing dan terlalu repot dengan urusannya. Padahal, baru beberapa persen kemamouan yang digunakan dari kapasitas kemampuan dirinya yang sesungguhnya.
     Suatu penelitian yang dilakukan pada sebuah institusi yang khusus menyelidiki manusia, terbkti bahwa sesungguhnya otak manusia mempunyai kemampuan yang sangat hebat. Tetapi kebanyakan manusia hanya menggunaka tidak sampai 40% dari kemampuannya dan 5 % kemampuan otaknya (Majalah Anda No. 102-1985).
      Rohmadi Rusli (1995) menyatakan bahwa kemampuan manusia yang begitu hebat itu sebenarnya tidak terlalu mengherankan jika diingat bahwa sel yang siap dipakai di dalam otak manusia yakni ada 1.000.000 sel, coba bandingkan dengan jumlah sel yang terdapat di komputer hanya sekitar 40.000 sel.
     Perlu dipertanyakan dan introspeksi diri, mengapa sampai saat ini Indonesia tidak semaju Amerika, Inggris, Jepang, atau Cina. Mengapa kita masih tertinggal dari berbagai hal termasuk di bidang ekonomi. Padahal, negara kia memiliki kekayaan yang melimpah ruah, subur, dan berpotensi besar untuk dikembangkan. Tetapi mengapa modal yang sedemikian besar itu belum dapat dimanfaatkan untuk kemajuan masyarakat dan bangsa ini. Menurut para ahli, bahwa salah satu penyebabnya adalah akibat masih rendahnya sumber daya manusia. Bagaimana potensi yang cukup besar ini dapat dimanfaatkan jika kita tidak tahu cara memanfaatkannya. Dalam bisnis pun demikian biar pun kita mempunyai modal dan banyak peluang yang bisa dimasuksi, tetapi tidak tahu caranya, kita hanya tertegun saja.
      Era kemajuan yang kita dambakan harus kita songsong dengan pola pikir yang lebih maju. Kita hendaknya jangan hanya tertegun dan bingung menyaksikan perkembangan dan kemungkinan yang dapat terjadi, melainkan hendaknya dengan kekaguman yang pintar. Kekaguman yang merangsang intuisi sehingga lahir pola baru yang membawa kemajuan atau bahkan melahirkan karya besar. John Stuart Mill (dalam Rohmadi Rusdi, 1995) menyatakan bahwa tidak ada kemajuan besar untuk umat manusia yang banyak jumlahnya ini, sebelum terjadi perubahan besar di dalam konstitusi dasar dari berpikir mereka.
      Kita mencoba untuk melihat bisnis keturunan Cina, yang merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji. Bukan saja dilihat dari perilaku bisnisnya yang mencerminkan etos kerja yang tinggi, tetapi juga dari aspek kehidupan yang lain. Aspek itu misalnya sikap kekeluargaannya yang tebal dan sikap yang tunduk pada otoritas. Adapun perilaku bisnis yang mencerminkan etos kerja yang tinggi misalnya ulet, disiplin, jujur, dan setia kawan. Maka tak heran jika di mana-mana keturunan Cina berhasil membangun kerajaan bisnisnya. "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." Rupanya keturunan Cina telah banyak yang berhasil mengubah keadaannya dengan etos bisnisnya yang memang menunjang untuk maju.
     Seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan dari SLTA maupun di perguruan tinggi, tentunya memiliki sejumlah harapan, setidaknya bagaimana dengan ilmu yang diperoleh selama menjalani studi tersebut dan menjadi bekal dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Menjalani kehidupan yang lebih baik pada masa depan adalah harapan semua orang. Oleh karena itu, makin banyak orang mempunyai keyakinan bahwa semakin tinggi level pendidikan formal seseorang akan semakin terjamin untuk memiliki masa depan yang lebih baik. Apakah  benar demikian?
    Untuk menjawab pertanyaan di atas, seorang penulis mencoba menyarankan agar melihat sekeliling kita. Berapa jumlah sarjana yang menganggur? Berapa jumlah lulusan luar negeri yang setelah pulang ke Indonesia, tidak bisa bekerja atau tidak berhasil? Berapa banyak yang lulus cum laude namun prestasi hidupnya biasa-biasa saja? Sebaliknya, banyak orang yang prestasi akademiknya biasa-biasa saja namun prestasi hidupnya sangat luar biasa.
Perlukah Pendidikan Kewirausahaan Bagi Masyarakat
Perlukah Pendidikan Kewirausahaan Bagi Masyarakat
    Bagi kita yang memperoleh prestasi akademik yang baik tentu saja perlu mensyukuri dengan tidak melupakan sebuah prinsip bahwa prestasi akademik yang dicapai tidak serta merta memberikan jaminan bagi kehidupan yang lebih baik. Hal tersebut terlihat dari hasil penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat oleh Eli Ginzberg beserta timnya menemukan suatu hasil yang mencengangkan. Penelitian ini melibatkan 342 subjek penelitian yang merupakan lulusan dari disiplin ilmu. Para subjek penelitian ini adalah mahasiswa yang berhasil mendapatkan beasiswa dari Colombia University. Ginzberg dan timnya meneliti seberapa sukses 342 mahasiswa ini dalam hidup mereka, lima belas tahun setelah mereka menyelesaikan studi mereka. Hasil penelitian yang benar-benar mengejutkan para peneliti ini ialah :
     Mereka yang lulus dengan mendapat penghargaan (predikat memuaskan, cum laude atau summa cum laude), mereka yang mendapatkan penghargaan atas prestasi akademiknya, mereka yang berhasil masuk Phi Beta Kappa ternyata lebih cenderung, berprestasi biasa-biasa saja.
     Berdasarkan hasil penelitian tersebut, ternyata bahwa apa sebenarnya yang menjadi kunci untuk mewujudkan keberhasilan atau kehidupan yang lebih baik itu? Kuncinya adalah pengenalan potensi akan diri dan memiliki karakter kewirausahaan yang unggul. Dengan demikian, pengenalan potensi diri dan pembentukan karakter kewirausahaan sangat mendukung keberhasilan usaha baik usaha individu, kelompok, maupun pembangunan ekonomi secara keseluruhan.
    
Demikian pembahasan mengenai Perlukah Pendidikan Kewirausahaan Bagi Masyarakat. Semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian...

Labels:

Saturday, 11 July 2015

Pengangguran dan Kesempatan Kerja

      Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas mengenai Pengangguran dan Kesempatan Kerja. Pembahasan mengenai Pengangguran dan Kesempatan Kerja yaitu sebagai berikut :

   Masalah pengangguran dan kemiskinan masih merupakan masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang ini dan beberapa tahun ke depan. Tingkat pengangguran meloncat dari 6,08% (2000) menjadi 9,86 persen tahun 2004, dan terus naik menjadi 10,4% (2006). Baru mulai tahun 2007 terjadi sedikit penurunan. Jumlah penganggur turun dari 10,55 juta orang (9,7%) tahun 2007 menjadi 9,43 juta orang (8,5%) tahun 2008 dan menjadi 9,26 juta orang (8,1%) tahun 2009 dan terus menerus pada Agustus tahun 2012 menjadi 7,3 juta atau 6, 14% (BPS, SUKERNAS 2012). Demikian juga jumlah penduduk miskin sedikit menurun dari 37,2 juta orang (16,6%) tahun 2007 menjadi 35 juta orang (15,4%) tahun 2008, menjadi 32,5 juta orang (14,2%) dalam tahun 2009 dan pada tahun 2012 menurut BPS (September 2012) ada penurunan menjadi sebanyak 28,6 juta (11,7%). Di samping itu, angkatan kerja baru terus bertambah 2 juta s/d 3 juta orang setiap tahun.
     Selain angkatan kerja yang terus bertambah, krisis moneter yang melanda hampir seluruh dunia, berdampak keras terhadap perekonomian Indonesia. Banyak perusahaan yang bangkrut, para pekerja diberhentikan, jumlah penganggur bertambah secara drastis. Para pengusaha mengalami kemelut sejak akhir tahun 1990-an, yang masih terasa akibatnya seiring dengan krisis global akhir tahun 2008. Akibat krisis global ini terhadap penambahan pengangguran di Indonesia terjadi melalui beberapa jalur. Pertama, krisis global menurunkan daya beli negara maju yang mengakibatkan penurunan impor negara tersebut. Akibatnya, ekspor Indonesia ke negara maju tersebut menurun drastis. Perusahaan-perusahaan Indonesia yang berorientasi ekspor mengurangi pegawai atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
     Kedua, dunia usaha di negara maju kekurangan likuiditas sehingga mereka menarik sejumlah dana mereka dalam bentuk saham pasar modal dari Indonesia. Dana investasi di Indonesia akan berkurang dan berdampak pada penciutan kegiatan dunia usaha dan pengurangan pekerja atau PHK. Ketiga, daya beli masyarakat juga terus menurun mengakibatkan pasar menjadi lesu, dan selanjutnya dunia usaha terpaksa menurunkan produksi dan mengakibatkan PHK yang menambah jumlah barisan pengangguran.
     Keempat, sebagian TKI yang bekerja di luar negeri mengalami PHK dan kembali ke Indonesia, terutama dari negara yang perekonomiannya didominasi ekspor, yaitu Malaysia, Taiwan, dan Korea Selatan. Mereka juga membuat jumlah barisan pengangguran di Indonesia menjadi semakin meningkat.
      Mulai awal 2010 ini, Indonesia menghadapi tantangan yang sangat luar biasa akibat pemberlakuan pasar bebas ASEAN dan Cina yang membuka pintu Indonesia menjadi pemasaran barang produk negara anggota ASEAN dan Cina. Terutama barang produk Cina yang beberapa tahun terakhir ini sudah melanda pasar Indonesia, yang dengan kualitas lebih bagus dapat dijual sekitar 20% lebih rendah dari produk Indonesia. Ini akan membawa dampak besar terhadap penurunan produksi barang dan tambahan barisan pengangguran di Indonesia.
Pengangguran dan Kesempatan Kerja
Pengangguran dan Kesempatan Kerja
       Peningkatan jumlah penganggur tersebut sangat rentan terhadap stabilitas keamanan nasional:
  1. PHK dalam jumlah besar cenderung menimbulkan perselisihan dan gejolak hubungan industrial, bukan hanya dalam bentuk intensitas perundingan dan Pengadilan Hubungan Industrial akan tetapi juga dalam bentuk pemogokan, demonstrasi, dan perusakan.
  2. Pengembalian TKI dalam jumlah besar dari luar negeri dapat menimbulkan banyak masalah, mulai dari masalah penyediaan penampungan sementara di luar negeri, pengurusan hak-hak TKI, penyediaan transportasi, penampungan sementara di dalam negeri, pemulangan ke tempat asal, sampai masalah mencari pekerjaan mereka di tempat asal. Mereka yang tidak puas atas pelayanan pemerintah, dapat menimbulkan masalah sosial atau gangguan keamanan.
  3. Sebagian besar dari sekitar 10 juta penganggur yang ada sudah menganggur lebih dari dua tahun. Dengan tambahan jumlah penganggur dari yang kena PHK dan kembali dari luar negeri serta tambahan sekitar dua juta angkatan kerja baru, penganggur lama akan semakin frustasi karena merasa kesempatan mereka memperoleh pekerjaan menjadi semakin tipis. Mereka akan lebih mudah bertindak emosional sehingga dapat mengganggu keamanan umum.
      Dalam kondisi seperti itu, Pemerintah Kabinet Bersatu Jilid II masih merencanakan menurunkan tingkat pengangguran menjadi sekitar 5% dan tingkat kemiskinan menjadi sekitar 8% dalam tahun 2014. Pemerintah juga telah menargetkan pertumbuhan ekonomi 7% setiap tahun. Dengan mengandalkan pertumbuhan tersebut saja dikhawatirkan masalah pengangguran dan kemiskinan sulit diatasi dan sasaran pemerintah sulit diwujudkan. Oleh sebabk itu, mengatasi pengangguran dan kemiskinan di Indonesia untuk 5-10 tahun ke depan haruslah melalui penciptaan kesempatan kerja langsung dalam bentuk kerja mandiri, usaha keluarga, atau usaha kecil.
     Berdasarkan fenomena di atas, model Potesi Perluasan Kesempatan Kerja untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan perlu dikembangkan. Dengan dikembangkan pelbagai potensi perluasan kesempatan kerja, diharapkan skala dapat menciptakan lapangan kerja yang dapat menyerap tenaga kerja yang pada gilirannya dapat membantu guna menanggulangi kemiskinan.
     Akibat semakin banyaknya yang menganggur, semakin dirasakan pentingnya dunia wirausaha. Pembangunan akan lebih mantap jika ditunjang oleh wirausahawan karena kemampuan pemerintah sangat terbatas. Pemerintah tidak akan mampu menggarap semua aspek pembangunan karena sangat membutuhkan anggaran belanja, personalia, dan pengawasannya ( Buchari Alma, 2006). Oleh karena itu, wirausaha merupakan potensi pembangunan, baik dalam jumlah maupun dalam mutu wirausaha itu sendiri. Kita sekarang menghadapi kenyataan bahwa jumlah wirausaha Indonesia masih sedikit dna mutunya masih rendah, sehingga pembangunan wirausaha merupakan persoalan yang mendesak bagi suksesnya pembangunan.
 
Demikian pembahasan mengenai Pengangguran dan Kesempatan Kerja. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian...
 

Labels:

Perlukah Seorang Pemimpin Berjiwa Wirausaha?

    Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas mengenai Perlukah Seorang Pemimpin Berjiwa Wirausaha?. Pembahasan mengenai Perlukah Seorang Pemimpin Berjiwa Wirausaha? yaitu sebagai berikut :

     Untuk mencapai sukses di dalam penjualan hendaklah Anda selalu cenderung kepada gaya menjual: ingatlah, Anda selalu berusaha mencoba dan mencoba untuk menjadi master di dalam penjualan: akan tetapi, ingatlah pula, bahwa siasat Anda di dalam menjual hendaknya selalu luwes (flexible) tidaklah berarti Anda menggunakan sikap sekeras batu, selicin ular, ataupun bicara setajam pedang. Dengan demikian, dunia akan membuka suatu kesempatan yang besar bagi Anda sebagai wirausaha salesmanship. Sistem penekanan di dalam usaha (business) menimbulkan berbagai luka di hati manusia yang senantiasa mendambakan kedamaian dan harus disembuhkan. Hanya wirausaha salesmanship-lah yang mampu menyembuhkannya.
    Munculnya pemimpin-pemimpin yang baru serta beberapa aliran ke pemimpin yang modern sangat di dambakan pad setiap liku-liku kegiatan manusia rekonstruksi ini memerlukan suatu jangka waktu tertentu. Hal ini merupakan suatu kesempatan yang menggembirakan bagi master salesmanship yang telah sukses di dalam mewujudkan daya khayal (imajinasinya) melalui usaha-usaha serta sumbangan tenaga di dalam pelaksanaan kerjanya sehingga tercapailah tujuan yang menguntungkan umum khususnya.
    Tingkatan hak utama setiap individu telah selesai dibahas: sekarang, marilah kita bahas pengaruh hak utama setiap kelompok besar individu. Ingatlah selalu, apabila hendak memilih suatu motif sebagai pedoman di dalam usaha penjualan Anda, pertama-tama Anda harus mengutamakan pelayanan yangs sebaik-baiknya terhadap masyarakat/orang yang Anda temui, seperti yang dialami oleh seluruh warga negara Indonesia menanti penuh harapan munculnya seorang pemimpin, berjuta-juta orang bahkan mengalami ketakutan serta terombang-ambing kehidupannya.
    Kasus ini merupakan suatu tantangan bagi para pria dan wanita yang berambisi serta bersedia menyesuaikan dirinya terhadap penunjukan pemimpin yang baru yang diperkuat oleh keberanian serta dedikasi/loyalitas pelayanan mereka. Pukulan-pukulan yang kuat terhadap kecakapan menjual serta daya tarik yang telah banyak kami peroleh kini hanyalah merupakan suatu sejarah dan kenangan masa lampau. Kepada "mereka yang berhasil" sudah selayaknya mendirikan suatu monumen kebangsaan sebagai imbalan jasa untuk diserahkan kepada "mereka yang memimpin" di dalam mencapai keberhasilan untuk setiap langkah yang dialaminya. Pemimpin yang berhasil di masa mendatang, baik di dalam bidang penjualan pada organisasi bisnis maupun nonbisnis yang bersifat sebagai pelayan publik, atau liku-liku kehidupan lainnya, hendaklah dapat menyusun suatu peraturan berdasarkan pengalamannya yang berharga sebagai pedoman atau dasar kepemimpinan yang berhasil. Masalah pokok yang mungkin muncul di masa mendatang ialah: berapa banyak kapasitas pelayanan yang telah harus diberikan kepada setiap individu? Bukan, berapa kali berhasil meloloskan diri serta masuk penjara?
Perlukah Seorang Pemimpin Berjiwa Wirausaha?
Perlukah Seorang Pemimpin Berjiwa Wirausaha?
    Suatu pembaruan kembali daripada situasi ekonomi telah muncul serta melanda seluruh dunia: setiap manusia yang tidak mampu memahaminya, berarti dia mengalami suatu kebutaan mental: aturan-aturan bisnis dan industri yang kuno disapu bersih dan meunculnya aturan baru secara pesat serta berhasil menggantikan kedudukannya. Kebijaksanaan yang dicetuskan seorang pemimpin di luar rencana merupakan suatu daya pendorong (motivasi) yang baik di mana pemimpin melihat situasi serta memahaminya untuk mengadakan perubahan di samping memahaminya untuk mengadakan perubahan-perubahan di samping menyesuaikan dirinya secara harmonis tanpa suatu paksaan dari siapa pun.
    Kita sampai kepada suatu daerah, di mana kita dapat menyaksikan semangat perjuangan Thomas Jefferson, Benyamin Franklin, Geroge Shington, dan Abraham Lincoln dalam bidang politik dan pula semangat Marshall Field John Wanamaker yang berkembang menjadi perampok, menahan semua bentuk penindasan terhadap dirinya yang timbul akibat kekikiran serta ketamakan manusia yang lebih kuat. Rasa balas dendam ini tidaklah abadi. Dia akan hapus dan berhenti membalasnya. Dia hanya berlangsung menurut suatu waktu tertentu.
   Seperti halnya di Amerika hingga saat ini tidak akan menyaksikan lagi berjuta-juta bangsanya bergelut kelaparan di tengah-tengah situasi antara kebutuhan di satu pihak dan kemewahan hidup di lain pihak. Kita tidak termasuk ke dalam kelompok pengisap (pengekploitir) manusia atas manusia dan kita tidak dipaksa untuk menyerahkan hak-hak kita melalui jalur yang kita tempuh.
    Perkataan ini mungkin dapat membantu memberikan suatu ilham (inspirasi) terhadap kepemimpinan dalam suatu organisasi, baik organisasi bisnis maupun organisasi nonbisnis seperti pelayanan publik atau cara lain dalam kehidupan. Manusia-manusia yang memapu menciptakan daya khayal (imajinasinya), tidak akan menunggu waktu lagi untuk membuktikan daya kemampuannya. Mereka mampu mengubah situasi dan menyesuaikan dirinya  terhadap kondisi-kondisi baru yang dihadapinya.
     Perubahan ekonomi secara besar-besaran terjadi, seiring dengan penyesuaian di segala bidang kegiatan manusia yang menitikberatkan kepada kebutuhan primer manusia untuk menemukan dasar-dasar pengertian ke arah kemajuan. Semenjak manusia mempelajari efisiensi bentuk kecakapan menjual secara merata serta masing-masing dirinya ke dalam masalah-masalah yang relevan dengan bidang sosial dan komersial sudah sepantasnya apabila pengertian-pengertian dasar ini diusulkan untuk dapat digunakan secara praktis.

Demikian pembahasan mengenai Perlukah Seorang Pemimpin Berjiwa Wirausaha?. Semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian...

Labels:

Profil Wirausaha Salesmanship

    Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas mengenai Profil Wirausaha Salesmanship. Pembahasan mengenai Profil Wirausaha Salesmanship, yaitu sebagai berikut :

     Ini adalah contoh dari salesmanship  yang memiliki jiwa wirausaha, yaitu orang-orang yang menjual hal-hal yang nyata. Beberapa bentuk usaha lain bagaimana seseorang membujuk orang lain untuk bekerja sama, adalah juga salesmanship adalah lemah yang menyebabkan kebanyakan dari salesman miskin, dalam artian karena keterbatasan wawasan dan pengetahuan serta kerelasiannya atau network yang relatif terbatas.
     Apabila orang mencapai taraf kehidupan yang tinggi, ini adalah karena dia telah memperoleh atau telah didorong oleh kemampuan menjual ide (wirausaha salesmanship). Sekolah, tingkat kejujuran, intelektual, kecerdasan adalah tak berguna bagi orang yang kurang kemampuan dalam menarik kerja sama usaha dengan orang lain. Demikian pula untuk menciptakan kesempatan bagi dirinya. Mutu pribadi unggul ini menolong orang untuk membuat kesempatan yang besar, karena suatu waktu ia akan mendapatkannya. Tetapi dia pertama-tama harus berhubungan atau menciptakan kesempatan kerja. Mungkin, dengan hukum kesempatan rata-rata seseorang akan tampil dari setiap 100.000 orang, di samping itu ia harus menciptakan kesempatan. Selain itu, salesmanship adalah penting di dalam menciptakan dan mengembangkan lapangan kerjaan.
    Salesmanship di dalam tulisan ini tidak digunakan hanya kepada pemasaran barang-barang dan jasa. Anda dapat menjual ide yang melekat pada pribadi Anda, "you can sell your personality." Anda harus melakukan ini. Sebenarnya tujuan utama dari tulisan ini, mendidik lelaki dan wanita bagaimana cara mereka menjual ide supaya hidup berhasil menggunakan siasat menjual dan wirausaha salesmanship menggunakan ilmu jiwa dalam menjual ide jasa dan barang. 
     Herbert Hoover waktu mudanya mengalami hambatan dengan kehilangan orang tuanya. Berjuta-juta anak yatim lain telah hidup dan mati tanpa sempat membuat dirinya terkenal di luar mayarakat setempat dalam kehidupannya. Berlainan dengan kisah Mr. Hoover yang memiliki ide untuk memberi kesempatan padanya mengembangkan layar-layarnya menuju Gedung Putih dan menunggangi badai hari depan untuk mencapai tujuan yang tinggi. Dia menemukan bagaimana cara menjual idenya untuk mencapai kehidupan yang berhasil. Tulisan ini mendidik orang lain dalam hal yang sama.
Profil Wirausaha Salesmanship
Profil Wirausaha Salesmanship
      Jean Beltran memberi lima definisi terhadap salesmanship (kecakapan menjual) sebagai berikut:
  1. Menjual merupakan suatu kemampuan yang sekaligus menunjukkan loyalitas saudara, kualitas barang yang dijual atau peranan saudara di dalam pendekatan kepada seseorang atau orang lain sehingga dapat membentuk satu titik keputusan untuk menetapkan hak utama sebagai individu dalam penetapan kesempatan miliki atau minat.
  2. Menjual merupakan suatu kemampuan profesional yang bersifat umum di dalam tugas-tugas memberikan pelayanan, pertolongan atau bantuan dan bekerja sama untuk membentuk suatu keputusan yang konkret yang sekaligus merupakan manfaat bagi masyarakat.
  3. Menjual merupakan suatu kemampuan di dalam pelaksanaan kerja, tugas-tugas, dan kewajiban buruh yang dapat memberikan suatu titik keputusan terhadap majikan di dalam meningkatkan imbalan jasa kepada para karyawan.
  4. Menjual merupakan suatu kemampuan yang mempunyai segi penampilan kejujuran, keramahan, persesuaian, serta pertimbangan mencapai suatu titik keputusan terhadap hal-hal yang Anda senangi serta berharga bagimu.
  5. Menjual merupakan suatu kemampuan dalam segi menulis, mendesain, menemukan, menciptakan, menyusun serta membentuk suatu keinginan atau hasrat sebagian masyarakat untuk hal miliknya sebagai pahlawan, kemasyhuran atau sebagai orang besar.
     Definisi-definisi tersebut mempunyai arti yang sangat luas. Mereka mungkin dengan mudah dapat mencakup bermacam-macam kegiata manusia. Setiap kehidupan, di satu pihak berlangsung panjang dan merupakan suatu mata rantai daripada usaha-usaha pelayanan yang tidak terputuskan.
     Katakanlah salesman, sebagai seorang bayi yang baru lahir. Apabila ia menginginkan makan, ia akan berteriak dan menangis untuk mendapatkannya. Demikian pula bila ia merasa sakit, ia akan berteriak memohon perhatian untuk menghilangkan rasa sakitnya.
    Wanita merupakan kelompok penual yang terbesar dan berperan di bumi ini. Mereka kebanyakan lebih unggul daripada pria, karena kenyataan mereka lebih lemah lembut dan lebih mudah menggunakan siasatnya. Selanjutnya, kaum pria kerap kali beranggapan bahwa pada umumnya mereka mempertaruhkan dirinya kepada wanita untuk menyampaikan hasratnya di dalam membina jenjang pernikahan. Bagaimanapun juga pada umumnya wanitalah yang lebih baik melaksanakan tugas penjualan, karena dia mampu melaksanakan tugasnya dengan seluruh daya tarik serta daya pikatnya yang menawan.
     Sementar kita sedikit demi sedikit mempelajari definisi-definisi Mr. Beltrand, kami ingin mengajak Anda untuk memerhatikan salah satu definisi lainnya menurut pendapat beliau: "Menjual, merupakan suatu seni menanam benih di hati pembeli, yang membuahkan beraneka ragam daya penggerak (motivasi) serta tindakan yang diberikan oleh pembeli."
      Pemimpin mempunyai presentasi yang tinggi untuk menjadi seorang pemimpin karena memiliki jiwa wirausaha salesmanship, dengan  kemampuannya di dalam mengadakan pendekatan dengan orang lain serta bertindak berdasarkan daya penggerak (motivasi) tanpa menimbulkan pertentangan atau perselisihan. Hanya ada sedikit masalah persaingan antarkepala/pemimpin salesman,  karena kapasitas personel mereka sangatlah sedikit. Para pemimpin salesmanship memahami, apa yang mereka mau. Mereka memahami pula, bagaimana merencanakan kebijaksanaan untuk memperoleh apa yang mereka kehendaki. Selanjutnya, mereka mengembangkan inisiatif untuk bertindak serta melaksanakan rencana mereka.
    Usaha penjualan mempunyai dua macam bentuk :
    Pertama, bentuk salesman  yang berhasil membina perundingan atau berhubungan dengan sekelompok individu.
    Kedua,  ini kemudian dikenal secara umum sebagai grup menjual atau penghubung penjual kepada masyarakat. Pendidikan yang diperoleh oleh seorang pemimpin salesman belum dapat dikatakan sempurna, andaikata tidak berhasil menggerakan minat sekelompok masyarakat/orang atau memengaruhi setiap individu.
    Kemampuan cara berbicara atau penyampaian kata kepada kelompok-kelompok yang dilakukan secara terpaksa hanyalah merupakan suatu kenyataan usaha yang sia-sia belaka. Kemampuan ini, menunjukkan suatu bukti bahwa dia pada suatu waktu akan dapat mencapai suatu kesempatan yang lebih besar serta menguntungkan bagi dirinya. Kemampuan semacam ini harus diperoleh melalui studi, usaha-usaha dan pengalaman.
     Di bawah ini kami cantumkan beberapa pengalaman yang unik :
  • William Jennings Bryan, berhasil mengangkat dirinya dari lembah kegelapan menuju posisi yang terkemuka di mata bangsanya melalui pidatonya "cross of gold" yang terkenal selama masa kegiatan demokrasi.
  • Robert Ingersoll, mengubah aliran teologi melalui seni kepandaian bicaranya untuk memperkuat kelompok salesmanship. Pemimpin salesman harus mampu memengaruhi masyarakat melalui usaha periklanan atau pendekatan secara kontinu melalui pembicaraan-pembicaraannya.
  • Patrick Henry, terkenal melalui pidatonya "give liberty or give me death" (berilah aku kebebasan atau biarkanlah aku mati) pada saat revolusi Amerika meledak. Tanpa melalui pidatonya ini, mungkin pula namanya tidak akan pernah dikenal orang.
  • Elbert Hubbard, berhasil menanamkan namanya di hati manusia melalui tulisan penanya.
  • Elbert Hubbard, berhasil menanamkan namanya di hati manusia melalui tulisan penanya.
  • Thomas Paine, berhasil menggerakkan ilham orang-orang di dalam menanggapi revolusi Amerika melalui tulisan penanya.
  • Benyamin Franklin, mengabdikan dirinya serta meninggalkan rekamannya yang kuno demi kemajuan peradaban bangsanya. Di dalam tulisannya secara kuat dan menekankan, beliau membahas pengertian masalah kecakapan menjual secara terperinci sederhana dan wajar.
  • Abraham Lincoln, mengabdikan dirinya melalui pidatonya di Get tysburg sebuah pidato yang bertema sederhana dengan susunan kata-kata yang murni serta berhasil mengarahkan ilham bagi seseorang.
  • Caesar, Alexander, Napoleon, ex-Kaisar Wilhem Jerman dan beratus-ratus orang terkenal lainnya, mereka merupakan pemimpin salesman. Akan tetapi, kehadiran mereka menanamkan motivasi yang bersifat merusak peradaban manusia. Mereka mengorbankan semangat perang-perang di mana manusia harus membayarnya sekaligus dengan cucuran darah, air mata, dan penderitaan.
   Demikian pembahasan mengenai Profil Wirausaha Salesmanship. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian...

Labels:

Friday, 10 July 2015

Jiwa Wirausaha Terdapat Pada Setiap Insan

     Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas Jiwa Wirausaha Terdapat Pada Setiap Insan. Pembahasan Jiwa Wirausaha Terdapat Pada Setiap Insan yaitu sebagai berikut:
 
    Kehidupan adalah rentetan dari perubahan keadaa, pertukaran angkatan, dan pengalaman-pengalaman. Tidak ada dua orang yang sama dan tidak ada dua pengalaman yang sama. Dari hari ke hari kita meneropong aneka warna kehidupan yang berubah-ubah dengan cepat. Hal inilah yang membuat penting bagi kita untuk menyesuaikan diri dengan orang lain, yang mempunyai alam perasaan dan cara bertindak yang berbeda dengan kita. Kesuksesan tergantung sebagian besar kepada bagaimana kita dengan baik merundingkan cara kita melalui hubungan sehari-hari dengan orang lain tanpa perselisihan dan pertentangan. Orang yang pandai berunding demikian adalah orang yang mengerti seni menjual atau mampu memengaruhi orang lain. Tanpa disadari kita semua adalah penjual, tetapi tak semua dari kita adalah memiliki jiwa wirausaha salesmanship.
  • Politikus harus menjual caranya ke partai, bila ia tetap dalam partainya dia harus berusaha memengaruhi para pengikutnya.
  • Penerimaan gaji harus menjual tenaga kepada pekerjaan salesmanship dengan caranya harus menjaga posisinya setelah tercapai sesuatu.
  • Bila orang mencari pinjaman dari bank dia harus meyakinkan banker pada rencana penggunaan tersebut, sehingga tergambar jelas bahwa ia dapat melunasi utangnya.
  • Ahli hukum harus menjual ide keadilan yang menguntungkan terdakwa untu kasus langganannya, di depan hakim dan juri, bahkan bila dia tahu kasusnya itu merupakan faedah kecil.
  • Bila seorang lelaki mau kawin dia harus menjual dirinya kepada wanita pilihannya. Untuk tujuan itu sebagai halangan kerap kali wanita jual mahal. Setiap orang akan mengakui pernyataan ini.
  • Setiap hari pekerja harus menjual caranya kepada majikan walaupun bentuk daripada salesmanship ini tidaklah sesukar yang harus dikerjakan oleh orang yang menjual caranya dalam suatu pekerjaan seharga $5.000 setahun.
    Jiwa Wirausaha Terdapat Pada Setiap Insan
    Jiwa Wirausaha Terdapat Pada Setiap Insan
Demikian pembahasan mengenai Jiwa Wirausaha Terdapat Pada Setiap Insan, semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian...


Labels:

Thursday, 9 July 2015

Makna Kewirausahaan Dalam Menggapai Keberhasilan

     Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas mengenai Makna Kewirausahaan Dalam Menggapai Keberhasilan. Pembahasan mengenai Makna Kewirausahaan Dalam Menggapai Keberhasilan yaitu sebagai berikut :

     Pada hakikatnya setiap insan telah tertanam jiwa wirausaha yang berarti memiliki kreativitas dan mempunyai tujuan tertentu, serta berusaha untuk mencapai keberhasilan dalam hidupnya. Namun seringkali kita jumpai bahwa daya ciptanya kurang terealisasi, kalaupun terealisasikan tetapi kurang mampu untuk menjualnya atau kurang mampu menumbuhkan daya tarik bagi masyarakat luas, bahkan tujuan yang ingin dicapainya lebih mengarah kepada sesuatu yang bersifat negatif, sehingga sering menimbulkan suasana yang kurang kondusif. Hanya sebagian kecil dari sejumlah umat yang mampu merealisasikan dan menjualnya serta memiliki daya tarik dengan tujuan yang bersifat positif.
Kewirausahaan
Kewirausahaan
Bila dikaji lebih lanjut, sebenarnya mereka yang telah mampu dan terealisasi daya ciptanya dapat dikatakan sebagai seorang wirausaha Salesmanship dan dapat juga diselaraskan dengan seorang seniman yang bisa melukiskan kata-kata dalam hati manusia dengan kemahiran seperti pelukis Rambrant yang memadukan warna-warna lewat kanvasnya. Demikian pula seorang seniman yang dapat memainkan simponi dalam hati manusia seperti pianist Paderewski memainkan tuts piano. Bila dikaitkan dengan suasana berperang melawan musuh maka dia adalah pengatur siasat dengan pikiran yang cerdik dalam menyusun rencana, dia dapat memenangkan (mengetuk) pikiran manusia seperti panglima perang Foch yang memimpin tentara gabungan pads Perang Dunia Pertama. Demikian pula hubungannya dengan ilmu pengetahuan, dia dapat menjadi seorang ahli falsafah yang bisa menafsirkan sebab-sebab dengan suatu akibat dan akibat dari suatu sebab, maupun menganalisis watak dan mengenal manusia seperti Einsten memahami matematika tinggi. Dia mengetahui apa yang ada dalam pikiran manusia dari pernyataan  (ekspresi) wajahnya, dari kata-kata yang diucapkan dari keheningannya, dari perasaan yang dihayatinya dari dalam, sampai kepada kehadirannya, kemudian pencipta kisah masa depan ("future teller"), sehingga dapat meramalkan masa yang akan datang dengan mengamati kejadian yang telah lalu serta mengendalikan orang lain karena mampu menguasai dirinya. Tanda keahlian dalam menjual ide akan diuraikan dalam tulisan ini. Juga maksud dan mutu sepanjang diperlukan. Maksud dari tulisan ini adalah memungkinkan pembaca menjabarkan keahlian dalam seni membujuk (the art of persuasion).

Demikian pembahasan mengenai Makna Kewirausahaan Dalam Menggapai Keberhasilan. Semoga memberikan manfaat bagi pemabaca sekalian...

Labels: