Sunday, 27 September 2015

Pengaruh Modal Sendiri terhadap Sisa Hasil Usaha pada KPRI UNM

BAB I

PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang

      Perekonomian Indonesia disokong oleh tiga pilar pelaku ekonomi yaitu swasta, koperasi, dan badan usaha milik Negara. Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan usaha koperasi, dengan pemisahan kekayaan anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama dibidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip koperasi. Koperasi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Tugas koperasi adalah melayani kepentingan anggotanya, yaitu dengan menyediakan fasilitas-fasilitas pelayanan yang dibutuhkan anggota. Konsep ini memberikan sinyal bahwa ukuran koperasi yang sukses harus dilihat dari sejauh mana anggotanya mengalami peningkatan ekonomi atau usaha berkat kerjasama dengan koperasi
    Koperasi merupakan salah satu badan usaha yang dapat mendorong perekonomian nasional sekaligus sebagai soko guru dalam perekonomian di suatu Negara khususnya Negara Indonesia. Menurut UU No. 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian BAB I Pasal 1 Koperasi adalah “Badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas azas kekeluargaan”.
    Dewasa ini, koperasi telah memiliki berbagai aktivitas dan bidang usaha serta produk yang berbeda. Mulai dari koperasi yang menjual jasa sebagai sumber penghasilan (koperasi simpan pinjam), koperasi yang membeli bahan baku, memprosesnya menjadi barang jadi, dan menjualnya kepada konsumen. Apapun jenis aktivitas koperasi, untuk bisa hidup dan tetap bertahan dalam jangka panjang setiap koperasi harus memiliki produk yang dibutuhkan masyarakat dan anggotanya.
Tujuan utama dalam koperasi tidak berorientasi dalam mengejar keuntungan semata melainkan berorientasi pada manfaat. Karena tujuan utama koperasi didirikan yaitu menyejahterakan anggotanya dan masyarakat pada umumnya. Meskipun dalam koperasi tidak mementingkan keuntungan, tetapi usaha-usaha yang dijalankan koperasi harus tetap mendapatkan penghasilan yang layak dalam mempertahankan kelangsungan hidup dan meningkatkan kemampuan usaha. Sehingga pada akhir periode atau dalam waktu satu tahun buku, usahanya diharapkan dan ditargetkan menghasilkan Sisa Hasil Usaha.
     Keuntungan atau pendapatan dalam koperasi disebut dengan Sisa Hasil usaha. Berdasarkan UU No. 25 Tahun 1992 Pasal 45 Ayat 1 “ Sisa Hasil Usaha merupakan pendapatan koperasi yang diperoleh dalam waktu satu tahun buku dikurangi dengan biaya, penyusutan, dan kewajiban lainnya termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan”. Sisa hasil usaha bukan hanya membuat koperasi berkembang, tetapi sisa hasil usaha dapat meningkatkan kesejahteraan anggotanya, walaupun kesejahteraan anggota tidak hanya bersumber dari sisa hasil usaha, tetapi dapat berupa tingkat bunga yang rendah, pelayanan yang baik dan kesejahteraan sosial yang diperoleh anggota koperasi. Dalam meningkatkan perolehan SHU sangat bergantung dari besarnya modal yang berhasil dihimpun oleh koperasi untuk menjalankan usahanya.
     Modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal sendiri dapat berasal dari simpanan pokok, simpanan wajib, dana cadangan dan hibah. Sedangkan modal pinjaman dapat berasal dari anggota koperasi lainnya dan atau anggotanya, bank dan lembaga keuangan lainnya, penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya, serta sumber lainnya yang sah (UU No. 25 tahun 1992 Pasal 14)
     Sehubungan dengan hal di atas, maka penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Modal Sendiri terhadap Sisa Hasil Usaha pada KPRI Universitas Negeri Makassar”.

B.  Rumusan Masalah

     Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “bagaimana pengaruh modal sendiri terhadap sisa hasil usaha KPRI Universitas Negeri Makassar dari tahun 2011-2015?”.
Koperasi
Koperasi

C.  Tujuan Penelitian

     Sehubungan dengan permasalahan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh modal sendiri terhadap sisa hasil usaha KPRI Universitas Negeri Makassar dari tahun 2011-2015.

D.  Manfaat Penelitian

       Manfaat dalam penelitian ini yaitu :
1.    Manfaat teoritis
a. Sebagai sarana pengembangan diri dalam ilmu pengetahuan serta bagaimana membuktikan apa   yang didapatkan di bangku kuliah dengan realitas di lapangan.
b. Sebagai bahan bacaan dan referensi untuk memperkaya khasanah kepustakaan serta member sumbangan metodologi terutama bagi pihak-pihak yang akan mengadakan penelitian lanjutan.
2.    Manfaat Praktis
      Sebagai bahan pertimbangan bagi pihak manajemen KPRI Universitas Negeri Makassar dalam rangka pengambilan kebijakan guna meningkatkan usahanya.






   

Labels:

Sumber Daya Alam

    Sumber Daya Alam (SDA) merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki suatu Negara, termasuk di Indonesia. Sumber Daya Alam yang dimiliki oleh Indonesia sangat melimpah. Tahukah kalian apa itu Sumber Daya Alam? Pembahasan mengenai Sumber Daya Alam yaitu sebagai berikut.

     Sumber daya alam seperti air, udara, lahan, minyak, ikan, hutan, dan lain-lain merupakan sumber daya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Hilangnya atau berkurangnya ketersediaan sumber daya  alam akan berdampak sangat besar bagi kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi ini. Tanpa udara dan air misalnya, manusia tidak dapat hidup. Demikian pula, sumber daya alamyang lain seperti hutan, ikan, dan lain sebagainya merupakan sumber daya yang tidak saja mencukupi kebutuhan hidup manusia, namun juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kesejahteraan suatu bangsa (wealth of nation). Pengelolaan sumber daya alam yang baik akan meningkatkan kesejahteraan umat manusia, dan sebaliknya pengelolaan sumber daya alam yang tidak baik akan berdampak buruk bagi umat manusia. Oleh karena itu, persoalan mendasar sehubungan dengan pengelolaan sumber daya alam adalah bagaimana mengelola sumber daya alam tersebut.

Definisi Sumber Daya

   Ilmu ekonomi secara konvensional sering didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana manusia mengalokasikan sumber daya yang langka. Dengan demikian, ilmu ekonomi sumber daya alam dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari pengalokasian sumber daya alam seperti air, lahan, ikan, hutan. Secara eksplisit ilmu ini mencari jawaban seberapa besar sumber daya harus diekstraksi sehingga menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Untuk memahami konsep di atas secara lebih mendalam, terlebih dahulu kita bahas apa yang dimaksud dengan sumber daya alam "resources" itu sendiri.
   Dalam literatur ekonomi sumber daya, pengertian atau konsep sumber daya alam didefiniskan cukup beragam. Ensiklopedia Webster, misalnya mendefinisikan sumber daya antara lain sebagai berikut.
a. Kemampuan untuk memenuhi atau menangani sesuatu
b. Sumber persediaan, penunjang  atau bantuan.
c. Sarana yang dihasilkan oleh kemampuan atau pemikiran seseorang.
   Dalam pengertian umum, sumber daya didefinisikan sebagai suatu yang dipandang memiliki nilai ekonomi. Dapat juga dikatakan bahwa sumber daya adalah komponen dari ekosistem yang menyediakan barang dan jasa yang bermanfaat bagi kebutuhan manusia. Grima dan Berkes (1989) mendefinisikan sumber daya sebagai aset untuk pemenuhan kepuasan dan utilitas manusia. Rees (1990) lebih jauh mengatakan bahwa sesuatu untuk dapat dikatakan sebagai sumber daya harus memiliki dua kriteria, yakni:
a. Harus ada pengetahuan, teknologi, atau keterampilan (skill) untuk memanfaatkannya.
b. Harus ada permintaan (demand) terhadap sumber daya tersebut.
  Kalau kedua kriteria tersebut tidak  dimiliki, maka sesuatu itu kita sebut barang netral. Jadi, tambang emas yang terkandung di dalam bumi misalnya, juka kita belum memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkannya dan tidak ada demand untuk komoditas tersebut, tambang emas tersebut masih dalam kriteria barang netral. Namun, pada saat permintaan ada dan teknologi tersedia, ia menjadi sumber daya alam (resources). Dengan demikian dalam pengertian ini definisi sumber daya terkait dengan kegunaan (usefulness), baik untuk masa kini maupun mendatang bagi umat manusia. Selain dua kriteria di atas, definisi sumber daya juga terkait pada dua aspek, yakni aspek teknis yang memungkinka bagaimana sumber daya dimanfaatkan, dan aspek kelembagaan yang menentukan siapa yang mengendalikan sumber daya dan bagaimana teknologi digunakan. Aktivitas ekstraksi sumber  daya ikan, misalnya, melibatkan aspek teknis menyangkut alat tangkap, tennaga kerja, dan kapal, serta aspek kelembagaan yang menentukan pengaturan siapa saja yang boleh menangkap ikan. Jika misalnya, aspek kelembagaan ini tidak berfungsi baik, sumber daya ikan akan terkuras habis tanpa memberi manfaat yang berarti bagi manusia.
   Pengertian Sumber daya sendiri dalam ilmu ekonomi sudah dikenal sejak beberapa abad lalu. Ketika Adam Smith, bapak ilmu ekonomi menerbitkan buku "Wealth of Nation" nya pada tahun 1776, konsep sumber daya sudah digunakan dalam kaitannya dengan proses produksi. Dalam pandangan Adam Smith, sumber daya diartikan sebagai seluruh faktor produksi yang diperlukan untuk menghasilkan output. Dalam pengertian ini sumber daya merupakan komponen yang diperlukan untuk aktivitas ekonomi. 
    Dalam konsep ekonomi klasik ini, sumber daya diidentikkan dengan input produksi. Penyetaraan ini tentu saja memiliki keterbatasan karena "sumber daya" diartikan secara terbatas dalam peranannya untuk menghasilkan utilitas (kepuasan) melalui proses produksi. Dengan kata lain, sumber daya diperlukan bukan karena dirinya sendiri, melainkan diperlukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Padahal, sumber daya bisa juga menghasilkan utilitas tanpa melalui proses produksi. Lahan yang memiliki panorama indah, misalnya, bisa saja tidak dijadikan faktor produksi, namun memberikan utilitas (kepuasan) berupa pemandangan (scenery) yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Dengan demikian sumber daya tidak hanya menyangkut nilai yang dikonsumsi, namun juga menyangkut nilai yang tidak dikonsumsi secara langsung.
   Pengertian sumber daya pada dasarnya mencakup aspek yang jauh lebih luas. Dalam literatur sering dinyatakan bahwa sumber daya memiliki nilai "intrinsic". Nilai intrinsic adalah nilai yang terkandung dalam sumber daya, terlepas apakah sumber daya tersebut dikonsumsi atau tidak, atau lebih ekstrem lagi, terlepas dari apakah manusia ada atau tidak. Dalam ilmu ekonomi konvensional, nilai intrinsic ini sering diabaikan sehingga menggunakan alat ekonomi konvensional semata untuk memahami pengelolaan sumber daya alam sering tidak mengenai sasaran yang tepat.
   Dalam buku ini, pengertian sumber daya akan kita batasi pada sumber daya alam. Dengan pembatasan, maka sumber daya alam dapat kita artikan sebagai segala sumber daya hayati dan non hayati yang dimanfaatkan umat manusia sebagai sumber pangan, bahan baku dan enerji. DEngan kata lain, sumber daya alam adalah faktor produksi dari alam yang digunakan untuk menyediakan barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi. 

Pandangan Terhadap Sumber Daya Alam

   Dalam memahami sumber daya alam, ada dua pandangan yang umumnya digunakan. Pertama adalah Pandangan Konservatif atau dalam kelompok sumber daya alam yang tidak tergantung pada proses biologi. Namun, perlu pula dicatat bahwa meskipun ada sumber daya yang bisa melakukan proses regenerasi, jika titik krisis kapasitas maksimum regenerasinya sudah dilewati, sumber daya ini akan berubah menjadi sumber daya yang tidak dapat diperbarui.
    Pengelompokan jenis sumber daya seperti yang dipaparkan di atas adalah pengelompokan berdasarkan skala waktu pembentukan sumber daya itu sendiri. Sumber daya alam dapat juga diklasifikasikan menurut jenis penggunaan akhir dari sumber daya material dan sumber daya energi. Sumber daya material merupakan sumber daya yang dimanfaatkan sebagai bagian dari suatu komoditas. Bijih besi, misalnya  di proses menjadi besi yang kemudian dijadikan bagian atau komponen mobil. Aluminium dapat digunakan untuk keperluan peralatan peralatan rumah tangga dan sejenisnya. Sumber daya material ini dapat dibagi lagi menjadi material metalik seperti contoh di atas dan material  non metalik seperti tanah dan pasir.
   Sumber daya energi di sisi lain merupakan sumber daya yang digunakan untuk kebutuhan menggerakkan energi melalui proses transformasi panas maupun transformasi energi lainnya. Beberapa sumber daya dapat dikategorikan ke dalam keduanya. Sumber daya minyak, misalnya dapat dimanfaatkan untuk energi pembakaran kendaraan bermotor atau dapat juga digunakan untuk bahan baku plastik. 

Pengukuran Ketersediaan Sumber Daya Alam

   Ketika sumber daya alam sudah terdefinisikan dan diketahui, pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana mengukur ketersediaan sumber daya tersebut. Berbagai upaya dilakukan untuk mencoba nebgukur ketersediaan sumber daya, sehingga banyak konsep pengukuran sumber daya yang kadang sering membingungkan. Dalam buku ini, pengukuran sumber daya kita sederhanakan dari konsep Rees (1990) yang membaginya ke dalam beberapa komponen. Pertama, untuk kelompok sumber daya stok (tidak terbarukan), beberapa konsep pengukuran ketersediaan yang digunakan antara lain :
  1. Sumber daya hipotetikal. Adalah konsep pengukuran defosit yang belum diketahui namun diharapkan ditemukan pada masa mendatang berdasarkan survei yang dilakukan saat ini. Pengukuran sumber daya ini biasanya dilakukan dengan mengekstrapolasi laju pertumbuhan produksi dan cadangan terbukti pada periode sebelumnya. 
  2. Sumber daya spekulatif. Konsep pengukuran ini digunakan untuk mengukur defosit yang mungkin ditemukan pada daerah yang sedikit atau belum dieksplorasi, di mana kondisi geologi memungkinkan ditemukannya defosit. 
  3. Cadangan kondisional (conditional reserves). Adalah defosit yang sudah diketahui atau ditemukan namun dengan kondisi harga output dan teknologi yang ada saat ini belum bisa dimanfaatkan secara ekonomis. 
  4. Cadangan terbukti (proven resources). Adalah sumber daya alam yang sudah diketahu dan secara ekonomis dapat dimanfaatkan dengan teknologi, harga, dan permintaan yang ada saat ini.
    Untuk jenis dumber daya dapat diperbarui (flow) ada beberapa konsep pengukuran ketersediaan yang sering digunakan. Pengukuran tersebut antara lan:
1. Potensi Maksimum Sumber Daya
    Konsep ini didasarkan pada pemahaman untuk mengetahui potensi atau kapasitas sumber daya guna menghasilkan barang dan jasa dalam jangka waktu tertentu. Pengukuran ini biasanya didasarkan  pada perkiraan-perkiraan ilmiah atau teoretis. Misalnya, diperkirakan bahwa bumi mempunyai kapasitas untuk memproduksi sekitar 40 ton pangan per orang per tahun (Rees, 1990). Pengukuran potensial maksimum lebih didasarkan pada kemampuan biofisik alam tanpa mempertimbangkan kendala sosial ekonomi yang ada.
2. Kapasitas Lestari (Sustainable Capacity/Sustainable Yield)
   Kapasitas lestari atau produksi lestari (sustainable yield) adalah konsep pengukuran keberlanjutan di mana ketersediaan sumber daya diukur berdasarkan kemampuannya untuk menyediakan kebutuhan bagi generasi kini dan juga generasi mendatang. Berkaitan dengan sumber daya ikan misalnya, konsep ini sering dikenal sebagai sustainable yield, di mana secara teoretis, alokasi produksi dapat dilakukan sepanjang waktu jika tingkat eksploitasi dikendalikan. Demikian juga pada sumber daya air, produksi lestari (sustainable yield) secara teoretis bisa dicapai jika laju pengambilan (pumping rate) tidak melebihi rata-rata penurunan debit air tahunan.
3. Kapasitas Penyerapan (Absorptive Capacity)
   Kapasitas penyerapan atau kapasitas asimilasi adalah kemampuan sumber daya alam dapat pulih (misalnya air, udara) untuk menyerap limbah akibat aktivitas manusia. Kapasitas ini bervariasi akibat faktor eksternal seperti cuaca dan intervensi manusia.
4. Kapasitas Daya Dukung (Carrying Capacity)
  Pengukuran kapasitas ini didasarkan pada pemikiran bahwa lingkungan memiliki kapasitas maksimum untuk mendukung suatu pertumbuhan organisme. Misalnya, ikan di kolam tumbuh secara positif jika daya dukung lingkungan masih lebi besar. Namun, pertumbuhan yang terus-menerus akan menimbulkan kompetisi terhadap ruang dan makanan sampai daya dukung lingkungan tidak mampu lagi mendukung  pertumbuhan.

Pengukuran Kelangkaan Sumber Daya Alam

   Salah satu aspek krusial dalam pemahaman terhadap sumber daya alam adalah memahami juga kapan sumber daya tersebut akan habis. Jadi bukan hanya konsep ketersediaannya yang harus kita pahami, melainkan juga konsep pengukuran kelangkaannya. Sebagaiman disampaikan pada bagian pandangan terhadap sumber daya alam, aspek kelangkaan ini menjadi sangat penting karena dari sinilah muncul persoalan bagaimana mengelola sumber daya alam yang optimal.
   Secara umum, biasanya tingkat kelangkaan sumber daya alam diukur secara fisik dengan menghitung cadangan ekonomis yang tersedia dibagi dengan tingkat ekstraksi. Pengukuran dengan cara ini tentu saja memiliki banyak kelemahan karena tidak mempertimbangkan sama sekali aspek ekonomi di dalamnya. Aspek ekonomi ini antara lain menyangkut harga dan biaya ekstraksi. Sebagai contoh, ketikan sumber daya menjadi langka, maka harga akan naik dan konsumsi berkurang. Dengan berkurangnya konsumsi, ekstraksi juga berkurang sehingga faktor pembagi dalam pengukuran fisik di atas menjadi kecil. Hal ini bisa menimbulkan kesimpulan yang keliru karena seolah-olah sisa ekonomis sumber daya kemudian menjadi panjang dan sumber daya alam tidak lagi menjadi langka.
    Menyadari akan kelemahan pengukuran  fisik ini, Hanley et al., (1997) misalnya, menyarankan untuk menggunakan pengukuran moneter dengan cara menghitung harga riil, unit cost, dan rente ekonomi dari sumber daya.
   Selain konsep ekonomi dan fisik, pengukuran kelangkaan sumber daya juga dapat didekati dari interaksi antara ketersediaan sumber daya (terbatas atau tidak) dan biaya ekstraksi sepanjang waktu. Dengan adanya keterkaitan ini, Hall dan Hall (1984) melihat bahwa ada empat tipe pengukuran kelangkaan, yakni Malthusian Stock Scarcity, Malthusian Flow Scarcity, Ricardian Stock Scarcity, dan Ricardian Flow Scarcity.
    Pembahasan mengenai 4 tipe pengukuran kelangkaan sumber daya alam yaitu sebagai berikut.
  1. Malthusian Stock Scarcity adalah kelangkaan yang terjadi jika stok dianggap tetap (terbatas) dan biaya ekstraksi per unit pada setiap periode tidak bervariasi terhadap laju ekstraksi pada periode tersebut. 
  2. Malthusian Flow Scarcity merupakan kelangkaan yang terjadi akibat interaksi antara stok yang terbatas dan biaya ekstraksi per unit yang meningkat seiring dengan laju ekstraksi pada setiap periode. 
  3. Ricardian Flow Scarcity adalah tipe kelangkaan yang terjadi jika stok sumber daya dianggap tidak terbatas, namun baiay ekstraksi tergantung pada laju ekstraksi pada periode tertentu, dan juga ekstraksi kumulatif sampai pada periode  akhir ekstraksi. 
  4. Ricardian Stock Scarcity merupakan kelangkaan yang terjadi di mana stok yang dianggap todak terbatas berinteraksi dengan biaya ekstraksi yang meningkat seiring dengan ekstraksi kumulatif sampai periode akhir.
Sumber Daya Alam
Sumber Daya Alam

Demikian Pembahasan mengenai Sumber Daya Alam. Semoga pembahasan mengenai Sumber Daya Alam ini memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

 

Labels:

Friday, 25 September 2015

Pengertian, Jenis, Dampak dan Cara Mengatasi Pengangguran

       Pengangguran merupakan masalah ekonomi makro yang selalu terjadi dalam suatu negara, khususnya di Negara Indonesia. Pengangguran di negara Indonesia semakin hari semakin bertambah. Namun, belum ada solusi yang tepat dalam menangani masalah Pengangguran ini. Mengapa pengangguran terjadi?
       Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas masalah pengangguran. Dalam pembahasan mengenai pengangguran ini, saya akan membahas Pengertian Pengangguran, Jenis-Jenis Pengangguran, Dampak Pengangguran dan Cara Mengatasi Pengangguran. Pembahasan mengenai Pengangguran ini yaitu sebagai berikut.

1. Pengertian Pengangguran

     Pengangguran (unemployment) terjadi apabila jumlah tenaga kerja yang ditawarkan lebih besar daripada jumlah tenaga kerja yang diminta. Dengan kata lain, jumlah yang mencari pekerjaan lebih banyak daripada kesempatan kerja yang tersedia. Selain itu pengangguran dapat juga diartikan orang yang termasuk dalam angkatan kerja yang sedang berusaha menemukan atau mencari pekerjaan dan belum mendapatkan pekerjaan tersebut. Yang termasuk dalam angkatan kerja yaitu 15 sampai 64 tahun yang merupakan golongan angkatan kerja.
      Dalam pengertian ekonomi, yang disebut sebagai pengangguran adalah mereka berusaha mencari pekerjaan, tetapi tidak atau belum mendapatkan pekerjaan pada tingkat upah yang berlaku. Kondisi kesempatan kerja penuh (full employment) tercapai bila semua tenaga kerja yang mencari pekerjaan telah mendapatkan pekerjaan kerja pada tingkat upah yang berlaku.

2. Jenis-Jenis Pengangguran

a. Berdasarkan Sebab terjadinya      

      Jenis pengangguran dibedakan berdasarkan sebab terjadinya, terdiri atas 4 jenis yaitu sebagai berikut.
1) Pengangguran Siklikal (Cyclical Unemployment)
    Pengangguran Siklikal ini terjadi sebagai akibat maju mundurnya perekonomian di suatu negara. Pada saat perekonomian mengalami kemunduran, daya beli masyarakat menurun, akibatnya barang berhenti di gudang karena penjualan merosot dan perusahaan mengurangi kegiatan produksinya. Dampak dari pengurangan kegiatan produksi adalah para pekerja turut diberhentikan dari pekerjaannya.
2) Pengangguran Struktural
    Pengangguran struktural terjadi karena perubahan struktur perekonomian. perubahan struktur tersebut memerlukan keterampilan baru agar dapat menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Contohnya yaitu awalnya merupakan sektor pertanian mengalami peralihan menjadi sektor industri sehingga banyak tenaga kerja yang semula bekerja di sektor pertanian terpaksa menganggur. Peralihan tenaga kerja dari sektor pertanian menjadi tenaga kerja di sektor industri memerlukan penyesuaian keterampilan dan keahlian sehingga tenaga kerja yang berasal dari sektor pertanian harus dididik terlebih dahulu.
3) Pengangguran Friksional
    Pengangguran friksional merupakan perekonomian yang mencapai kondisi full employment saat jumlah penganggur yang ada tidak melebihi 4%. Pengangguran ini terjadi karena adanya kesulitan temporer dalam mempertemukan pemberi kerja dengan pencari kerja. Pengangguran friksional juga terjadi karena faktor jarak dan kurangnya informasi. Pelamar tidak mengetahui di mana lowongan dan pengusaha juga tidak mengetahui di mana tersedia tenaga kerja yang memenuhi syarat. Secara umum penganggurang friksional tidak dapat dihindari. Namun, waktu pengangguran dapat dipersingkat dengan penyediaan informasi kerja yang lengkap.
4) Pengangguran Teknologi
   Pengangguran ini disebabkan oleh adanya penggantian tenaga kerja manusia dengan mesin/peralatan canggih sebagai akibat dari kemajuan teknologi sehingga mengakibatkan penerimaan tenaga kerja manusia semakin menurun akibat didominasi oleh penggunaan mesin atau peralatan yang canggih dalam menjalankan proses produksi.
    Munculnya berbagai peralatan canggih sangat membantu manusia dalam menyelesaikan berbagai pekerjaannya. Misalnya, penggunaan forklift di suatu pabrik. Keberadaan alat ini dapat menyelesaikan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh beberapa tenaga kerja sekaligus sehingga dampak yang timbul adalah berkurangnya jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan dan digantikan oleh  alat tersebut. Selanjutnya, bila tidak tersedia cukup lapangan kerja maka tenaga kerja yang tergantikan tersebut akan menganggur.

b. Menurut Lama Waktu Kerja
  1) Pengangguran Terbuka
      Pengangguran terbuka adalah keadaan orang yang sama sekali tidak bekerja dan sedang berusaha mencari pekerjaan. Tenaga kerja yang sepenuhnya menganggur ini biasanya memiliki produktivitas marginal sama dengan nol, bahkan dapat pula negatif. Kondisi ini terjadi karena beberapa hal berikut ini:
a) Lapangan kerja tidak tersedia.
b) Ketidakcocokan antara kesempatan kerja dengan latar belakang pendidikan.
    Data berikut ini menampilkan jumlah penganggur terbuka menurut pulau, kota, dan desa, menurut golongan umur di kota dan desa, serta menurut penduduk pendidikan dan jenis kelamin.
2) Pengangguran tidak sepenuh waktu
    Negara berkembang seringkali tidak hanya memiliki tenaga yang menganggur sepenuhnya, tetapi juga memiliki tenaga kerja yang tidak sepenuh waktu menganggur atau disebut setengah menganggur. Pengangguran semacam ini dapat diketahui bila kita memindahkan sejumlah tenaga kerja dari suatu pekerjaan (misalnya dari sektor pertanian) ke pekerjaan yang lain, (misalnya sektor industri), dan ternyata pemindahan tenaga kerja itu tidak mengurangi produksi dari sektor pertanian tersebut. Ini  berarti pada sektor pertanian terdapat pengangguran yang tidak sepenuhnya waktu (under employment).
3) Pengangguran Terselubung (Disguised Unemployment)
   Salah satu bentuk dari under employment adalah yang disebut pengangguran terselubung. Pengangguran ini dapat terjadi karena ketidaksesuaian antara pekerjaan dengan potensi dan bakat serta kemampuan. Ketidakcocokan ini akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja yang rendah.
4) Pengangguran Musiman 
    Pergantian musim dapat berperan sebagai salah satu faktor penyebab pengangguran. Misalnya, di sektor pertanian setelah habis panen sampai musim tanam berikutnya tidak ada pekerjaan. Petani ini disebut penganggur musiman. Juga pada saat tidak boleh menangkap ikan di wilayah Maluku dan Papua para nelayan banyak yang menganggur.

3. Dampak Pengangguran Terhadap Ekonomi Masyarakat 

   Tingginya tingkat pengangguran dalam sebuah perekonomian  akan mengakibatkan kelesuan ekonomi dan merosotnya tingkat kesejahteraan masyarakat sebagai akibat penurunan prndapatan masyarakat. Dampak pengangguran terhadap ekonomi masyarakat meliputi hal-hal berikut ini.

a. Pendapatan per kapita
    Orang yang menganggur berarti tidak memiliki penghasilan sehingga hidupnya akan membebani orang lain yang bekerja. Dampaknya adalah terjadinya penurunan pendapatan per kapita. Dengan kata lain, bila tingkat pengangguran tinggi maka pendapatan per kapita akan menurun dan sebaliknya bila tingkat pendapatan rendah pendapatan per kapita akan meningkat dengan catatan pendapatan mereka yang masih bekerja tetap.

b. Pendapatan Negara
    Orang yang bekerja mendapatkan balas jasa berupa upah/gaji. Upah/gaji tersebut sebelum sampai di tangan penerima dipotong pajak penghasilan terlebih dahulu. Pajak ini merupakan salah satu sumber pendapatan negara sehingga bila tidak banyak orang yang bekerja maka pendapatan negara dari pemasukan pajak penghasilan cenderung berkurang.

c. Beban Psikologis
   Semakin lama seseorang menganggur semakin besar beban psikologis yang ditanggungnya. Orang yang memiliki pekerjaan berarti ia memiliki status sosial di tengah-tengah masyarakat. Seseorang yang tidak memiliki pekerjaan dalam jangka waktu lama akan merasa rendah diri (minder) karena statusnya yang tidak jelas.

d. Munculnya Biaya Sosial
   Tingginya tingkat pengangguran akan menimbulkan pengeluaran biaya-biaya seperti biaya pengadaan penyuluhan, biaya pelatihan, dan biaya keamanan sebagai akibat kecenderungan meningkatnya tindak kriminalitas.

4. Cara-Cara Mengatasi Pengangguran

       Sebelumnya telah dijelaskan berbagai dampak negatif dari pengangguran bagi seseorang, masyarakat, dan negara. Untuk mengatasi beberapa dampak tersebut, perlu ada upaya terpadu dalam bidang kesempatan kerja.

a. Cara Mengatasi Pengangguran Siklis
   Pengangguran siklis adalah pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian karena resesi. Penurunan kegiatan perekonomian umumnya dimulai dengan melemahnya permintaan akan barang. Akibat penurunan permintaan, produksi barang juga akan berkurang. Dampak pengurangan produksi adalah terjadinya penurunan investasi. Jika keadaan ini berlangsung lama, maka perusahaan akan mengurangi pekerja dengan jalan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau menghentikan usahanya sama sekali.
    Untuk mengatasi pengangguran siklis diperlukan beberapa langkah-langkah antara lain peningkatan daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat dapat meningkat apabila mereka mendapat tambahan penghasilan. Pemerintah harus membuka proyek yang bersifat umum, seperti membangun jalan, jembatan, irigasi, dan kegiatan lainnya. Cara lai adalah dengan mengarahkan permintaan masyarakat untuk membeli barang dan jasa, serta memperluas pasar barang dan jasa. Pasar yang sudah ada harus terus dipertahankan. Namun, diusahakan membuka peluang lain dalam rangka memasuki pasar yang baru. Misalnya, dengan membuka pasar baru di luar negeri yang dapat menambah permintaan.

b. Cara Mengatasi Pengangguran Struktur
   Pengangguran struktural adalah pengangguran yang diakibatkan perubahan struktur ekonomi, misalnya dari ekonomi yang bersifat agraris bergeser ke ekonomi industri. Pergeseran ini lebih menitikberatkan penyesuaian karakter dan budaya pekerja sektor industri. Untuk mengatasi pengangguran struktural diperlukan berbagai langkah seperti pengadaan pendidikan dan pelatihan sebagai persiapan untuk berkarier pada pekerjaan yang baru, memindahkan tenaga kerja dari tempat yang tidak membutuhkan ke tempat yang membutuhkan, meningkatkan mobilitas tenaga kerja dan modal yang ada, dan mendirikan industri padat karya, sehingga mampu menanggung tenaga kerja yang menganggur.

c. Cara Mengatasi Pengangguran Friksional
   Pada dasarnya, pengangguran friksional tidak dapat dihilangkan sama sekali dan hanya dapat dikurangi. Cara mengatasi pengangguran friksional adalah mengusahakan informasi yang lengkap tentang permintaan dan penawaran tenaga kerja, sehingga proses pelamaran, seleksi, dan pengambilan keputusan menerima atau tidak berlangsung lebih cepat. Cara lain adalah menyusun rencana penggunaan tenaga kerja sebaik mungkin.

d. Cara Mengatasi Pengangguran Musiman
   Pengangguran musiman adalah pengangguran yang terjadi pada musim-musim tertentu, seperti petani yang menganggur setelah musim tanam. Pengangguran seperti ini dapat diatasi dengan pemberian informasi yang jelas tentang adanya lowongan kerja pada bidang lain dan melatih seseorang agar memiliki keterampilan untuk dapat bekerja pada "masa menunggu" musim tertentu.

Pengertian Pengangguran, Jenis-Jenis Pengangguran, Dampak Pengangguran dan Cara Mengatasi Pengangguran
Pengangguran

    Demikian pembahasan mengenai Pengertian Pengangguran, Jenis-Jenis Pengangguran, Dampak Pengangguran dan Cara Mengatasi Pengangguran. Semoga tulisan mengenai Pengertian Pengangguran, Jenis-Jenis Pengangguran, Dampak Pengangguran dan Cara Mengatasi Pengangguran memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

Labels:

Thursday, 24 September 2015

Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi

     Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas mengenai Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi. Pembahasan mengenai Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi yaitu sebagai berikut.

Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi
1. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
    Pertumbuhan ekonomi adalah suatu kondisi di mana terjadi peningkatan produk domestik bruto dari suatu negara atau daerah. Pertumbuhan ekonomi dikatakan meningkat apabila persentase kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada suatu periode lebih besar dari periode sebelumnya. Kenaikan PDB tersebut tidak disertai penghitungan persentasenya terhadap tingkat pertumbuhan penduduk. Jadi, pertumbuhan ekonomi adalah suatu keadaan di mana terjadi kenaikan PDB suatu negara tanpa memandang apakah kenaikan tersebut lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk.

2. Pengertian Pembangunan Ekonomi
   Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang bertujuan untuk menaikkan produk domestok bruto suatu negara atau daerah dalam jangka panjang. Kenaikan PDB tersebut lebih besar daripada tingkat pertumbuhan penduduk. Singkatnya, pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang bertujuan untuk menaikkan PDB suatu negara atau daerah melebihi tingkat pertumbuhan penduduk.
   Di dalam pembangunan ekonomi, kenaikan pendapatan masyarakat diikuti pula oleh perubahan dalam struktur sosial dan sikap masyarakat. Selain kenaikan pendapatan, tujuan pembangunan ekonomi adalah perbaikan kondisi di luar aspek ekonomi seperti perbaikan lembaga pemerintah, perbaikan sikap dan ussaha memperkecil jurang pemisah antara kaya dan miskin. 
    Pofesor Dudley Seers menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi ditentukan oleh jawaban atas tiga  pertanyaan berikut.
a. Apakah pembangunan itu telah mengurangi kemiskinan?
b. Apakah yang dilakukan terhadap pengangguran?
c. Apakah yang dilakukan terhadap kesenjangan?
   Dengan demikian, menurut Profesor Dudley Seers, suatu  pembangunan ekonomi dikatakan berhasil apabila pendapatan perkapita masyarakat meningkat (kemiskinan berkurang), tingkat pengangguran berkurang, dan kesenjangan antara kaya dan miskin mengecil.

Perbedaan Pertumbuhan Ekonomi dengan Pembangunan Ekonomi
  Apabila diperhatikan, perbedaan pertumbuhan ekonomi dengan pembangunan ekonomi adalah sebagai berikut.
a. Keduanya menekankan pada kenaikan PDB. Namun, pertumbuhan ekonomi hanya menekankan kenaikan PDB tanpa membandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk. Sedangkan dalam pembangunan ekonomi, disebut ada kenaikan jika laju kenaikan PDB melebihi kenaikan pertumbuhan penduduk.
b. Pertumbuhan ekonomi hanya melihat kenaikan tanpa melihat akibat atau perbaikan kondisi yang ada. Jadi, penekanannya hanya pada pertambahan sarana seperti jembatan, mesin-mesin, dan sarana listrik. Sedangkan, pembangunan ekonomi tidak hanya menekankan pada pertumbuhan secara fisik, melainkan juga perbaikan kelembagaan, kondisi ekonomi, sikap, dan struktur yang ada supaya lebih berhasil guna dan berdaya guna.

Perbedaan Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi
Perbedaan Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi
Demikian pembahasan mengenai Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi. Semoga Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.
 

Labels:

Teori Pertumbuhan Ekonomi

    Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas mengenai Teori Pertumbuhan Ekonomi. Pembahasan mengenai Teori Pertumbuhan Ekonomi yaitu sebagai berikut.

Teori Pertumbuhan Ekonomi
    Perbedaan pandangan antara para ilmuwan di bidang ekonomi tentang teori pertumbuhan ekonomi memang wajar karena di antara mereka terdapat perbedaan sudut pandang, waktu, dan tempat. Pada dasarnya, teori pertumbuhan ekonomi dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu teori pertumbuhan ekonomi yang bersifat historis dan teori pertumbuhan ekonomi yang bersifat analisis. Teori pertumbuhan ekonomi bersifat historis merupakan teori pertumbuhan yang lebih menekankan pada tahap-tahap pertumbuhan ekonomi, sedangkan teorti pertumbuhan ekonomi bersifat analisis lebih menekankan pada sebab-sebab pertumbuhan ekonomi yang dialami masyarakat.

a. Teori Pertumbuhan Ekonomi Historis
    Tokoh utama mazhab ekonomi historis, yaitu Frederich List, Karl Bucher, Werner Sombart, dan Walt Whiterman Rostow. 
1) Frederich List (1789-1846)
    Frederich List, ekonomi berkebangsaan Jerman, membagi tahap-tahap pertumbuhan ekonomi yang dialami suatu negara berdasarkan teknik produksi dan cara-cara masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup. Tahap-tahap pertumbuhan ekonomi menurut Frederich List digambarkan bertingkat-tingkat seperti tangga sehingga teori ini terkenal dengan sebutan Stuffen Theorien (Teori Tangga).
    Pertumbuhan ekonomi dibagi menjadi empat tahap yaitu sebagai berikut.
Tahap 1: Masa Berburu dan Mengembara
Pada tahap awal, manusia memenuhi kebutuhan hidup sangat bergantung pada pemberian alam dan hanya bertujuan memenuhi kebutuhan sendiri. Tugas berburu dilakukan lelaki, sedangkan wanita mencari buah-buahan dan umbi-umbian di sekitarnya. Jika makanan dan binatang di sekitarnya habis, mereka akan pindah ke tempat baru. Pada masa ini belum dikenal sistem pertukaran.
Tahap II: Masa Beternak dan Bertani
Pada masa ini, masyarakat sudah berpikir untuk menetap. Jika mereka mendapat binatang buruan yang masih hidup dan kebutuhan daging masih mencukupi, mereka akan memeliharanya. Jika mreka mendapatkan jenis tumbuhan atau buah-buahan yang enak rasanya di tempat lain, timbul keinginan untuk menanamnya sehingga mulailah dikenal sistem bertani.
Tahap III: Masa Bertani dan Kerajinan
Pada masa ini, mereka lebih senang hidup menetap sambil memelihara tanaman. Sambil bertani, mereka membuat kerajinan-kerajinan yang ada hubungannya dengan pertanian, seperti pandai besi dan kerajinan tangan lain yang dapat mereka kerjakan sambil memanfaatkan waktu senggang setelah bertani.
Tahap IV: Masa Kerajinan, Industri, dan Perdagangan
Pada masa ini, masyarakat memandang kerajinan bukan lagi sebagai sampingan untuk memanfaatkan waktu senggang, melainkan merupakan kebutuhan untuk dijual ke pasar sehingga industri berkembang dari industri kerajinan (home industry) menjadi industri besar (pabrik-pabrik. Pada masa inilah muncul kota-kota sebagai pusat industri. Hasil industri terus bertambah sehingga hasil industri tersebut bukan saja untuk dijual di dalam negeri, melainkan ke luar negeri (ekspor). Dengan demikian, muncullah perdagangan internasional.

Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi
Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi
2) Karl Bucher (1847-1930)
    Karl Bucher membagi tahap-tahap pertumbuhan ekonomi masyarakat berdasarkan hubungan antara produsen dan konsumen dalam memenuhi kebutuhan hiduo. Tahap pertumbuhan ekonomi menurut Karl Bucher dibagi sebagai berikut.
a) Rumah Tangga Tertutup
    Kehidupan masyarakat pada tahap ini masih sangat sedehana dan tertutup. Mereka memenuhi kebutuhan hidup dari hasil buatan kelompoknya sendiri dan pertukaran antarkelompok belum terjadi. Mereka memproduksi hanya untuk kebutuhannya sendiri, atau tidak untuk dijual. Dengan kata lain, mereka ialah produsen untuk dirinya sendiri.
b) Rumah Tangga Kota
    Bertambahnya jumlah penduduk akan meningkatkan kebutuhan masyarakat secara terus-menerus sehingga kebutuhan hidup suatu kelompok masyarakat tidak dapat dipenuhi sendiri. Oleh karena itu, mereka dituntut berhubungan dengan masyarakat lain dalam satu kota. Pada rumah tangga ini, masyarakat mulai mengenal pertukaran. Kegiatan sehari-hari mereka tidak hanya bertani, tetapi sudah berdagang. Mereka menyepakati suatu tempat pertemuan untuk pertukaran kebutuhan yang tidak dapat mereka penuhi sendiri. Tempat pertemuan itu disebut pasar.
c) Rumah Tangga Bangsa
    Rumah tangga kita berkembang terus-menerus sehingga pertukaran yang terjadi antarpenduduk satu kota tidak dapat saling memenuhi. Hal ini menuntut pertukaran antarkota dalam satu negara. Dengan demikian, akan terbentuk satu kesatuan masyarakat yang melakukan pertukaran antarkota dalam satu negara. Pertukaran tersebut menyebabkan ruang lingkup pertukaran mencakup pasar nasional. Tingkat pertumbuhan perekonomian ini disebur rumah tangga bangsa.
d) Rumah Tangga Dunia
    Jika kegiatan ekonomi terus berkembang dan sudah melewati batas negara, perekonomian sudah masuk ke dalam tahap ekonomi rumah tangga dunia. Sistem pertukaran tidak terbatas hanya di dalam negeri, tetapi ke luar negeri. Ruang lingkup pasar mencakup pasar internasional.

3) Werner Sombart (1863-1947)
  Werner Sombart membagi pertumbuhan ekonomi  menjadi empat tahap yaitu sebagai berikut.
a) Prakapitalisme (Vorkaspitalismus)
    Tahap ini disebut tahap pertumbuhan ekonomi kapitalis purba. Pada zaman ini, belum dikenal adanya kaum kapitalis. Kehidupan masyarakat masih statis. Mereka hanya berusaha memenuhi kebutuhan sendiri dan hidup penuh kekeluargaan serta mengandalkan sektor pertanian.
b) Zaman Kapitalis Madya (Fruhkapitalismus)
    Pada zaman ini, kehidupan masyarakt sudah mulai memikirkan keuntungan dan keinginan untuk memupuk kekayaan. Ciri-ciri kehiduapan masyarakat pada zaman ini sudah mulai dinamis, individualis, dan sudah mulai mengenal alat tukar yang disebut uang.
c) Zaman Kapitalis Raya (Hochkapitalismus)
    Pada zaman ini, kehidupan masyarakat sudah mengarah untuk mencari keuntungan setinggi-tingginya (pure profit motive). Setiap usaha yang dilakukan ditujukan mencari keuntungan. Ciri-ciri masyarakat pada zaman ini, yaitu muncul kaum-kaum kapitalis yang menguasai alat-alat produksi dan muncul kaum buruh atau pekerja. Produksi dilakukan secara massal atau besar-besaran dan perdagangan semakin luas. 
d) Zaman Kapitalis Akhir (Spatkapitalimus)
   Pada zaman ini, mulai muncul kaum sosialis yang menginginkan kesejahteraan bersama. Ciri-ciri perekonomian pada zaman ini ialah ada campur tangan pemerintah dalam perekonomian dan setiap usaha untuk  kepentingan bersama sehingga tidak ada peran majikan besar. Dengan demikian kaum kapitalis mulai terdesak dan terkikis kaum sosialis.

4) Walt Whiteman Rostow (1916-1979)
   W.W. Rostow ialah seorang ekonom Amerika. Ia mengemukakan teori pertumbuhan dalam buku The Stage of Economic Growth. Teori pertumbuhan ekonomi menurut Rostow dibagi menjadi lima tahap, yaitu sebagai berikut.
a) Masyarakat Tradisional (The Traditional Society)
    Pada tahap ini, kehidupan masyarakat masih sangat sederhana. Cara-cara produksi menggunakan peralatan tradisional secara turun-temurun. Mereka sama sekali belum mengenal teknologi, masih terikat adat istiadat, serta tingkat kemampuan menghasilkan (produktivitas) masih sangat rendah.
 b) Persyaratan untuk Lepas Landas (Precondition for Take Off)
    Pada masa ini, masyarakat mulai sadar pentingnya pembaruan. Mereka mulai mengenal teknologi, menerima inovasi-inovasi baru, melakukan perubahan-perubahan cara berproduksi, dan mulai melepaskan adat kebiasaan yang turun-temurun. Akibatnya, perekonomian mulai bergeser dari sektor agraris menjadis sektor industri dan perdagangan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang  yang terjadi mulai menampakkan perubahan-perubahan yang berarti. Tahap prasyarat lepas landas sering disebut masa transisi.
 c) Lepas Landas (Take Off)
   Pada tahap ini, perekonomian menunjukkan pertumbuhan yang cepat, yaitu ditandai penemuan-penemuan baru cara berproduksi. Muncul investasi-investasi baru ditandai peningkatan penanaman modal di sektor neto industri yang berkisar antara 5% sampai 10% dari pendapatan nasional.
d) Perekonomian yang Matang atau Dewasa (Maturity of Economic)
   Pada masa ini, masyarakat sudah selektif menggunakan teknologi modern sehingga penggunaannya berjalan secara efektif dan efisien. Suatu perekonomian yang mengarah kedewasaan ialah suatu perekonomian yang sudah tidak terpengaruh keadaan atau peristiwa perekonomian yang terjadi di negara lain. Artinya, perekonomian dewasa ialah perekonomian yang sudah sangat stabil. Ciri-ciri lain perekonomian maturity, yaitu struktue dan keahlian tenaga kerja bergeser menjadi tenaga-tenaga profesional di bidang industri. Pertumbuhan ekonomi berjalan otomatis (self propelling growth). Jika negara menghadapi kesulitan ekonomi, dapat diselesaikan tanpa campur tangan negara lain.
e) Masa Ekonomi Konsumsi Tinggi (High Mass Consumption)
    Menurut teori Rostow, masa ekonomi konsumsi tinggi ialah masa pertumbuhan ekonomi paling tinggi. Pada masa ini, pola pikir masyarakat sudah cenderung memikirkan konsumsi. Mereka lebih memikirkan bagaimana mengalokasikan uang yang melimpah daripada memikirkan sumber penghasilan. Ciri-ciri perekonomian yang sudah mencapai masa konsumsi tinggi ialah produksi barang-barang konsumsi dilakukan besar-besaran disertai pendapatan perkapita riil masyarakat sangat tinggi sehingga masyarakat dapat menikmati kemakmuran yang mereka capai. Tujuan pembangunan ekonomi mereka, yaitu mempertahankan kemakmuran.

b. Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik
    Tokoh utama mazhab ekonomi klasik, yaitu Adam Smith, David Richardo, dan T.R. Malthus.
1) Adam Smith
   Adam Smith, ahli ekonomi Inggris, mengemukakan teori dalam buku An Inquiry into the Nature and Causes of The Wealth of the Nation. Buku ini lebih dikenal dengan judul The Wealth of Nation (Kemakmuran Suatu Negara). Adam Smith ialah tokoh ekonomi yang mempelopori pemberlakuan semboyan laisser faire laisser passer (ekonomi bebas), yaitu sistem perekonomian yang bebas dari campur tangan pemerintah. Kekuatan yang mengatur perekonomian ialah mekanisme harga. Pendapat Adam Smith dituangkan dalam teori yang disebut The Invible Hands (Teori Tangan-Tangan Gaib).
   Menurut Adam Smith, suatu negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi ditandai dua faktor yang saling berkaitan, yaitu:
a) pertumbuhan penduduk, dan
b) pertumbuhan output total.
   Pertumbuhan penduduk dianggap sebagai faktor pasif, sedangkan pertumbuhan output dianggap sebagai penentu pertumbuhan atau faktor aktif. Tingkat pertumbuhan output yang dicapai pengaruh oleh tiga komponen, yaitu:
a) sumber-sumber alam,
b) tenaga kerja (pertumbuhan penduduk), dan
c) jumlah persediaan barang modal.
    Sumber-sumber alam yang dimiliki suatu negara menentukan tingkat pertumbuhan output karena sumber daya alam menentukan batas maksimum output (jika sudah mencapai tingkat penggunaan penuh atau full employment). Penggunaan sumber daya alam akan mencapai maksimum dalam pencapaian peningkatan output apabila dikerjakan oleh tenaga kerja yang memiliki tingkat spesialisasi kerja yang baik dan didukung faktor barang modal yang memadai.

2) David Ricardo dan T.R. Malthus
   David Ricardo mengkritik teori pertumbuhan penduduk yang dikemukakan Adam Smith. Menurut David Ricardo, faktor pertumbuhan penduduk yang semakin besar sampai menjadi dua kali lipat pada suatu saat akan menyebabkan jumlah tenaga kerja melimpah. Kelebihan tenaga kerja akan mengakibatkan upah menjadi turun. Upah tersebut hanya dapat digunakan untuk membiayai tingkat hidup minimum sehingga perekonomian berada pada taraf subsisten (subsistence level). Jika sudah mencapai taraf ini, perekonomian akan mengalami  kemandegan yang dikenal stationary state.
   Pendapat Ricardo sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Thomas Robert Malthus, yaitu bahan makanan (hasil produksi) akan bertambah menurut deret hitung (satu, dua, tiga, dan seterusnya), sedangkan penduduk akan bertambah menurut deret ukur (dua, empat delapan, enam belas, dan seterusnya). Hal  tersebut mengakibatkan perekonomian berada pada taraf  subsisten atau kemandegan pada suatu saat.

c. Teori Pertumbuhan Ekonomi Neo-Klasik
     Tokoh mazhab Neoklasik, yaitu Robert Sollow, Harrod dan Domar, serta Joseph Schumpeter.
1) Robert Sollow
   Robert Sollow lahir pada 1950 di Brooklyn. Ia seorang peraih Nobel di bidang ilmu ekonomi pada 1987. Robert Sollow menekankan perhatian pada pertumbuhan output yang akan terjadi atas hasil kerja dua faktor input utama, yaitu modal dan tenaga kerja. Sementara itu, faktor teknologi diasumsikan sebagai faktor konstan. Hal yang termasuk faktor modal ialah barang-barang modal, seperti peralatan, bangunan, mesin pabrik, komputer, bahan baku, dan uang. Dalam menghasilkan sejumlah output, diperlukan faktor modal dan tenaga kerja sehingga dapat dituliskan dalam bentuk persamaan berikut.
Q = f (C,L)
Keterangan:
Q = Jumlah output yang dihasilkan
f = fungsi
C = Capital (sejumlah input modal)
L = Labor (tenaga kerja).
    Berdasarkan persamaan tersebut, dapat disimpulkan tinggi rendah output (Q) merupakan fungsi modal (C) dan tenaga kerja (L). Suatu negara mengalami pertumbuhan jika ada pertumbuhaan output. Pertumbuhan output akan dihasilkan dengan mengombinasikan faktor modal (C) dan faktor tenaga kerja (L) serta teknologi modern. Namun, faktor teknologi diasumsikan tetap atau konstan.

2) Harrod dan Domar
   Teori yang dikemukakan R.F. Harrod dan Evsey Domar pada 1947, bertujuan menunjukkan suatu negara senantiasa mampu berada pada pertumbuhan ekonomi yang mantap (steady growth). Selain itu, diperlukan kemampuan berproduksi yang selalu meningkat. Dalam mencapai tujuan ini, diperlukan penanaman modal (investasi).
    Kemampuan masyarakat berinvestasi akan ditentukan permintaan agregat masyarakat. Keinginan berinvestasi masyarakat akan ditentukan juga oleh Marginan Eficiency of  Capital (MEC) atau lebih dikenal dengan Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Artinya ICOR adalah perbandingan antara pertambahan satu unit input modal yang dapat menyebabkan pertambahan output dengan tambahan output yang dihasilkan.
   Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi menurut Harrod dan Domar akan terjadi jika ada peningkatan produktivitas modal (MEC) dan produktivitas tenaga kerja.

3) Joseph Schumpeter
    Menurut Joseph Schumpeter, pertumbuhan ekonomi suatu negara ditentukan oleh usaha inovasi-inovasi (penemuan-penemuan baru di bidang teknologi produksi) yang dilakukan para pengusaha. Tanpa inovasi, tidak ada pertumbuhan ekonomi. Proses inovasi terdiri atas tiga tahap, yaitu:
a) teknologi baru diperkenalkan;
b) inovasi menimbulkan keuntungan yang lebih banyak;
c) Proses imitasi inovasi, artinya penemuan baru tersebut akan ditiru pengusaha-prngusaha lain sehingga seluruh pengusaha akan dapat meningkatkan hasil produksi, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.

Demikian pembahasan mengenai Teori Pertumbuhan Ekonomi. Semoga tulisan mengenai Teori Pertumbuhan Ekonomi memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

 

Labels:

Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro

     Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas mengenai Ekonomi Makro dan Ekonomi Mikro. Pembahasan mengenai Ekonomi Makro dan Ekonomi Mikro yaitu sebagai berikut.

     Inti ilmu ekonomi adalah mengakui realitas kelangkaan, lalu memikirkan cara mengorganisasi masyarakat dalam suatu cara yang menghasilkan pemanfaatan sumber daya ekonomi yang paling efisien. Disinilah ilmu ekonomi memberikan konribusinya (sumbangannya) yang unik.
    Pengkajian ilmu ekonomi dilakukan dalam dua tingkatan. Pertama, kita dapat mengkaji berdasarkan keputusan rumah tangga individual dan perusahaan. Kita dapat mengkaji interaksi rumah tangga dan perusahaan di pasar untuk barang dan jasa tertentu. Kedua, kita dapat mengkaji operasi perekonomian secara menyeluruh yang merupakan kumpulan dari semua pengambil keputusan di semua pasar.
       Teori ekonomi yaitu bagian ilmu ekonomi yang menjelaskan mekanisme kegiatan ekonomi. Teori ekonomi dibagi menjadi dua, yaitu Teori Ekonomi Mikro dan Teori Ekonomi Makro.
 
Teori Ekonomi Makro dan Teori Ekonomi Mikro
   Dalam mempelajari tingkah laku ekonomi dikembangkan dua pola dasar analisis yang berbeda tetapi saling melengkapi. Teori ekonomi makro mempelajari perekonomian nasional secara keseluruhan dan komponen-komponen yang pokok (agregates), seperti para konsumen diperlakukan sebagai satu unit saja yang disingkat RTK. Demikian pula dunia usaha dijadikan satu kelompok besar. Dengan cara demikian kita memperoleh suatu gambaran tentang struktur dasar perekonomian nasional dan hubungan-hubungan  pokok yang terdapat di dalamnya. Maka, ekonomi makro membahas hal-hal seperti hasil produksi nasional total, tingkat kesempatan kerja, tingkat harga, jumlah uang beredar, investasi total, ekspor total, pendapatan nasional, laju inflasi, dan sebagainya.
    Ilmu ekonomi mikro mempelajari satuan-satuan ekonomi tertentu/khusus dan perilaku satuan-satuan terkecilnya. Ibaratnya suatu bagian kecil ekonomi nasional ditaruh dibawah mikroskop (mikro=kecil). Kita pelajari perilaku sebuah perusahaan atau cabang usaha tertentu dan memusatkan perhatian pada hal-hal seperti pasar untuk satu jenis barang tertentu, pendapatan faktor produksi tertentu, teori harga dan alokasi sumber dayaekonomi, serta distribusi pendapatan di antara para pemilik faktor produksi.

Teori Ekonomi Mikro
    Bidang ilmu ekonomi yang mempelajari bagaimana rumah tangga individual atau persuahaan mengambil keputusan, dan melakukan interaksi di pasar tertentu, disebur ekonomi mikro. Kajian ekonomi mikro antara lain; bagaimana harga suatu barang terbentuk? Bagaimana menentukan harga tanah, harga tenaga kerja (upah)? Bagaimana menentukan harga modal (bunga)? Bagaimana produksi mencapai tingkat paling efisien? Bagaimana perusahaan memperoleh laba maksimum? Bagaimana konsumen memperoleh kepuasan maksimum?

Teori Ekonomi Makro
    Bidang ilmu ekonomi yang mengkaji fenomena perekonomian secara menyeluruh atau luas misalnya inflasi, pengangguran dan pertumbuhan ekonomi disebut ekonomi makro. Saat ini ekonomi makro mengkaji berbagai bidang yang luas, misalnya Bagaimana total investasi dan konsumsi ditentukan? Bagaimana Bank Sentral mengelola uang dan suku bunga? Apa penyebab krisis moneter? Mengapa beberapa negara maju berkembang pesat sementara yang lain mengalami stagnasi (kemandegan)?
     Untuk membedakan antara teori ekonomi mikro dan teori ekonomi makro dalam kegiatan perekonomian suatu negara seperti dikutip dari Joesron dan Fathorrozi (2003), setidaknya dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek harga, unit analisis, dan tujuan analisis.

a. Aspek Harga
    Dalam teori ekonomi mikro, yang dimaksud dengan harga ialah nilai dari suatu komoditas (barang tertentu saja). Adapun dalam teori ekonomi makro, harga dihubungkan dengan tingkat harga secara keseluruhan (agregat).

b. Unit Analisis
     Dilihat dari unit analisisnya, teori ekonomi mikro hanya membahas kegiatan ekonomi secara individual, misalnya permintaan dan penawaran, perilaku konsumen, perilaku produsen, pasar penerimaan, biaya produksi, dan laba rugi. Adapun dalam teori ekonomi makro lebih banyak dibahas tentang kegiatan ekonomi secara keseluruhan (agregat), seperti pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran. Akan tetapi, unit analisis teori ekonomi makro bukan merupakan dari teori ekonomi mikro.

c. Tujuan Analisis
    Tujuan analisis ekonomi mikro lebih memfokuskan pada upaya pemecahan terhadap bagaimana mengalokasikan sumber daya agar dapat dicapai kombinasi yang tepat. Adapun teori ekonomi makro, lebih banyak menganalisis pengaruh  kegiatan ekonomi terhadap perekonomian secara menyeluruh.
    Berikut disajikan tabel perbedaan antara ekonomi mikro dan ekonomi makro yaitu sebagai berikut.
Perbedaan Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro
Perbedaan Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro
  Demikian pembahasan mengenai Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro. Semoga pembahasan mengenai Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro ini memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

Labels:

Wednesday, 23 September 2015

Valuta Asing

     Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas mengenai Valuta Asing. Dalam pembahasan mengenai Valuta Asing ada terdapat beberapa poin yang akan dibahas yaitu Pengertian Valuta Asing, Kurs Valuta Asing, dan Faktor-Faktor yang Memengarui Permintaan dan Penawaran Valuta Asing. Pembahasan mengenai Valuta Asing ini yaitu sebagai berikut.
 A. Valuta Asing
 1. Pengertian Valuta Asing
      Valuta Asing atau foreign exchange (forex) disebut juga foreign current. Valuta Asing adalah mata uang asing atau alat pembayaran yang digunakan untuk melakukan pembayaran atau transaksi ekonomi internasional. Nama mata uang dan satuannya berbeda-beda dalam setiap negara. Hal ini disebabkan oleh keinginan negara bersangkutan. Akan tetapi ada juga negara-negara yang mata uangnya sama walaupun nilainya berbeda. Misalnya, Amerika Serikat, Australia, Singapura, Hongkong, Brunei Darussalam, Kanada. Nama mata uang yang digunakan adalah dolar.
    Setiap negara di dunia pada saat ini mayoritas membutuhkan mata uang asing untuk memenuhi segala kebutuhannya karena adanya keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh suatu negara. Pada dasarnya mata uang asing itu tidak diperlukan dalam pembangunan suatu negara, apabila negara bersangkutan telah mampu menyediakan sarana dan prasarana dari dalam negeri.
    Apabila kita mengimpor barang atau menerima jasa dari luar negeri, kita tidak bisa membayar dengan mata uang Indonesia yaitu rupiah. Kita harus membayar dengan mata uang yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Mata uang yang digunakan dalam pembayaran perdagangan Internasional biasanya mata uang negara-negara yang perekonomiannya sudah kuat, misalnya Yen Jepang, Dollar Amerika, Poundsterling Inggris atau Euro negara Eropa.
     Kita harus membayar dengan devisa. Sama halnya ekspor barang/jasa yang kita lakukan ke suatu negara, maka negara akan membayarnya dengan devisa kepada kita. Jadi, dalam perdagangan Internasional (ekspor/impor) digunakan alat pembayaran luar negeri yang disebut devisa.
     Devisa adalah semua barang yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran luar negeri dan dapat diterima di dunia internasional. Devisa disebut juga dengan Valuta Aing (VA).
    Secara umum semua barang yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran luar negeri dan diterima di dunia internasional disebut devisa. Devisa terdiri dari: mata uang asing, emas, wesel asing, tagihan luar negeri. Devisa dapat diperoleh dari hal-hal berikut ini.
a. Kegiatan Ekspor
    Jumlah barang yang diekspor ke luar negeri akan berpengaruh terhadap devisa negara. Semakin banyak barang/jasa yang diekspor ke luar negeri akan semakin banyak devisa yang diperoleh.
b. Perdagangan Jasa 
      Yang termasuk sumber devisa negara dari perdagangan jasa adalah: pelabuhan udara, pelabuhan laut, dan kapal-kapal yang berlayar ke luar negeri.
 c. Turis Internasional 
      Turis dari manca negara datang ke Indonesia akan membawa mata uang negaranya, setibanya di Indonesia akan ditukarkan dengan mata uang rupiah.
d. Bantuan Luar Negeri
     Bantuan luar negeri yang berbentuk barang seperti: mesin-mesin, laboratorium, bahan makanan, dan bantuan berupa valuta asing. Apabila bantuan berupa barang, maka terjadi penghematan devusa karena berkurangnya impor untuk barang-barang tersebut. Bila bantuan yang diterima berupa valuta asing, maka secara langsung telah menambah devisa negara.
e. Kredit Luar Negeri
     Kredit luar negeri yang berupa valuta asing dapat menambah devisa negara. Kredit dari luar negeri diperoleh dengan mengimpor barang-barang yang dibutuhkan di dalam negeri.
f. Pengiriman Uang Asing dari Luar Negeri (Pengiriman Uang Asing dari Orang-Orang Indonesia yang Ada di Luar Negeri akan Ditukarkan dengan Mata Uang Rupiah, juga Menambah Devisa bagi Negara). Sehingga simpanan devisa di bank-bank tersebut semakin bertambah.
   
   Tiap-tiap pertukaran valuta asing lebih dulu dikur (exchange rate), artinya harus ditentukan berapa nilai tukar antara valuta suatu negara dengan valuta negara lainnya (perbandingan nilai/harga antara keduanya).
    Yang melakukan penawaran dan permintaan valuta asing itu adalah eksportir menawarkan valuta asing keada pihak importir. Karena dengan melakukan ekspor ia mempunyai sejumlah devisa atau valuta asing. Sedangkan, pihak importir mengajukan permintaan kepada pihak eksportir, karena ia memerlukan devisa. Itulah sebabnya terjadi jual beli valuta asing di Bursa Valuta Asing. Fungsi utama devisa adalah sebagai alat pembayaran luar negeri.
     Devisa yang diterima dari bantuan pinjaman atau kredit luar negeri disebut devisa kredit. Sedangkan devisa yang diterima dan sumber lain seperti ekspor, penyelenggaraan jasa, dan bunga modal disebut devisa umum.
      Devisa yang diperoleh dari berbagai sumber dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai berikut.
a. Membayar barang-barang yang diimpor.
b. Pembayaran jasa luar negeri, seperti biaya angkutan barang dari luar negeri, biaya tenaga ahli yang didatangkan dari luar negeri, dan sebagainya.
c. Biaya kedutaan, konsulat, dan atase di luar negeri (perwakilan luar negeri).
d. Biaya pengiriman misi kebudayaan/kesenian atau kontingen-kontingen olahraga ke luar negeri.
e. Membiayai perjalanan dinas pejabat ke luar negeri. Misalnya presiden, menteri, dan lain-lain.
f. Membiayai pengiriman bantuan dana ke luar negeri.
    Pasar (bursa) valuta asing atau tempat permintaan dan penawaran valuta asing dipertemukan adalah tempat orang dapat memperoleh valuta asing untuk melaksanakan transaksinya dengan penduduk negara lain. Jika kurs valuta asing itu ditentukan/ditetapkan oleh pemerintah, maka dinamai kurs resmi. Kurs resmi yang dietapkan oleh pemerintah itu dimaksudkan sebagai standar jual beli valuta asing (BVA). Berikut ini adalah tempat untuk jual beli valuta asing di Bursa Valuta Asing (BVA) terdapat di:
a. Bank-bank devisa, bank-bank milik pemerintah/bank milik swasta. Bank devisa yang terbesar di Indonesia adalah Bank Indonesia (BI).
b. Badan-badan perantaraan  valuta asing dan makelar-makelar valuta asing.
c. Tempat-tempat penukaran resmi valuta asing (money changer).
     Jika diperhatikan peredaran (lalu lintas devisa di Bursa Valuta Asing (BVA) maka devisa itu ada 2 macam, yaitu devisa umum dan devisa kredit. Devisa umum ialah devisa yang diperoleh dari hasil ekspr, penjualan jasa atau dari bunga modal. Devisa kredit ialah devisa yang diperoleh dari hasil pinjaman (kredit) luar negeri.

2. Kurs Valuta Asing
     Kurs valuta asing adalah perbandingan nilai mata uang antarnegara. Pada bank devisa atau money changer ada 3 jenis kurs yaitu:
a. Kurs jual. Kurs jual adalah kurs yang ditetapkan oleh bank apabila bank menjual mata uang asing.
b. Kurs beli. Kurs beli adalah kurs yang ditetapkan oleh bank apabila bank membeli mata uang asing.
c. Kurs tengah. Kurs tengah adalah kurs rata-rata yang dipatok antara kurs jual dan kurs beli.
   Macam-macam perbandingan mata uang asing (kurs) antara lain sebagai berikut.
a. Sistem Kurs Tetap
     Sistem Kurs Tetap yaitu kurs yang mematok nilai harga mata uang asing terhadap mata uang negara yang bersangkutan dengan nilai tertentu yang selalu sama dalam periode tertentu.
b. Sistem Kurs Mengambang/bebas
      Sistem Kurs Mengambang/bebas adalah sistem ini ditentukan oleh kekuatan tarik-menarik faktor permintaan dan faktor penawaran terhadap mata uang asing.
c. Sistem Kurs Terkait/mengambang terkendali
     Sistem Kurs terkait yaitu kurs yang ditentukan oleh nilai tukar dikaitkan dengan nilai mata uang negara lain/sejenis mata uang tertentu.

   Faktor-faktor yang mempengaruhi kurs valuta asing adalah faktor permintaan dan penawaran valuta asing.
     Seperti halnya barang-barang dan jasa-jasa maka kurs valuta asing pun tergantung pada hukum permintaan dan penawaran. Artinya, bila permintaan terhadap kurs valuta sing bertambah, maka kurs akan naik, demikian pula sebaliknya. Bila penawaran terhadap kurs valuta asing bertambah, maka kurs akan turun. Jadi, tinggi rendahnya kurs valuta asing tergantung permintaan dan penawaran. Dengan kata lain fungsi kurs itu akan mempengaruhi besarnya permintaan dan penawaran.
    Harga valuta asing akan lebih mahal dari nilai nominal harga yang berlaku bila permintaan melebihi jumlah valuta asing yang ditawarkan.
    Darimanakah sumber permintaan akan valuta asing? Sumber permintaan valuta asing berasal dari impor barang/jasa suatu negara dan ekspor modal dan transfer valuta asing dari dan ke luar negeri.

B. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Permintaan dan Penawaran Valuta Asing.
     Ada enam faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta sing. Keenam faktor itu ialah tingkat inflasi, tingkat suku bunga, tingkat pendapatan dan produksi, neraca pembayaran luar negeri, pengawasan pemerintah, dan perkiraan, rumor, dan isu spekulasi.
1. Tingkat Inflasi
     Apabila suatu negara mengalami inflasi, maka bisa diidentifikasi bahwa harga barang mahal, maka untuk memenuhi kebutuhan akan barang/jasa negara tersebut akan melakukan kegiatan impor dari suatu negara. Kegiatan impor membutuhkan valuta asing.
2. Tingkat Suku Bunga
     Apabila suatu negara memberlakukan sistem bunga yang tinggi, maka orang-orang yang biasa memainkan valuta asing akan berdatangan untuk menginvestasikan uangnya. Sehingga permintaan akan valuta asing akan menurun.
3. Tingkat Pendapatan dan Produksi
    Semakin tinggi pendapatan yang diperoleh seseorang, maka akan semakin banyak kebutuhan akan barang/jasa yang diperlukan. Tidak semua barang/jasa tersebut dipenuhi dan diproduksi di dalam negeri melainkan harus di impor dahulu.
4. Neraca pembayaran Luar Negeri
    Neraca pembayaran luar negeri mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing.
5. Pengawasan Pemerintah
    Pemerintah mempunyai kepentingan dalam pengaturan sirkulasi valuta asing, yakni sebagai berikut.
a. Kebijakan Fiskal, yaitu kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk pengaturan tentang pajak seperti: bea impor dan bea ekspor.
b. Kebijakan Moneter, yaitu kebijakan yang diambil oleh pemerintah di dalam keuangan (moneter) seperti uang ketat, uang longgar, dan devaluasi.
6. Perkiraan, Rumor, dan Isu Spekulasi
    Disadari atau tidak berkembangnya rumor, atau isu yang yang dihembuskan oleh spekulan valuta asing akan mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing di suatu negara. 
Valuta Asing
Valuta Asing

Demikian pembahasan mengenai Valuta Asing. Semoga tulisan mengenai Valuta Asing ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Labels: