Saturday, 31 October 2015

Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional

    Pembahasan kali ini mengenai Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional. Adapun Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional yaitu terdiri atas kita dapat mengetahui dan menelaah struktur perekonomian nasional, membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional yaitu sebagai berikut.

Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional
   Perhitungan pendapatan nasional bertujuan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu negara dan untuk mendapatkan data-data terperinci mengenai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara selama satu periode.
   Bila ditinjau lebih jauh lagi, manfaat yang dapat diperoleh dari perhitungan pendapatan nasional adalah sebagai berikut.

A. Mengetahui dan Menelaah Struktur Perekonomian Nasional
    Data pendapatan nasional dapat digunakan untuk menggolongkan suatu negara menjadi negara industri, pertanian, atau jasa. Contohnya, berdasarkan perhitungan pendapatan nasional dapat diketahui bahwa Indonesia termasuk negara pertanian atau agraris, Jepang merupakan negara industri, Singapura termasuk negara yang muncul di sektor jasa, dan sebagainya.
   Di samping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekonomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian, pertambangan, industri, perdagangan, jasa, dan sebagainya.

B. Membandingkan Kemajuan Perekonomian dari Waktu ke Waktu
   Umumnya data pendapatan nasional dibuat setiap tahun sehingga dapat digunakan untuk membandingkan besarnya pendapatan nasional suatu negara dari tahun ke tahun. Perbandingan dilakukan biasanya tidak hanya berdasarkan harga berlaku, tapi juga dengan metode perbandingan data berdasarkan harga tetap atau konstan, dengan menggunakan sebuah tahun dasar sebagai tolak ukur. Hal ini disebabkan karena perbandingan pendapatan nasional berdasarkan harga berlaku mungkin saja terkena pengaruh inflasi, sehingga setiap kenaikan yang terjadi bisa jadi disebabkan oleh adanya inflasi dari tahun ke tahun. Dengan menggunakan metode harga konstan, maka kita akan dapat melihat gambaran kemajuan pendapatan pendapatan nasional yang sebenarnya (riil).

C. Membandingkan Perekonomian Antarnegara atau Antardaerah
   Data perhitungan pendapatan nasional selain dapat digunakan untuk membandingkan perekonomian suatu negara dengan negara lain, juga dapat digunakan untuk membandingkan perekonomian antara suatu daerah atau propinsi dengan daerah atau propinsi lainnya. Perhitungan ini berguna untuk menilai seberapa jauh ketertinggalan atau kemajuan perekonomian suatu negara atau daerah dibandingkan dengan negara atau daerah lainnya.
 
Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional
Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional
D. Sebagai Landasan Perumusan Kebijakan Pemerintah
   Data pendapatan nasional dapat digunakan sebagai landasan atau pedoman bagi pemerintah untuk menetapkan kebijakan perekonomian. Dengan mengetahui kontribusi masing-masing sektor perekonomian terhadap pendapatan nasional berikut kemajuan atau kemundurannya, maka pemerintah dapat melihat sektor mana yang masih dapat digali potensinya, sektor mana yang harus mendapatkan prioritas, sehingga pemerintah dapat menentukan kebijakan apa yang harus diambil untuk memperbaiki situasi perekonomian.

Labels:

Tuesday, 27 October 2015

Pendapatan Perkapita

    Pendapatan Perkapita (per capita income/PCI) adalah pendapatan rata-rata untuk masing-masing penduduk dalam suatu negara selama satu periode tertentu. Perhitungan pendapatan per kapita adalah pendapatan nasional dibagi menjadi jumlah penduduk. Pembahasan kali ini, kita akan membahas mengenai Pendapatan Perkapita. Dalam Pendapatan Perkapita akan dibahas mengenai Indikator Kesejahteraan Negara, Standar Pertumbuhan Kemakmuran Negara, Pembanding Tingkat Kemakmuran Antarnegara, dan Menghitung Pendapatan Perkapita. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Pendapatan Perkapita yaitu sebagai berikut.

Pendapatan Perkapita

1. Indikator Kesejahteraan Negara
    Angka pendapatan perkapita merupakan ukuran yang paling dapat diandalkan untuk melihat tingkat kesejahteraan suatu negara. Ini disebabkan karena pendapatan perkapita telah mencakup faktor jumlah penduduk sehingga secara langsung menunjukkan tingkat kemakmuran, sementara komponen pendapatan nasional lainnya seperti GNP, GDP, dan sebagainya belum menunjukkn tingkat kemakmuran masyarakat secara langsung karena tidak memperhitungkan faktor jumlah penduduk.
  Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut. Misalkan pendapatan nasional negara A dengan negara B adalah sama, yaitu Rp. 100 milyar. Namun negara A mempunyai penduduk 5 juta sedangkan negara B mempunyai penduduk 10 juta. Terlihat jelas bahwa tingkat kemakmuran negara A tidak sama dengan negara B, karena negara B penduduknya dua kali lebih banyak, meskipun pendapatan nasional kedua negara tersebut sama. Apabila dibagi dengan jumlah penduduknya, pendapatan tiga penduduk negara A jauh lebih besar daripada pendapatan penduduk negara B.
  
2. Standar Pertumbuhan Kemakmuran Negara
   Pendapatan perkapita merupakan standar umum untuk membandingkan tingkat kemakmuran atau kesejahteraan suatu negara dari tahun ke tahun. Apbila pendapatan perkapita meningkat, maka dapat dikatakan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat. Namun, untuk memastikan apakah kesejahteraan masyarakat memang benar-benar meningkat, kita harus memperhitungkan pendapatan perkapita secara riil, yaitu peningkatan pendapatan perkapita dibandingkan dengan tingkat kenaikan harga atau inflasi.
   Sebagai contoh, misalkan pendapatan perkapita negara A pada suatu periode sebesar Rp. 100 milyar. Pada periode berikutnya meningkat 50 persen, menjadi Rp.150 milyar. Namun dalam periode yang sama, ternyata inflasi juga meningkat 50 persen. Katakanlah harga sebuah barang yang pada periode sebelumnya Rp100 ribu sekarang menjadi Rp150 ribu. Peningkatan pendapatan perkapita tersebut menjadi tidak ada artinya karena daya beli masyarakat tidak bertambah. Sehingga dapat dikatakan bahwa dibandingkan dengan tingkat harga periode sebelumnya, secara riil pendapatan perkapita negara A tidak berubah.

3. Pembanding Tingkat Kemakmuran Antarnegara
   Selain sebagai pembanding tingkat kemakmuran suatu negara dari tahun ke tahun, pendapatan perkapita juga umum digunakan sebagai pembanding tingkat kemakmuran antar negara yang satu dengan lainnya. Dengan menetapkan standar pendapatan perkapita, maka negara-negara di dunia dapat dikelompokkan ke dalam negara berpendapatan rendah, menengah, atau tinggi.
    Secara ringkas, kita dapat menyimpulkan beberapa manfaat dari perhitungan pendapatan perkapita, yaitu:
a. Mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara dari waktu ke waktu.
b. Membandingkan tingkat kesejahteraan antar negara satu dengan lainnya.
c. Sebagai pedoman bagi pemerintah dalam membuat kebijakan ekonomi.
d. Mengelompokkan berbagai negara ke dalam beberapa tingkat pendapatan.

4. Menghitung Pendapatan Perkapita
    Perhitungan pendapatan perkapita pada umumnya dilakukan dengan membagi komponen pendapatan nasional seperti PNB atau PDB dengan jumlah penduduk suatu negara. Untuk lebih jelasnya, lihat rumus-rumus berikut.
Rumus Pendapatan Perkapita
Rumus Pendapatan Perkapita

   Bank Dunia (World Bank) pada tahun 2001 telah mengelompokkan negara-negara di seluruh dunia menjadi lima kelompok berdasarkan pendapatan perkapitanya, yaitu:
a. Kelompok negara berpendapatan rendah (low income economies), yaitu orang-orang yang memiliki PNB perkapita US$520 atau kurang.
b. Kelompok negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income economies), yaitu negara-negara yang memiliki PNB perkapita sekitar US$1740.
c. Kelompok negara berpendapatan menengah (middle income economies), yaitu negara-negara yang memiliki PNB perkapita sekitar US$2990.
d. Kelompok negara berpendapatan menengah atas (uppermidle income economies), yaitu negara-negara yang memiliki PNB perkapita sekitat US$4870.
e. Kelompok negara berpendapatan tinggi (high income economies), yaitu negara-negara yang mempunyai PNB perkapita sekitar US$25.480.

Demikian pembahasan mengenai Pendapatan Perkapita. Semoga tulisan mengenai Pendapatan Perkapita bermanfaat bagi pembaca.

Labels:

Faktor Pengaruh Komponen Pendapatan Nasional

    Pembahasan kali ini mengeni Faktor Pengaruh Komponen Pendapatan Nasional. Dalam Faktor Pengaruh Komponen Pendapatan Nasional membahas mengenai Konsumsi dan Tabungan, serta Konsumsi dan Investasi. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Faktor Pengaruh Komponen Pendapatan Nasional yaitu sebagai berikut.

Faktor Pengaruh Komponen Pendapatan Nasional
     Komponen pendapatan nasional dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Faktor-faktor ini penting diketahui sebagai pedoman bagi pemerintah dalam menetapkan kebijakan-kebijakan ekonomi untuk meningkatkan pendapatan nasional. Untuk memudahkan analisis, sebaiknya kita menyederhanakan pembahasan, yaitu dengan membahas arus pendapatan dalam sebuah perekonomian "tertutup sederhana".
   Perekonomian tertutup artinya tidak mengenal hubungan dengan luar negeri, sehingga tidak ada kegiatan ekspor-impor. Perekonomian sederhana artinya tidak mengenai keterlibatan pemerintah dalam kegiatan perekonomian. Jadi, perekonomian tertutup sederhana adalah perekonomian yang hanya melibatkan dua pelaku, yaitu rumah tangga dan perusahaan.

A. Konsumsi dan Tabungan
   Pendapatan nasional atau disebut juga dengan Yield (Y) dalam perekonomian tertutup sederhana, dari sisi rumah tangga akan digunakan untuk dua macam hal, yaitu:
1. Membeli barang dan jasa, atau dengan kata lain melakukan kegiatan konsumsi atau consumption (C).
2. Menabung, yang disebut juga dengan saving (S).
   Bila digambarkan dengan rumus, maka kita akan mendapatkan rumus sebagai berikut.

                                                                           Y = C + S

  Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah pendapatan yang digunakan untuk konsumsi antara lain:
1. Besarnya pendapatan yang diterima oleh rumah tangga setelah dikurangi pajak dan potongan-potongan lainnya.
2. Komposisi anggota rumah tangga (jumlah dan umur anggota).
3. Kondisi lingkungan, yaitu pengaruh faktor geografis dan sosial.
4. Perkiraan masa depan, misalnya perkiraan mengenai kenaikan atau penurunan harga-harga barang dan jasa.
   Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah pendapatan yang digunakan untuk menabung antara lain:
1. Besarnya pendapatan yang diterima oleh rumah tangga setelah dikurangi pengeluaran untuk konsumsi.
2. Tingkat bunga, kenaikan tingkat bunga akan meningkatkan kecenderungan untuk menabung dan berinvestasi.
3. Keinginan untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak terduga di masa depan.

B. Konsumsi dan Investasi 
   Apabila tabungan berjumlah cukup besar, maka akan digunakan untuk kegiatan menghasilkan kembali batang dan jasa yang diperlukan konsumen. Dengan kata lain, tabungan akan digunakan untuk melakukan investasi. Bila digambarkan dengan rumus. maka akan didapat rumus berikut ini

                                                                            Y = C + S
                                                                 Y = C + I sehingga I = S

  Faktor-faktor yang mempengaruhi besar investasi antara lain:
1. Tingkat bunga. Kenaikan tingkat bunga akan mengurangi keinginan untuk berinvestasi, dan sebaliknya.
2. Jumlah permintaan. Semakin besar jumlah permintaan konsumen terhadap barang dan jasa, keinginan untuk melakukan investasi juga semakin besar.
3. Perkembangan teknologi. Kemajuan teknologi juga akan meningkatkan keinginan untuk berinvestasi, karena teknologi yang maju akan mengurangi biaya produksi dan meningkatkan jumlah keuntungan.
 
Fungsi Konsumsi, Tabungan, dan Investasi
Fungsi Konsumsi, Tabungan, dan Investasi
Demikian pembahasan mengenai Faktor Pengaruh Komponen Pendapatan Nasional. Semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

Labels:

Sunday, 25 October 2015

Komponen Pendapatan Nasional

    Pembahasan mengenai Komponen Pendapatan Nasional. Dalam Komponen Pendapatan Nasional terdiri atas Produk Nasional Bruto (PNB), Produk Domestik Bruto (PDB), Produk Nasional Netto (PNN), Pendapatan Nasional (PN), Pendapatan Perseorangan (PP), dan Pendapatan Bebas (PB). Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Komponen Pendapatan Nasional yaitu sebagai berikut.

Komponen Pendapatam Nasional
  Dalam perhitungan pendapatan nasional, dikenal beberapa komponen. Berikut pembahasan masing-masingnya.

A. Produk Nasional Bruto (PNB) = Gross National Product (GNP)
   GNP merupakan standar umum untuk mengukur kegiatan ekonomi dalam suatu negara. Di dalam Produk Nasional Bruto atau GNP, nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara selama satu periode tertentu dihitung untuk melihat besarnya pendapatan nasional.
   Yang dihitung dalam GNP adalah produksi yang dilakukan oleh penduduk negara yang bersangkutan, baik yang berada di dalam maupun di luar negeri. Barang dan jasa yang dihasilkan oleh orang asing yang sedang berada di negara tersebut tidak dihitung. Namun, barang dan jasa yang dihasilkan penduduk negara tersebut di luar negeri akan diterima kembali dan transaksi penerimaan kembali itu disebut sebagai "pembayaran luar negeri."
   Barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan GNP adalah hanya barang dan jasa yang final atau akhir saja. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi perhitungan berulang. Contoh: kita tidak menambahkan harga sebuah chip pada harga sebuah komputer. Namun, harga yang harus dibayar oleh konsumen pembeli komputer itu sudah termasuk harga chip tersebut.
   GNP juga hanya memperhitungkan barang-barang yang baru saja. Penjualan mobil bekas atau penjualan telepon selular second, tidak diperhitungkan dalam GNP. Hal ini dilakukan karena semacam itu tidak menambah produksi negara, namun hanya memindahtangankan produk dari satu orang ke orang yang lain.

Menghitung GNP
    Dalam menghitung GNP, para ahli ekonomi, mengukur aktivitas ekonomi dalam empat hal, yaitu:
1. Pengeluaran Konsumen
   Yang digolongkan dalam kegiatan konsumen merupakan barang atau jasa yang dibeli oleh konsumen untuk kegunaan langsung mereka. Contohnya: sabun, sikat gigi, dan sebagainya.
2. Pengeluaran Produsen atau Bisnis
   Dalam melakukan bisnisnya, para produsen melakukan berbagai aktivitas ekonomi dengan menggunakan berbagai peralatan, mesin-mesin, bangunan, dan sebagainya yang digunakan untuk memproduksi barang.
3. Pengeluaran Pemerintah
   Untuk menggerakkan kegiatan ekonomi, pemerintah memproduksi dan membeli berbagai jasa dan barang. Barang dan jasa itu beragam, mulai dari peralatan kantor hingga pesawat terbang.
4. Pengeluaran untuk pembelian barang dan jasa ekspor (Ekspor Netto)
   Ekspor Netto merupakan selisih antara ekspor dan impor. Angka ini bisa positif, juga bisa negatif. Tergantung apakah negara itu lebih banyak mengekspor daripada mengimpor ataukah lebih banyak mengimpor daripada mengekspor. 
   Perlu untuk diingat bahwa statistik yang digunakan untuk mengukur GNP hanya bisa akurat dalam beberapa hal saja. GNP bagus untuk mengetahui hal-hal yang bersifat kuantitatif. Untuk mencari tahun berapa banyak pengeluaran konsumsi oleh pemerintah, GNP merupakan sumber yang dapat diandalkan.
  Meskipun demikian, GNP tidak memasukkan beberapa kegiatan ekonomi. Seorang pekerja yang tidak dibayar tidak akan dihitung dalam GNP meskipun hasil kerjanya menambah output nasional. Jadi, jika seorang siswa bekerja membantu orang tuanya menjaga warung dan ia dibayar, maka pendapatannya termasuk ke dalam GNP.
   Sebaliknya, jika seorang siswa bekerja menjaga rumah tetangga tanpa dibayar, maka tidak ada tambahan di dalam GNP.
   Dari keterangan di atas, kita bisa melihat bahwa untu menghitung GNP kita harus melihat pada empat hal, yaitu pengeluaran konsumen rumah tangga, produsen, pemerintah, dan ekspor impor. Meskipun demikian, ada cara lain untuk mengukur GNP, yaitu dengan menghitung pendapatannya. Bila GNP dihitung dengan cara ini, maka ada empat jenis pendapatan yang dihitung, yaitu:
1. Gaji, termasuk semua jenis pendapatan buruh.
2. Bunga yang diperoleh oleh rumah tangga.
3. Sewa yang diterima oleh individu sebagai pembayaran sewa toko, rumah, dan lain-lain.
4. Keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan.

B. Produk Domestik Bruto (PDB) = Gross Domestic Product (GDP)
   Jika kamu diminta untuk menilai kondisi keuangan seseorang, maka hal yang pertama kali kamu lihat adalah berapa banyak uang yang dimiliki atau berapa banyak pendapatannya. Orang yang memiliki pendapatan tinggi relatif mudah untuk mencukup berbagai kebutuhan hidup dan menikmati gaya hidup mewah. Jadi, orang yang memiliki pendapatan tinggi akan menikmati standar hidup yang tinggi berarti rumah yang bagus dan besar, perawatan kesehatan yang bermutu tinggi, mobil yang bagus, sekolah dengan mutu baik, berekreasi ke tempat yang menarik, dan lain-lain.
   Logika yang sama juga berlaku pada perekonomian negara. Untuk melihat apakah suatu negara kaya atau miskin, pertama yang kita lihat adalah berap banyak pendapatan total semua orang yang tinggal di negara tersebut. Itulah yang dihitung dalam konsep PDB atau GDP.
   Produk Domestik Bruto atau GDP adalah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara selama satu periode tertentu. Meskipun demikian, sebenarnya GDP menghitung dua hal sekaligus, yakni pendapatan total setiap orang dalam suatu perekonomian, serta pengeluaran total atas seluruh output (berupa barang dan jasa) dari perekonomian negara tersebut.
   GDP berbeda dengan GNP karena GDP tidak memperhitungkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk negara bersangkutan yang berada di luar negeri. Namun, GDP  memperhitungkan produksi yang dihasilkan oelh warga negara asing yang berada di negara tempat ia tinggal. Barang dan jasa yang dihasilkan oleh orang asing akan dikembalikan ke negara asalnya, dan transaksinya dinamakan "pembayaran ke luar negeri".

Menghitung GDP
  Cara menghitung GDP secara sederhana juga ada dua.
1. Menjumlahkan pengeluaran total yang dilakukan oleh rumah tangga.
2. Menjumlahkan pendapatan total berupa upah, sewa, dan laba yang dibayarkan oleh perusahaan.
3. Menjumlahkan nilai tambah barang dan jasa yang diproduksi.
   Meskipun demikian, ada beberapa hal yang tidak dapat dihitung oleh GDP. Karena GDP menggunakan harga pasar untuk menilai berbagai barang dan jasa, maka GDP tidak mampu mengukur nilai berbagai hal penting yang tidak masuk ke pasar. Secara khusus, GDP menghilangkan nilai barang dan jasa yang diproduksi di rumah. Masakan yang dibuat di restoran oleh koki ikut menjadi bagian dari GDP. Namun, ibu memasak makanan di rumah tidak ikut dimasukkan ke dalam perhitungan GDP. Ketika seorang anak dirawat di rumah sakit, maka biayanya ikut dihitung dalam GNP. Namun bila perawatan anak yang sakit itu dilakukan di rumahnya, maka perawatannya tidak dihitung dalam GDP.
   Hal lain yang tidak dimasukkan ke dalam penghitungan GDP adalah kualitas lingkungan hidup. Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika pemerintah menghapus semua peraturan perlindungan lingkungan hidup untuk memacu produksi barang dan jasa. Perusahaan akan berusaha semaksimal mungkin meningkatkan produksi tanpa mempedulikan lingkungan hidup. GDP akan naik, namun pada saat yang bersamaan pencemaran lingkungan akan naik juga. Kalau hal ini terjadi, kemungkinan kesejahteraan penduduk juga akan merosot.

C. Produk Nasional Netto (PNN) = Net National Product (NNP)
    Pada dasarnya, nilai suatu benda dalam jangka waktu tertentu dapat menurun karena terus menerus dipakai. Misalnya mobil. Harga mobil yang telah dipakai setahun tentu saja berbeda dengan mobil yang baru saja keluar dari pabrik dan belum pernah dipakai sebelumnya. GNP tidak memperhitungkan hal ini. GNP tidak memperhitungkan depresiasi atau penyusutan nilai dari suatu barang tertentu.
   Karena itulah ada istilah Produk Nasional Netto (PNN) atau Net National Product (NNP).
   Produk Nasional Netto atau NNP adalah GNP dikurangi penyusutan barang-barang modal yang ada selama satu periode tertentu. Jumlah NNP sama dengan jumlah pendapatan Rumah Tangga Konsumsi sebagai imbalan atas penyerahan faktor produksi sehingga NNP disebut juga dengan Pendapatan Nasional Netto atau NNI (Net National Income). Namun demikian, jumlah ini belum seluruhnya diterima oleh Rumah Tangga Konsumsi (pemilik faktor produksi) sebab masih harus dikurangi lagi dengan pajak tidak langsung.

D. Pendapatan Nasional (PN) = National Income (NI)
  Pendapatan Nasional adalah NNP atau NNI dikurangi pajak tidak langsung. Jumlah inilah yang diterima oleh Rumah Tangga Konsumsi (pemilik faktor produksi). Dengan kata lain, Pendapatan Nasional adalah imbalan yang diterima oleh Rumah Tangga Konsumsi dalam suatu negara atas penyerahan faktor-faktor produksi selama satu periode.
   Seperti GNP dibagi dalam empat area aktivitas ekonomis, NI dibagi menjadi lima tipe pendapatan, yaitu:
1. Upah dan gaji yang dibayarkan kepada pekerja.
2. Pendapatan yang didapat oleh seorang wiraswasta atau individu, termasuk petani dan pemilik perusahaan perseorangan.
3. Pendapatan dari sewa
4. Keuntungan perusahaan
5. Bunga dari simpanan dan investasi yang diterima oleh individu.

E. Pendapatan Perseorangan (PP) = Personal Income (PI)
   Pendapatan perseorangan atau PI adalah NI dikurangi jaminan sosial, laba ditahan, pajak laba perusahaan, ditambah pembayaran pindahan (transfer payment).
   Yang dimaksud dengan pembayaran pindahan adalah pembayaran untuk kesejahteraan atau tunjangan lain, seperti kompensasi untuk pengangguran, jaminan sosial, dan asuransi kesehatan, yang diperuntukkan bagi individu yang diatur oleh negara. Pembayaran pindahan ini menambah penghasilan seseorang, namun tidak dapat dikatakan bahwa produktifitas orang tersebut bertambah sejumlah pembayaran pindahan tersebut.

F. Pendapatan Bebas (PB) = Disposable Income (DI)
   Pendapatan Bebas atau DI adalah pendapatan yang betul-betul menjadi hak mutlak penerima, atau dengan kata lain pendapatan yang siap dibelanjakan dengan bebas. Besar Pendapatan Bebas sama dengan PI dikurangi pajak tidak langsung.
 
Komponen Pendapatan Nasional
Komponen Pendapatan Nasional
Demikian pembahasan mengenai Komponen Pendapatan Nasional. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

Labels:

Unsur-Unsur dalam Laporan Keuangan

    Pembahasan kali ini mengenai Unsur-Unsur dalam Laporan Keuangan. Dalam Unsur-Unsur Laporan Keuangan terdiri atas Neraca, Ekuitas, Laporan Laba/Rugi, dan Laporan Perubahan Ekuitas. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Unsur-Unsur dalam Laporan Keuangan yaitu sebagai berikut.

Unsur-Unsur dalam Laporan Keuangan
   Adapun unsur-unsur penyusun laporan keuangan adalah sebagai berikut.
1. Neraca
    Neraca sebagai laporan yang berkaitan langsung dengan pengukuran posisi keuangan perusahaan. Neraca mempunyai unsur-unsur penyusun sebagai berikut.

a. Aktiva (Asset)
   Aktiva adalah sumber daya ekonomi yang dimiliki perusahaan, yang timbul dari peristiwa masa lalu dan akan memberikan manfaat ekonomis di masa yang akan datang. Dalam neraca, sebagian besar aktiva perusahaan akan disusun urut berdasarkan tingkat kelancarannya (likuiditas), kecuali untuk aktiva tetap yang disusun urut berdasarkan tingkat kekekalannya. Kelancaran (likuiditas) adalah kecepatan perputaran aktiva untuk habis digunakan atau untuk berubah menjadi bentuk kas, semakin cepat berubah menjadi bentuk kas atau habis dipakai maka aktiva tersebut dikatakan semakin lancar.
   Berdasar hal tersebut maka unsur-unsur aktiva dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1) Aktiva Lancar (Current Assets)
   Aktiva lancar adalah aktiva yang akan habis digunakan atau mempunyai manfaat atau berubah bentuk menjadi kas menjadi kas dalam waktu kurang dari satu tahun. Contoh ktiva lancar adalah kas, persediaan barang dagang.
2) Investasi Jangka Panjang (Long Term Investment)
   Investasi jangka panjang adalah sumber ekonomis (aktiva) yang dimiliki oleh perusahaan dengan tujuan bukan untuk digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, namun mempunyai tujuan lain seperti membeli saham untuk mengakuisisi (membeli) perusahaan lain.
3) Aktiva Tetap (Fixed Assets)
   Hampir sama dengan aktiva lancar, namun aktiva tetap periodenya lebih panjang yaitu lebih dari satu tahun. Untuk bisa dikategorikan ke dalam aktiva tetap, suatu aktiva harus mempunyai ciri-ciri berikut.
a) Aktiva tersebut dibeli dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasi perusahaan.
b) Mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Contoh aktiva tetap adalah kendaraan, mesin-mesin produksi, dan sebagainya.
4) Aktiva Tidak Berujud (Intangible Assets)
   Aktiva tidak berujud adalah aktiva yang melekat pada perusahaan secara keseluruhan dan tidak dapat diidentifikasi secara fisik namun dirasakan manfaatnya bagi perusahaan. Contohnya merek, hak cipta, goodwill, dan sebagainya. Merek tidak bisa diidentifikasi secara fisik, namun bisa dirasakan manfaatnya bagi perusahaan, misalnya konsumen akan cenderung memilih produk tertentu dengan cara melihat mereknya. Karena aktiva tetap tidak berujud ini merupakan aset perusahaan, maka harus dilindungi keberadaannya dari pihak-pihak yang ingin menirunya.
5) Aktiva Lain-Lain
   Aktiva lain-lain adalah aktiva yang tidak memenuhi klasifikasi di atas. Adapun contohnya adalah peralatan mesin yang masih mempunyai umur ekonomis namun kondisinya telah rusak, dana jaminan, dan sebagainya.

b. kewajiban
   Kewajiban adalah utang perusahaan saat ini yang timbul sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan akan dibayar oleh perusahaan di masa yang akan datang dengan sumber daya ekonomi yang ada. Kewajiban sering juga disebut utang. 
   Penyajian kewajiban di dalam neraca akan diurutkan dari yang paling dekat/cepat tanggal jatuh tempo atau tanggal pembayaran. Kewajiban dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
1) Kewajiban Jangka Pendek (Current Liabilities)
   Kewajiban jangka pendek adalah kewajiban perusahaan yang akan dibayar atau dilunasi dalam waktu kurang dari satu tahun dengan sumber daya ekonomis yang ada. Contoh kewajiban jangka pendek adalah utang dagang (account payable).
2) Kewajiban Jangka Panjang
   Hampir sama dengan kewajiban jangka pendek, namun dalam kewajiban jangka panjang, kewajiban tersebut harus dibayar dalam kurun waktu lebih dari satu tahun. Adapun contoh kewajiban jangka panjang adalah utang obligasi (bond payable).

2. Ekuitas
   Ekuitas dapat diartikan sebagai hak residual (sisa) atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Jika diformulasikan seperti berikut.

                                               AKTIVA - KEWAJIBAN = EKUITAS

   Dalam neraca, ekuitas disajikan secara urut berdasarkan tingkat kekekalannya. Semakin kekal (tidak berubah-ubah) maka akan ditempatkan pada urutan pertama, demikian seterusnya ke bawah. Ekuitas sering juga disebut modal.
   Adapun elemen penyusun ekuitas adalah sebagai berikut.
a. Modal
   Modal adalah penyerahan kas atau aktiva bentuk lain sebagai penyertaan seseorang pada suatu perusahaan. Sebagai gantinya, jika perusahaan berbentuk perseroan terbatas maka perusahaan akan memberikan lembar saham sebagai bukti kepemilikan seseorang terhadap perusahaan. Modal perusahaan akan terbagi-bagi ke dalam lembar saham. Banyak sedikitnya saham tergantung dari besar kecilnya modal perusahaan dan juga besar kecilnya nilai normatif (nilai yang tertera dalam lembar saham). Namun jika perusahaan adalah perusahaan perorangan maka cukup dicatat dalam jurnal saja.
b. Agio Saham
   Ketika suatu perusahaan go public (sahamnya dijual kepada masyarakat luas dan terdaftar di bursa efek) maka harga saham perusahaan akan berfluktuasi mengikuti pergerakan harga pasar di bursa efek. Bila harga saham lebih besar dari nilai nominal maka kelebihan ini dinamakan agio, sedangkan bila harga saham lebih kecil dari nilai nominal maka selisih kurang ini disebut disagio. Penilaian penentuan agio/disagio dilakukan setiap akhir periode tertentu.
c. Laba Ditahan
   Laba ditahan adalah bagian laba yang tidak dibagikan kepada pemilik. Laba diperoleh dari penghasilan dikurangi dengan biaya.
   Selain itu di dalam neraca dikenal beberapa akun lawan (contra account). Akun lawan ini berfungsi sebagai penyesuai dari jumlah yang seharusnya disajikan, contohnya cadangan kerugian piutang berikut.

Piutang                                    750.000,00
Cadangan kerugian piutang       50.000,00
Piutang yang dapat direalisasi = 700.000,00

3. Laporan Laba/Rugi
   Laporan laba rugi merupakan laporan yang berkaitan dengan pengukuran kinerja (prestasi) perusahaan selama kurun waktu tertentu. Adapun unsur-unsur penyusun laporan laba/rugi adalah sebagai berikut.
a. Penghasilan (Income)
   Penghasilan adalah kenaikan manfaat ekonomis dalam bentuk aliran kas masuk yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari tambahan modal, selama periode tertentu. Kenaikan manfaat ekonomi bisa diperoleh dengan cara penjualan barang/jasa, pendapatan bunga, keuntungan penjualan aktiva tetap, dan sebagainya.
   Unsur-unsur penghasilan meliputi pendapatan (revenues), keuntungan (gains), dan pendapatan lain-lain.
1) Pendapatan (Revenues)
   Pendapatan adalah kenaikan manfaat ekonomis yang timbul dari kegiatan operasional utama perusahaan. Pengertian kegiatan operasional utama perusahaan adalah kegiatan di mana perusahaan tersebut fokus berkecimpung. Sebagai contoh, jika perusahaan tersebut adalah perusahaan dagang maka kegiatan utama perusahaan adalah jual/beli barang dagang, sehingga pendapatan perusahaan berasal dari penjualan barang dagang, bukan dari penjualan aktiva tetapnya. Contoh pendapatan adalah penjualan barang dagang.
2) Keuntungan (Gains)
   Keuntungan adalah manfaat ekonomis yang mungkin timbul atau tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan. Sebagai contoh keuntungan dari penjualan aktiva tetap. Penjualan aktiva tetap tidak terjadi setiap periode, dan tidak setiap penjualan aktiva tetap perusahaan mendapatkan keuntungan, dan kegiatan utama perusahaan bukan jual/beli aktiva tetap, sehingga laba penjualan aktiva tetap ini dimasukkan dalam kategori keuntungan.
3) Pendapatan Lain-Lain
  Pendapatan lain-lain adalah wadah untuk menampung penghasilan yang tidak masuk dalam kedua kategori di atas. Sebagai contoh, pendapatan bunga bagi perusahaan dagang yang mempunyai rekening di bank.

b. Biaya (Cost)
   Biaya adalah penurunan atau perubahan manfaat ekonomis yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan, selama periode tertentu. Perubahan manfaat ekonomis bisa diakibatkan dari pembelian barang/jasa (dari bentuk kas menjadi barang), sedangkan penurunan manfaat disebabkan oleh pemakaian dalam kegiata operasional perusahaan, bencana alam, dan sebagainya.
   Unsur-unsur biaya meliputi biaya (cost), beban (expenses), dan kerugian (loss).
1) Biaya (cost)
   Biaya adalah perubahan manfaat ekonomis yang timbul dari kegiatan operasional utama perusahaan. Sebagai contoh, jika perusahaan tersebut adalah perusahaan manufaktur maka kegiatan utama perusahaan adalah mengubah bahan baku menjadi bahan jadi kemudian menjualnya kepada konsumen, sehingga biaya merupakan kumpulan dari pengeluaran untuk membeli bahan baku, membayar upah buruh, dan pengeluaran lainnya dalam rangka memproses bahan baku menjadi produk jadi. Contohnya biaya bahan baku.
2) Beban (Expense)
   Beban adalah pengorbanan sumber daya ekonomis untuk memperoleh penghasilan. Dalam laporan keuangan, beban adalah faktor pengurang penghasilan. Sebagai contoh gaji wiraniaga, beban penyusutan gedung, dan sebagainya.
3) Kerugian (Loss)
   Kerugian adalah berkurangnya manfaat ekonomis yang mungkin timbul atau tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan. Sebagai contoh kerugian sebagai akibat dari adanya kebakaran, bencana alam, banjir, dan sebagainya.

4. Laporan Perubahan Ekuitas
   Laporan perubahan ekuitas menyajikan perubahan aktiva bersih (aktiva - kewajiban) dalam periode tertentu.
  Unsur-unsur dalam laporan perubahan ekuitas adalah sebagai berikut.
a. Saldo Awal Periode
    Saldo awal periode berisi jumlah dari komposisi awal ekuitas perusahaan pada periode tersebut.
b. Laba Bersih Periode Berjalan
   Laba bersih periode berjalan berasal dari laporan laba/rugi. Bila terjadi laba akan menambah jumlah ekuitas, demikian pula sebaliknya bila terjadi rugi akan mengurangi ekuitas.
c. Transaksi yang Berkaitan dengan Pemilik
   Bila perusahaan dalam bentuk perseroan terbatas, maka dalam kelompok ini meliputi pembagian dividen kepada para pemegang saham, penerbitan saham baru, dan sebagainya. Sedangkan bila perusahaan perorangan maka meliputi pengambilan sebagian dana perusahaan untuk pemilik (sering disebut prive), penarikan atau penyetoran kembali modal, dan sebagainya.
 
Unsur-Unsur dalam Laporan Keuangan
Unsur-Unsur dalam Laporan Keuangan
Demikian pembahasan mengenai Unsur-Unsur dalam Laporan Keuangan. Semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.
 



Labels:

Saturday, 24 October 2015

Sifat, Isi, Tujuan, dan Fungsi Laporan Keuangan

    Sifat Laporan Keuangan, Isi Laporan Keuangan, Tujuan Laporan Keuangan, dan Fungsi Laporan Keuangan. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Sifat Laporan Keuangan, Isi Laporan Keuangan, Tujuan Laporan Keuangan, dan Fungsi Laporan Keuangan yaitu sebagai berikut.

Sifat Laporan Keuangan, Isi Laporan Keuangan, Tujuan Laporan Keuangan, dan Fungsi Laporan Keuangan

1. Sifat Laporan Keuangan
    Laporan Keuangan yang merupakan salah satu informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan mempunyai sifat-sifat berikut.
a. Laporan keuangan adalah laporan yang bersifat periodik (dibuat dalam kurun waktu tertentu) sehingga bukan laporan final tentang kondisi keuangan perusahaan.
b. Laporan keuangan berdasarkan asumsi bahwa perusahaan akan berjalan terus (going concern). Hal ini berdampak bahwa aktiva tetap disajikan berdasar harga historis dikurangi akumulasi depresiasinya. Angka yang tercantum hanya sebesar nilai buku yang belum tentu sama dengan harga pasar atau nilai gantinya aktiva tersebut.
c. Laporan keuangan tidak dapat mencerminkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi posisi keuangan perusahaan selama faktor tersebut tidak dapat dinyatakan dengan nilai uang.
d. Adanya beberapa alternatif metode yang bisa dipilih dalam penyusunan laporan keuangan, sehingga dimungkinkan data yang sama memberikan hasil yang berbeda karena penggunaan metode yang berbeda.

2. Isi Laporan Keuangan
   Dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) disebutkan bahwa laporan keuangan yang lengkap adalah sebagai berikut.
a. Neraca (Balance Sheet)
   Neraca adalah laporan yang berkaitan langsung dengan pengukuran posisi dan struktur keuangan perusahaan. Neraca dibagi dalam dua kelompok besar yaitu aktiva (yang berisi aktiva/asset perusahaan) dan pasiva (yang berisi kewajiban dan ekuitas perusahaan).
b. Laporan Laba/Rugi (Income Statement)
   Laporan laba/rugi adalah laporan yang berkaitan dengan pengukuran kinerja (prestasi) perusahaan selama kurun waktu tertentu. Laporan ini memuat jumlah penghasilan perusahaan dan biaya-biaya yang terjadi selama kurun waktu tertentu. Dengan mengurangkan beban ke pendapatan tersebut dapat diketahui berapa laba yang berhasil diperoleh perusahaan.
c. Laporan Perubahan Ekuitas (Modal)
   Laporan perubahan ekuitas adalah laporan yang menyajikan perubahan aktiva bersih (aktiva-kewajiban) dalam periode tertentu. Laporan ini menggambarkan jumlah laba atau rugi yang berasal dari kegiatan operasi perusahaan dan perubahan komposisi ekuitas yang berasal dari transaksi pemilik.
d, Laporan Aliran Kas
   Laporan arus kas adalah laporan mengenai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan penggunaan kas tersebut untuk kebutuhan operasional perusahaan. Laporan aliran kas digunakan para pemakai untuk mengevaluasi perubahan aktiva bersih, kemampuan membayar kewajibannya tepat waktu (likuiditas), dan sebagainya.
   Unsur-unsur yang memengaruhi laporan aliran kas adalah sebagai berikut.
1) Aktivitas Operasi
   Aktivitas operasi menyangkut kemampuan perusahaan dalam memperoleh dan menggunakan kas dari operasi kegiatannya. Adapun contohnya adalah penerimaan kas dari hasil penjualan barang dagang, pembayaran upah pekerja, dan sebagainya.
2) Aktivitas Investasi
  Dalam aktivitas investasi akan terlihat kemampuan perusahaan dalam memperoleh dan menggunakan kas dalam kaitannya dengan investasi, seperti penerimaan kas dari penjualan tanah, pengeluaran kas untuk pembelian mesin produksi, dan sebagainya.
3) Aktivitas Pendanaan
   Aktivitas pendanaan memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam memperoleh dan menggunakan kas dalam kaitannya dengan pendanaan perusahaan. Seperti penerimaan kas yang berasal dari pemilik, pengeluaran kas untuk pelunasan pinjaman, dan sebagainya.
e. Catatan Laporan Keuangan
   Catatan atas laporan keuangan merupakan informasi penjelasan rincian jumlah angka-angka yang tertera dalam neraca, laporan laba/rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas beserta informasi lainnya.
  Hal-hal yang diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan adalah sebagai berikut.
1) Dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih.
2) Informasi yang diwajibkan oleh Standar Akuntansi Keuangan namun tidak disajikan dalam laporan keuangan.
3) Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tapi diperlukan dalam rangka penyajian laporan keuangan secara wajar.

3. Tujuan Laporan Keuangan
   Dalam Standar Akuntansi Keuangan, disebutkan bahwa laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen secara berkala setiap periode mempunyai tujuan berikut.
1) Memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja (prestasi) dan aliran kas perusahaan yang berguna bagi pemakai dalam rangka pengambilan keputusan.
2) Sebagai sarana pertanggungjawaban (responsibility) manajemen atas pengelolaan perusahaan selama ini.

4. Fungsi Laporan Keuangan
  Laporan keuangan yang terdiri atas neraca, laporan laba/rugi, perubahan ekuitas, dab aliran kas mempunyai fungsi berikut.
a. Neraca
1) Menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu.
2) Memberikan informasi tentang alokasi penggunaan dana perusahaan yang merupakan kebijakan investasi perusahaan.
3) Memberikan informasi tentang sumber dana untuk membiayai investasi tersebut.
b. Laporan Laba/Rugi
1) Menilai keberhasilan operasi dan efisiensi manajemen di dalam mengolah kegiatan operasional perusahaan.
2) Menilai profitabilitas (kemampuan menghasilkan laba) dari modal yang diinvestasikan ke dalam perusahaan.
3) Membuat perencanaan laba yang akan diperoleh di masa datang.
c. Perubahan Ekuitas
1) Dapat digunakan untuk mengetahui perubahan aktiva
2) Dapat digunakan untuk mengetahui perubahan kewajiban.
3) Mengetahui kinerja perusahaan
d. Aliran Kas
1) Membantu investor dan kreditur dalam memperkirakan jumlah kas yang akan diterima dalam bentuk dividen, bunga, atau pengembalian pokok dana yang ditanam di perusahaan.
2) Membantu manajemen dalam memperkirakan risiko yang mungkin akan terjadi.
 
Sifat Laporan Keuangan, Isi Laporan Keuangan, Tujuan Laporan Keuangan, dan Fungsi Laporan Keuangan
Sifat, Isi, Tujuan dan Fungsi Laporan Keuangan
Demikian pembahasan mengenai Sifat Laporan Keuangan, Isi Laporan Keuangan, Tujuan Laporan Keuangan, dan Fungsi Laporan Keuangan. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

Labels:

Pengertian dan Ciri-Ciri Perusahaan Jasa

   Pengertian Perusahaan Jasa dan Ciri-Ciri Perusahaan Jasa. Apa itu Perusahaan Jasa? dan Bagaimana Ciri-Ciri Perusahaan Jasa? Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Pengertian Perusahaan Jasa dan Ciri-Ciri Perusahaan Jasa yaitu sebagai berikut.

Pengertian Perusahaan Jasa
   Perusahaan jasa adalah perusahaan yang mempunyai kegiatan utama memberikan pelayanan. kemudahan, dan kenyamanan kepada masyarakat untuk memperlancar aktivitas produksi maupun konsumsi. Jasa yang dihasilkan bersifat abstrak tapi bisa dirasakan manfaatnya oleh konsumen. Misalnya perusahaan jasa telekomunikasi, transportasi, dan reparasi.

Ciri-Ciri Perusahaan Jasa
   Perusahaan jasa mempunyai karakteristik sebagai berikut.
a. Jasa yang Dihasilkan Bersifat Abstrak (Intangible)
   Salah satu ciri penting dari perusahaan ini adalah keabstrakan dari jasa yang dihasilkan. Namun walaupun abstrak jasa ini bisa dirasakan manfaatnya oleh para konsumen. Contohnya jasa dokter.
b. Jasa yang Diberikan Tidak Seragam (Heterogen)
   Dalam perusahaan jasa masing-masing konsumen bisa memperoleh jenis pelayanan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Misalnya bengkel, teknisi bengkel akan memperbaiki mobil di mana ditemukan kerusakan. Bila mobil Amir yang rusak adalah bagian kemudi maka bagian kemudi yang diperbaiki, bila mobil Banu rusak di bagian kopling maka pada bagian kopling mobil Banu diperbaiki.
c. Jasa yang Dihasilkan Tidak Dapat Disimpan (Unsaveable)
   Berbeda dengan barang yang apabila dalam penggunaannya masih tersisa maka sisanya akan bisa disimpan untuk dapat digunakan di masa yang akan datang, jasa tidak dapat disimpan. Sekali dibeli maka akan segera habis penggunaannya, tidak bisa disimpan untuk penggunaan berikutnya. Contoh tiket kereta api, sekali dibeli maka harus dipakai, jika tidak dipakai pada tanggal yang tercantum, maka tiket tersebut tidak berlaku lagi.
Pengertian Perusahaan Jasa dan Ciri-Ciri Perusahaan Jasa.
Pengertian Perusahaan Jasa dan Ciri-Ciri Perusahaan Jasa.

Demikian pembahasan mengenai Pengertian dan Ciri-Ciri Perusahaan Jasa. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

Labels:

Dasar Hukum Penyelenggaraan Akuntansi

    Pembahasan kali ini mengenai Dasar Hukum Penyelenggaraan Akuntansi. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Dasar Hukum Penyelenggaraan Akuntansi yaitu sebagai berikut.

Dasar Hukum Penyelenggaraan Akuntansi
   Dasar hukum pokok penyelenggaraan pencatatan (akuntansi) di Indonesia diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) Pasal 6 ayat (1) yang mana mewajibkan kepada setiap orang yang menjalankan perusahaan untuk menyelenggarakan catatan akuntansi, sehingga sewaktu-waktu dapat diketahui segala hak dan kewajibannya.
   Selain itu dalam KUHD Pasal 6 ayat (2) dinyatakan bahwa pengurus  setiap tahun diwajibkan membuat neraca dan laporan-laporan lain yang harus selesai dibuat dalam jangka waktu selambat-lambatnya enam bulan tahun berikutnya.
   Seperti disebutkan dalam Pasal 55 ayat (1) KUHD. Manajemen perusahaan wajib memberitahukan neraca dan laporan-laporan lain kepada pemegang saham dan pihak-pihak lainnya. Dari pasal-pasal di atas terlihat jelas bahwa informasi laporan keuangan adalah hal yang penting, baik bagi manajemen sebagai pertanggungjawaban, maupun pihak-pihak lain sebagai sarana pengambilan keputusan. Selain itu untuk kepentingan pajak, laporan keuangan tersebut berbentuk pembukuan sesuai yang dipersyaratkan UU No. 16 Pasal 28 Ayat  (1) dan dalam ayat (7) dinyatakan secara eksplisit, (pembukuan) sekurang-kurangnya terdiri atas catatan mengenai harta, kewajiban, modal, penghasilan, dan biaya, serta penjualan dan pembelian sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang.
Dasar Hukum Penyelenggaraan Akuntansi
Dasar Hukum Penyelenggaraan Akuntansi

Demikian pembahasan mengenai  Dasar Hukum Penyelenggaraan Akuntansi. Semoga memberikan manfaat bagi pembaca.

Labels:

Friday, 23 October 2015

Asumsi Dasar dalam Ilmu Akuntansi.

   Pembahasan kali ini mengenai Asumsi Dasar dalam Ilmu Akuntansi. Dalam Asumsi Dasar dalam Ilmu Akuntansi membahas mengenai Kesatuan Usaha, Kesinambungan, Dasar Pencatatan, Harga Perolehan, dan Penandingan Pendapatan dengan Biaya. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Asumsi Dasar dalam Ilmu Akuntansi yaitu sebagai berikut.

Asumsi Dasar dalam Ilmu Akuntansi
   Disiplin ilmu akuntansi mempunyai asumsi dasar yang dianut dan dilaksanakan dalam penyelenggaraan pencatatan suatu organisasi. Adapun asumsi dasar yang digunakan dalam akuntansi adalah sebagai berikut.

1. Kesatuan Usaha
   Kesatuan usaha (business entity) mempunyai arti bahwa laporan keuangan perusahaan berdiri sendiri terpisah dari pemilik, manajemen, dan pihak-pihak lain. Pengertian ini mengandung makna bahwa sebelum diproses, transaksi akun diidentifikasi terlebih dahulu, mana yang merupakan transaksi perusahaan mana yang bukan. Bila hasil identifikasi menunjukkan bahwa transaksi tersebut adalah transaksi perusahaan, maka akan diproses lebih lanjut. Sebagai contoh karyawan perusahaan menyerahkan dua lembar kuitansi kepada bagian akuntansi, kuitansi pertama berisi pembelian perlengkapan kantor, kuitansi yang kedua berisi pembelian perlengkapan keluarga pegawai bagian keuangan. Sesuai dengan prinsip dasar kesatuan usaha maka hanya kuitansi pertama saja (yang berisi kuitansi pembelian perlengkapan kantor) yang akan diproses perusahaan, sedangkan kuitansi kedua akan dikembalikan pada karyawan karena bukan transaksi perusahaan.

2. Kesinambungan
   Prinsip dasar kesinambungan (going concern) adalah prinsip dasar di mana perusahaan akan terus beroperasi sampai masa yang akan datang dan tidak berkeinginan untuk melikuidasi (menutup) usahanya dalam waktu dekat. Sejalan dengan itu maka perusahaan menyajikan laporan keuangan secara berkala tiap periodenya.

3. Dasar Pencatatan
    Secara umum dasar pencatatan yang digunakan adalah dasar aktual (accrual basic). Dasar akrual mempunyai pengertian bahwa transaksi diakui pada saat terjadinya, tanpa harus ada kas masuk (penerimaan) atau kasa keluat (pembayaran), dan dicatat serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan, sehingga laporan keuangan akan mencerminkan informasi yang sebenarnya telah terjadi. Contohnya perusahaan membeli barang dagangan secara kredit, dalam akuntansi transaksi ini akan dicatat pada saat terjadi pembelian tanpa harus menunggu pengeluaran (pembayaran) kas tunai pada penjual.
   Lawan dari accrual basic adalah cash basic, dasar penentuan dalam cash basic saat pengakuan adalah aluran kas. Sebelum kas tunai diterima/dibayarkan maka transaksi akan ditunda pengakuannya oleh perusahaan. Misalnya perusahaan membeli barang secara kredit, bila menggunakan metode ini transaksi tersebut akan ditunda pengakuannya sampai dikeluarkannya pembayaran kas tunai pada penjual. Dalam kenyataannya selain untuk laporan aliran kas metode cash basic sudah jarang digunakan oleh perusahaan dalam penyelenggaraan catatan akuntansinya.

4. Harga Perolehan
   Prinsip dasar harga perolehan berkaitan dengan penentuan nilai (harga) aktiva baru yang diperoleh perusahaan. Harga perolehan adalah jumlah kas yang dibayarkan atau nilai wajar aktiva lama yang diserahkan (bila memperolehnya dengan tukar tambah) untuk memperoleh suatu aktiva, termasuk di dalamnya pengeluaran-pengeluaran lain sampai aktiva tersebut dalam kondisi yang siap digunakan.
   Pengertian ini mengandung maksud bahwa ada pengeluaran-pengeluaran lain yang harus dikapitalisasi (ditambahkan) dalam harga perolehan aktiva selain dari harga beli aktiva baru. Pengeluaran tersebut antara lain seperti pajak, biaya angkut, biaya asuransi, dan sebagainya.
Contoh:
   Perusahaan membeli mesin produksi dengan harga Rp150.000.000,00; pembelian tersebut dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) 10%, yaitu Rp15.000.000,00; biaya angkut ke lokasi Rp2.000.000,00, biaya pemasangan kembali mesin Rp500.000,00 maka besarnya harga perolehan mesin tersebut adalah sebagai berikut.
Harga beli                                  150.000.000,00
PPN                                           15.000.000,00
Biaya angkut                              2.000.000,00
Biaya pemasangan                       500.000,00
Harga perolehan aktiva            167.500.000,00

5. Penandingan Pendapatan dengan Biaya
   Asumsi dasar ini lebih menekankan pada penandingan pendapatan dengan biaya dalam periode yang sama. Untuk periode pelaporan kepan, biaya, dan pendapatan yang terjadi tersebut disajikan, apakah periode pelaporan saat ini atau periode pelaporan yang akan datang? Dasar yang digunakan untuk menentukan pada periode kapan biaya dan pendapatan tersebut disajikan adalah hubungan (keterkaitan) langsung antara biaya yang timbul dengan pendapatan tertentu yang diperoleh.
Contoh:
   Untuk memproduksi satu set mebel, perusahaan memerlukan 10 lembar bahan baku papan Rp8.000,00; dua tenaga kerja dengan upah Rp45.000,00 dan bahan penolong lain sebanyak 4 kg Rp1.500,00; sehingga totalnya adalah (10 x Rp8.000,00) + (2 x Rp45.000,00) + (4 x Rp2.000,00) = Rp178.000,00.
   Dalam satu periode perusahaan berhasil memproduksi 15 set dengan total pengeluaran Rp2.670.000,00. Dalam periode ini barang yang terjual 8 unit, maka dari sejumlah pengeluaran tersebut, hanya jumlah Rp1.424.000,00 (8 x Rp178.000,00) saja yang dianggap sebagai biaya (harga pokok produksi) pada periode ini. Sisanya akan dianggap sebagai biaya (hatga pokok produksi) pada saat barang tersebut laku terjual.
 
Asumsi Dasar dalam Ilmu Akuntansi.
Asumsi Dasar dalam Ilmu Akuntansi.
Demikian pembahasan mengenai Asumsi Dasar dalam Ilmu Akuntansi. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

Labels:

Pengertian Pendapatan Nasional

    Pembahasan kali ini mengenai Pengertian Pendapatan Nasional. Dalam Pendapatan Nasional membahas Pendekatan Pendapatan, Pendekatan Produksi, dan Pendekatan Pengeluaran. Untuk lebih jelasnya pembahasan mengenai Pengertian Pendapatan Nasional yaitu sebagai berikut.

Pengertian Pendapatan Nasional
    Pendapatan atau income adalah uang yang diterima oleh seseorang dan perusahaan dalam bentuk gaji, upah, sewa, bunga, dan laba; termasuk juga beragam tunjangan, seperti kesehatan dan pensiun. Dalam analisis mikroekonomi, istilah pendapatan menunjuk pada aliran penghasilan dari penyediaan faktor-faktor produksi untuk periode tertentu. Dalam analisis makroekonomi, istilah pendapatan menunjuk pada pendapatan nasional suatu negara.
   Pendapatan Nasional dapat didefinisikan dengan tiga cara:
1. Nilai seluruh produk (barang dan jasa) yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu.
2. Jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh faktor produksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu.
3. Jumlah pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu.
     Mengapa pendapatan nasional dapat didefinisikan dengan tiga cara di atas? Untuk jawaban yang jelas, perhatikanlah gambar berikut!
Kegiatan Ekonomi
Kegiatan Ekonomi
   Gambar di atas menunjukkan arus kegiatan ekonomi dalam suatu negara secara sederhana. Kita mengetahui pelaku-pelaku ekonominya, yaitu rumah tangga (konsumen) dan perusahaan (produsen). Rumah tangga menyalurkan faktor-faktor produksi kepada  perusahaan, untuk itu mereka memperoleh pendapatan. Dengan menggunakan faktor-faktor produksi tersebut, perusahaan memproduksi berbagau produk (barang dan jasa) yang kemudian dijual kepada konsumen. Biaya yang dikeluarkan konsumen untuk mendapatkan barang dan jasa tersebut dinamakan pengeluaran.
   Inilah asal-usul ketiga definisi pendapatan nasional di atas, sehingga menjadi jelas bahwa pendapatan nasional dapat dihitung dengan tiga cara atau pendekatan, yaitu dengan menghitung pendapatan nasional, menghitung produk nasional, dan menghitung jumlah pengeluaran nasional. Apabila dihitung, baik pendapatan, produksi, maupun pengeluaran nasional, jumlah atau nilainya akan sama, karena ketiganya berada dalam diagram arus perputaran yang sama.
   Sekarang marilah kita membahas masing-masing pendekatan penghitungan pendapatan nasional tersebut dengan lebih mendalam.

A. Pendekatan Pendapatan
   Pendekatan pendapatan adalah metode penghitungan pendapatan nasional dengan menghitung jumlah seluruh pendapatan (upah, sewa, bunga, laba) yang diterima rumah tangga konsumsi dalam suatu negara selama satu periode tertentu, sebagai imbalan atas faktor-faktor produksi yang diberikan kepada perusahaan (tenaga kerja, tanah, modal, skill).

B. Pendekatan Produksi
   Pendekatan produksi adalah metode penghitungan pendapatan nasional dengan menghitung jumlah nilai seluruh produk (barang dan jasa) yang dihasilkan dalam suatu negara selama satu periode tertentu. Nilai produk yang dihitung dengan pendekatan ini adalah nilai jasa dan barang jadi. Ini dilakukan agar tidak terjadi perhitungan ganda (double counting). Sebagai contoh, untuk produk roti yang berasal dari gandum, kemudian tepung terigu, lalu menjadi roti, kita tidak menghitung nilai gandum yang dijual kepada pabrik tepung, dan nilai tepung yang dijual ke pabrik roti.
   Untuk menghindari terjadinya penghitungan ganda ini, dapat digunakan metode penghitungan nilai tambah, pada setiap tahap produksi suatu barang, yang dihitung hanya nilai tambah terhadap barang tersebut. Misalnya, harga gandum (per kg) Rp5000. Harga tepung (per kg) Rp7000. Maka nilai tambah tepung terigu adalah 7000-5000 = 2000. 

C. Pendekatan Pengeluaran
   Pendekatan pengeluaran adalah metode penghitungan pendapatan nasional dengan menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu.
   Perhitungan dengan pendekatan ini dilakukan dengan menhitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu: rumah tangga, pemerintah, perusahaan, dan masyarakat luar negeri. Jenis pengeluaran dari masing-masing pelaku tersebut yaitu:
1. Pembelian atau belanja oleh rumah tangga
2. Pengeluaran konsumsi oleh pemerintah
3. Pengeluaran investasi oleh perusahaan
4. Pembelian barang dan jasa ekspor oleh masyarakat luar negeri (nilai ekspor dikurangi nilai impor).

Demikian pembahasan mengenai Pengertian Pendapatan Nasional. Semoga tulisan mengenai Pengertian Pendapatan Nasional memberikan manfaat bagi pembaca.

Labels: