Monday, 31 July 2017

Produk Kerajinan dari Bahan Lunak

Pembahasan kali ini tentang Produk Kerajinan dari Bahan Lunak. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Produk Kerajinan dari Bahan Lunak yaitu sebagai berikut;

Produk Kerajinan dari Bahan Lunak
 
Produk kerajinan lebih banyak memanfaatkan bahan-bahan alam seperti tanah liat, serat alam, kayu, bambu, kulit, logam, batu, rotan dan lain-lain. Ada juga yang memanfaatkan bahan sintetis sebagai bahan kerajinan seperti limbah kertas, plastik, karet. Pembuatan produk kerajinan di setiap daerah memiliki jenis kerajinan lokal yang menjadi unggulan daerah. Misalnya, Kasongan (Daerah Istimewa Yogyakarta), sumber daya alam yang banyak tersedia tanah liat, kerajinan yang berkembang adalah kerajinan keramik. Palu (Sulawesi Tengah), sumber daya alamnya banyak menghasilkan tanaman kayu hitam, kerajinan yang berkembang berupa bentuk kerajinan kayu hitam. Kapuas (Kalimantan Tengah), sumber daya alamnya banyak menghasilkan rotan dan getah nyatu sehingga kerajinan yang berkembang adalah anyaman rotan dan getah nyatu.n

Secara umum, jenis bahan dasar produk kerajinan dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu produk kerajinan dari bahan lunak dan produk kerajinan dari bahan keras. Beberapa kerajinan bahan lunak serta pengemasannya akan diuraikan secara singkat pada penjelasan berikut ini. Namun, materi yang diuraikan disini merupakan contoh saja, kamu dapat mempelajarinya sebagai pengetahuan dan diharapkan dapat mengeksplorasi pengetahuan lainnya sebagai bahan pengayaan.

1. Pengertian Kerajinan dari Bahan Lunak
    Kerajinan dari bahan lunak merupakan produk kerajinan yang menggunakan bahan dasar yang bersifat lunak, beberapa bahan lunak yang digunakan dalam pembuatan produk kerajinan, yaitu seperti berikut;

a. Bahan Lunak Alami
    Bahan lunak alami adalah bahan lunak yang diperoleh dari alam sekitar dan cara pengolahannya juga secara secara alami tidak dicampur maupun dikombinasi dengan bahan buatan. Contoh bahan lunak alami yang kita kenal adalah tanah liat, serat alam, dan kulit.

b. Bahan Lunak Buatan
     Bahan lunak buatan adalah bahan untuk karya kerajinan yang diolah menjadi lunak. Beragam karya kerajinan dari bahan lunak buatan dapat dibuat berdasarkan bahan yang digunakan. Bahan-bahan yang digunakan bisa berupa bubur kertas, gips, fiberglas, lilin, sabun, spons dan sebagainya.

2. Aneka Produk Kerajinan dari Bahan Lunak

Produk kerajinan dari bahan lunak sangat beragam, mulai dari karya kerajinan yang digunakan untuk kebutuhan fungsi pakai dan karya kerajinan untuk hiasan.

Berikut ini contoh produk kerajinan dari bahan lunak;

a. Kerajinan dari Tanah Liat
    Kerajinan yang terbuat dari bahan tanah liat sering dikenal orang dengan kerajinan keramik. Kerajinan keramik adalah karya kerajinan yang menggunakan bahan baku dari tanah liat yang melalui proses sedemikian rupa (dipijit, butsir, pilin, pembakaran, dan glasir) sehingga menghasilkan barang atau benda pakai dan benda hias yang indah. Contohnya: gerabah, vas bunga, guci, piring.

Gelas dari tanah liat
Cangkir dari Tanah Liat
Cobekan dari Tanah Liat
Cobekan dari Tanah Liat



Indonesia memiliki aneka ragam kerajinan keramik dari berbagai daerah yang memiliki ciri khas pada keunikan bentuk, teknik hingga ragam hias yang ditampilkan. Kekayaan hayati di Indonesia telah menginspirasi keindahan dan keunikan bentuk kerajinan keramik menjadi keramik Nusantara yang memiliki karakteristik tersendiri dan berbeda dengan keramik Cina, Jepang dan Negara lainnya.

b. Kerajinan dari Serat Alam
   Bahan-bahan serat alam dapat menghasilkan kerajinan tangan yang beraneka ragam, misalnya tas, dompet, topi. alas meja, tempat lampu. Teknik pembuatan kerajinan dari serat alam ini sebagian besar dibuat dengan cara menganyam. Contoh kerajinan dari serat alam yaitu sebagai berikut;

Tas dari Serat Alam
Tas dari Serat Alam

Dompet dari Serat Alam
Dompet dari Serat Alam


c. Kerajinan Kulit
    Kerajinan ini menggunakan bahan baku dari kulit yang sudah disamak, kulit mentah atau kulit sintetis. Contohnya tas, sepatu, wayang. dompet, jaket. Kulit yang dihasilkan dari hewan seperti sapi, kambing, kerbau, dan buaya dapat dijadikan sebagai bahan dasar kerajinan.
Contoh kerajinan dari kulit yaitu sebagai berikut;
Sepatu dari Kulit
Sepatu dari Kulit

Tas dari Kulit
Tas dari Kulit
 

d. Kerajinan Gips
   Gips merupakan bahan mineral yang tidak larut dengan air dalam waktu yang lama jika sudah menjadi padat. Kandungan gips terdiri atas jenis zat hidrat kalsium sulfat dan beberapa mineral seperti karbonat, borat, nitrat, dan sulfat yang dapat terlepas sehingga gips dalam proses pengerasan akan terasa panas. Prosesnya harus dicairkan dahulu jika ingin bentuk seperti yang diinginkan, harus dibuat cetakan. Jika akan diproduksi dalam jumlah banyak, harus dibuat model terlebih dahulu. 

Hiasan Dinding dari Gips
Hiasan Dinding dari Gips

Secara umum, untuk semua produk gips diperlukan cetakan. Bahan utama pembuatan cetakan adalah silicone rubber, tetapi yang paling gampang dan mudah dicari adalah plastisin atau tanah liat.

Fungsi Kerajinan dari gips biasanya dapat berupa hiasan dinding, mainan dan sebagainya.

e. Kerajinan Lilin
    Pembuatan kerajinan bahan dasar lilin cukup sederhana dan mudah, dapat dilakukan oleh semua orang. Jika kita akan mengubah bentuknya menjadi benda kerajinan yang unik, tentunya perlu dicairkan dengan proses pemanasan di atas api/kompor. Contoh kerajinan dari lilin yaitu sebagai berikut;

Kerajinan dari Lilin
Lilin Hias


f. Kerajinan Sabun
    Kerajinan dari sabun sangat unik. Bahan yang diperlukan adalah sabun batangan. Sabun dapat diolah dengan dua cara. Pertama; mengukir sabun yang menghasilkan karya seperti binatang, buah, dan flora ukiran. Kedua, membentuk sabun, yaitu sabun diparut hingga menjadi bubuk, dicampur dengan sagu dan sedikit air, lalu dibuat dengan adonan baru seperti membuat bentuk dari palstisin. Berikut contoh produk kerajinan dari bahan sabun.

Bunga dari Sabun
Bunga dari Sabun

Kura-kura dari Sabun
Kura-kura dari Sabun 


g. Kerajinan Bubur Kertas
   Sisa-sisa kertas dapat dimanfaatkan untuk beraneka ragam karya kerajinan. Salah satu alternatif pemanfaatan sisa-sisa kertas adalah dibuat bubur kertas untuk bahan berkarya kerajinan. Proses pembuatan bubur kertas dapat dilakukan dengan langka-langkah berikut ini.
1. Siapkan kertas bekas, misalnya kertas tisu atau kertas koran. Robek atau gunting menjadi potongan-potongan kecil (lembut).
2. Masukkan potongan kertas ke dalam baskom atau ember plastik. Kemudian, siram dengan air hangat.
3. Masukkan 1 sendok teh garam. Garam bermanfaat untuk menghindarkan kertas busuk.
4. Potongan kertas yang telah dirandam dan diberi garam ini didiamkan selama 1-2 hari hingga menjadi lunak.
5. Dua hari kemudian atau setelah kertas menjadi lunak dan hancur, saring menggunakan kain (dapat menggunakan kain lap yang pori-porinya besar). Keempat tepi kain disatukan dan plintir, hingga air akan terpisah dari ampasnya.
6. Buang air perasan kertas. Kemudian, masukkan kembali potongan kertas-kertas yang sudah diperas airnya ke dalam wadah dan remas-remas hingga hancur. Tambahkan sedikit air ketika meremasnya.
7. Buat larutan pasta dengan mencampur 2 sendok makan tepung kanji dengan air secukupnya. Apabila pasta terasa terlalu cair, penggunaan tepung kanji dapat ditambah.
8. Campur adonan kertas dengan larutan pasta. Remas-remas hingga tercampur merata dan didapat adonan bubur kertas yang liat sehingga mudah untuk dibentuk.
Berikut contoh karya kerajinan dari bubur kertas.
Boneka dari Bubur Kertas
Boneka dari Bubur Kertas

Vas Bunga dari Bubur Kertas
Vas Bunga dari Bubur Kertas


3. Fungsi Produk Kerajinan dari Bahan Lunak

Fungsi produk kerajinan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi karya kerajinan sebagai benda pakai dan fungsi karya kerajinan sebagai benda hias.

a. Karya kerajinan sebagai Benda Pakai
Karya kerajinan sebagai benda pakai meliputi segala bentuk kerajinan yang digunakan sebagai alat, wadah, atau dikenakan sebagai pelengkap busana. Sebagai benda pakai, produk karya kerajinan yang diciptakan mengutamakan fungsinya, adapun unsur keindahannya hanyalah sebagai pendukung. Berikut contoh karya kerajinan sebagai benda pakai.

Tas sebagai Benda Pakai
Kerajinan Tas


b. Karya Kerajinan sebagai Benda Hias
Karya kerajinan sebagai benda hias meliputi segala bentuk kerajinan yang dibuat dengan tujuan untuk dipajang atau digunakan sebagai hiasan atau elemen estetis. Jenis ini lebih menonjolkan aspek keindahan daripada aspek kegunaan.
Berikut contoh karya kerajinan sebagai benda hias. 

Hiasan dinding sebagai benda hias
Kerajinan Hiasan Dinding

Demikian pembahasan mengenai Produk kerajinan dari Bahan Lunak. Semoga tulisan ini benrmanfaat bagi pembaca sekalian.

sumber: Buku Prakarya dan Kewirausahaan SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI semester 1

Labels:

Saturday, 22 July 2017

Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil

     Pembahasan kali ini membahas mengenai Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil. Untuk membahas lebih lanjut mengenai Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil, simak pembahasan dibawah ini :
Pengertian Kerajinan Tekstil
    Pengertian kata Tekstil adalah jalinan antara Lungsin dan pakan atau dapat dikatakan sebuah anyaman yang mengikat satu sama lain, tenunan dan rajutan. Tekstil dapat ditemukan pada kehidupan sehari-hari, yaitu kain biasa yang digunakan untuk pakaian sebagai kebutuhan sandang, sprei pelapis tempat tidur dan sarung bantal, taplak meja, kain yang dijahit menjadi tas dan produk kerajinan lainnya.
    Kerajinan Tekstil di Indonesia dapat dibagi menjadi kerajinan tekstil modern dan kerajinan tekstil tradisional. Kerajinan tekstil modern banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan praktis atau fungsional, sedangkan kerajinan tekstil tradisional umumnya memiliki makna simbolis dan digunakan juga untuk kebutuhan upacara tradisional. Perkembangan saat ini para perancang atau desainer mulai memanfaatkan kembali kain tradisional Indonesia pada karya-karyanya. Para perancang atau desainer berusaha mengembangkan ide dari tekstil Indonesia agar menjadi lebih dikenal luas di masyarakat, baik di Indonesia maupun di dunia.
Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil
Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil

Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil
ada dua jenis-jenis kerajinan tekstil yaitu sebagai berikut :

1. Kerajinan Tekstil Modern
    Karya kerajinan tekstil, secara fungsi dapat dibagi sebagai berikut ;
a. Sebagai pemenuhan kebutuhan sandang dan fashion
   1) Busana
   2) Aksesoris
   3) Sepatu
   4) Topi
   5) Tas
b. Sebagai pelengkap interior
   1) Kain tirai
   2) Kain salut kursi
   3) Perlengkapan rumah tangga (cempal, alas makan dan minum, tudung saji, sarung bantal, sprei, keset, lap, dll)
   4) Aksesoris ruangan (wadah tissue, taplak, hiasan dekorasi ruangan, kap lampu, dll)
c. Sebagai wadah dan pelindung benda
   1) Tas Laptop
   2) Aneka tas
   3) Aneka wadah
   4) Aneka dompet
   5) dan lain-lain

    Produk kerajinan umumnya memanfaatkan bahan baku yang tersedia dan dihasilkan melalui keterampilan tangan dengan alat bantu sederhana serta diproduksi dalam jumlah yang terbatas. Oleh sebab itu karya kerajina biasanya mempunyai ciri khas dari daerah yang membuatnya, demikian pula dengan produk kerajinan tekstil. Keragaman bahan baku dan keterampilan daerah di Indonesia menghasilkan keragaman produk kerajinan tekstil Indonesia. Produk kerajinan tekstil merupakan salah satu sumber budaya bangsa Indonesia yang dapat menjaga dan melestarikan keberadaan budaya setempat dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Untuk dapat mengembangkan tekstil tradisional Indonesia, kita harus mengenalnya lebih dalam.

2. Kerajinan Tekstil Tradisional Indonesia
    Karya kerajinan tekstil tradisional Indonesia, secara fungsi dapat dibagi sebagai berikut.
a. Sebagai pemenuhan kebutuhan sandang yang melindungi tubuh, seperti kain panjang, sarung dan baju daerah.
b. sebagai alat bantu atau alat rumah tangga, seperti kain gendongan bayi dan untuk membawa barang.
c. Sebagai alat ritual (busana khusus ritual tradisi tertentu), contohnya:
1) Kain tenun Ulos
2) Kain pembungkus kafan batik motif doa
3) Kain ikat celup Indonesia Timur (penutup jenazah)
4) Kain Tapis untuk pernikahan masyarakat daerah Lampung
5) Kain Cepuk untuk ritual adat di Pulau Nusa Penida
6) Kain Songket untuk pernikahan dan khitanan
7) Kain Poleng dari Bali untuk acara ruwatan (penyucian)
   Tekstil tradisional Indonesia berkembang dengan kreativitas setempat baik pengaruh dari suku maupun bangsa lain. Secara geografis, posisi Indonesia terletak pada persimpangan kebudayaan besar, antara dua benua Asia dan Australia, serta dua Samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Gelombang kontak perdagangan yang melewati wilayah negara kepulauan Indonesia memberikan pengaruh dan mengakibatkan akulturasi (percampuran) budaya yang tampak pada pengembangan karya kerajinan tekstil di Indonesia.
   Kain-kain tradisional di wilayah kepulauan Indonesia ini pada awalnya merupakan alat tukar atau barter yang dibawa oleh pedagang-pedagang pendatang dengan penduduk asli saat membeli hasil bumi dan rempah-rempah di Indonesia. Sekitar abad ke-15 Masehi, pedagang muslim Arab dan India melakukan kontak dagang dengan mendatangi pulau Jawa dan Sumatera. Pengaruh Islam secara langsung dapat dilihat pada tekstil Indonesia. Beberapa batik yang dibuat di Jambi dan Palembang di Sumatera, serta di Utara Jawam dibuat dengan menggunakan ayat-ayat yang berasal dari bahasa Arab Al-Qur'an.
   Di Indonesia juga terdapat kain sarung kotak-kotak dan polos yang banyak digunakan di Semenanjung Arab, Timur Laut Afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik. Pada abad ke-13 pedagang Gujarat memperkenalkan Patola, yaitu kain dengan teknik tenun ikat ganda dari benang sutera yang merupakan busana Gujarat, Barat Laut India. Proses pembuatan kain Patola sangat rumit sehingga di India kain ini digunakan dalam berbagai upacara yang berhubungan dengan kehidupan manusia, seperti kelahiran, perkawinan dan kematian juga sebagai penolak bala.
   Melalui perdagangan dengan bangsa Gujarat, keberadaan kain Patola tersebar luas di kepulauan Nusantara. Kain Patola umumnya hanya dimiliki oleh kalangan terbatas. Penduduk setempat yang telah memiliki keterampilan menenun pun mencoba mereproduksi kain yang sangat berharga tersebut dengan tenun ikat pakan. Di Maluku, kain ini sangat dihargai dan dikenakan dengan cara dililitkan di pinggang atau leher. Para penenun di Nusa Tenggara Timur mengembangkan corak kain tenun yang dipengaruhi oleh corak yang terdapat pada kain Patola, dengan corak yang berbeda untuk raja, pejabat, dan kepala adat dalam jumlah yang sangat terbatas dan hanya dikenakan pada upacara-upacara adat. Kain Patola dari Lio NTT ini ada yang dibuat sepanjang 4 meter yang disebut katipa yang berfungsi sebagai penutup jenazah.
   Motif Patola juga dikembangkan menjadi kain Cinde di daerah Jawa Tengah. Kain Cinde tidak dibuat dengan teknik tenun ikat ganda, tetapi dibuat dengan teknik direct print, cap atau sablon. Kain ini digunakan sebagai celana dan kain panjang untuk upacara adat, ikat pinggang untuk pernikahan, serta kemben dan selendang untuk menari. Kain serupa terdapat pula di Palembang, disebut kain Sembagi. Sembagi yang berwarna terang digunakan pada upacara mandi pengantin dan hiasan dinding pada upacara adat. Kain Sembagi yang berwarna gelap digunakan untuk penutup jenazah.
   Motif Patola mempengaruhi motif batik Jlamprang yang berwarna cerah yang berkembang di Pekalongan, dan motif Nitik yang berkembang di Yogyakarta dan Surakarta yang berwarna sogan (kecoklatan), indigo (biru), kuning dan putih. Corak Patola juga berkembang di Pontianak, Gorontalo, dan kain tenun Bentenan di Manado.
    Kain dengan teknik tenun ikat ganda dibuat di Desa Tenganan Pengeringsingan di Bali. Kain sakral tersebut dikenal dengan nama kain Gringsing yang artinya bersinar. Teknik tenun ikat ganda hanya dibuat tiga daerah di dunia, yaitu di Desa Tenganan Bali, Indonesia (Kain Gringsing), di Kepulauan Okinawa, Jepang (tate-yoko gasuri) dan Gujarat India (kain Patola). Teknik tenun ikat ganda adalah tenun yang kedua arah benangnya, baik benang pada lungsing maupun pakan diwarnai dengan teknik rintang warna untuk membentuk motif tertentu.
    Kreativitas bangsa Indonesia mampu mengembangkan satu jenis kain tenun Patola Gujarat menjadi beragam tekstil yang sangat indah di seluruh daerah di Indonesia. Contoh perkembangan kain Patola ini hanya salah satu dari bukti kreativitas tinggi yang dimiliki oleh bangsa kita.
    Pada tekstil tradisional, selain untuk memenuhi kebutuhan sandang, juga memiliki makna simbolis dibalik fungsi utamanya. Beberapa kain tradisional Indonesia dibuat untuk memenuhi keinginan penggunanya untuk menunjukkan status sosial maupun kedudukannya dalam masyarakat melalui simbol-sombol bentuk ragam hias dan pemilihan warna. Selain itu ada pula kain tradisional Indonesia yang dikerjakan dengan melantunkan doa dan menghiasinya dengan penggalan kata maupun kalimat doa sebagai ragam hiasnya. Tujuannya, agar yang mengenakan kain tersebut diberi kesehatan, keselamatan, dan dilindungi dari marabahaya.
   Kain tradisional Indonesia dibuat dengan ketekunan kecermatan yang telliti dalam menyusun ragam hias, corak warna maupun maknanya. Akibatnya, kain Indonesia yang dihasilkan mengundang kekaguman dunia internasional karena kandungan nilai estetikanya yang tinggi.

Demikin Pembahasan mengenai Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalin.

Labels:

Saturday, 8 July 2017

Empat Materi Ekonomi Makro

Pembahasan kali ini tentang Empat Materi Ekonomi Makro. Dalam buku Teori Makro Ekonomi Mankiw, dijelaskan tentang 4 materi utama yang paling penting dalam pembahasan ekonomi makro. Mengapa merupakan bagian terpenting akan dijelaskan berikut ini:

1. Dalam jangka panjang kapasitas negara untuk memproduksi barang dan jasa menentukan standar hidup penduduknya. Pada setiap pembahasan sebelumnya. inti dari pembahasan utamanya adalah bagaimana meningkatkan kapasitas produksi, karena peningkatan kapasitas produksi akan membuka peluang bagi perekonomian untuk semakin berkembang dan bertahan dalam kegoncangan krisis ekonomi, peningkatan kapasitas produksi menunjukkan bahwa indikator umum makro ekonomi seperti moneter, fiskal, pendapatan nsional dan distribusinya telah berjalan sesuai dengan tugasnya. Memang tidak ada suatu negara manapun didunia ini yang tergabung dalam ekonomi global mampu dengan baik menjalankan sistem indikator makro ekonominya karena selalu saja ada trade off dari setiap kebijakan. Sebagai misal, bila saja The FED (Bank Central US) ingin memperbaiki sistem moneter dinegaranya dalam bentuk kenaikan suku bunga yang bertujuan untuk menstabilkan perekonomiannya, justru akan menyebabkan banyak negara di dunia lainnya yang sangat bergantung pada pemodal US itu menjadi "kelabakan" karena setiap kenaikan suku bunga di US akan pengurangan modal masuk (capital inflow), sebaliknya setiap penurunan suku bunga akan menyebabkan melonjaknya harga saham yang akan menyebabkan lesunya perdagangan saham di negara lainnya. Padahal kebijakan itu bertujuan untuk kepentingan US sendiri. Contoh lain misalkan pemerintah Jepang dan Korea Selatan mendengungkan penggunaan hasil pertanian dalam negeri untuk meningkatkan kesejahteraan petaninya, ini menyebabkan produk pertanian dari US akan sangat sulit masuk dan jelas akan merugikan petani US. Mobil Jepang sangat laku di US, bila misalkan pemerintah US melarang masuk mobil Jepang karena membalas kebijakan membela petani, maka jelas Jepang akan mengalami kerugian yang sangat besar, padahal semua kebijakan masing-masing negara tadi dalam rangka memperbaiki dan melindungi masyarakatnya. Ini adalah sedikit contoh bahwa keberhasilan suatu negara mengatur indikator ekonomi makronya dengan baik dan benar relatif sangat sulit, sehingga itulah sebabnya adalah tidak mudah bagi suatu negara bisa menghasilkan barang dan jasa dalam jumlah yang cukup dan memadai bagi penduduknya dalam waktu yang panjang dan selamanya karena adanya ketergantungan itu tadi. Banyak bukti negara-negara yang lepas (berani melepaskan diri atau menantang ) dari ketergantungan ekonomi global tidak bisa memperbaiki kualitas hidup penduduknya, misalkan Korea Utara, Irak dan Libya (sewaktu di isolir PBB), Myanmar (karena masalah HAM), Indonesia (masalah HAM dan Korupsi) dan lain sebagainya. Peningkatan kapasitas produksi barang dan jasa itu bukan hanya bergantung pada banyak atau sedikitnya sumber daya alam suatu negara, akan tetapi juga sangat bergantung pada kemampuan suatu negara mengolahnya, apakah sumber daya manusianya cukup dan memadai, apakah sistem moneter (perbankan dan keuangan) handal, sistem hukum dan HAM konsisten dan lain sebagainya. Perhatikanlah Idonesia ini. Lihat dan rasakanlah betapa rendahnya kualitas hidup penduduknya. Pelanggaran sistem hukum berlangsung di depan mata dan didepan penegak hukum hanya untuk memanfaatkan peluang mendapatkan "makan", sistem pendidikannya (murid, guru/pengajar, fasilitas, departemen) yang tidak menghargai kualitas hanya karena berupaya mendapatkan sebanyak-banyaknya orang yang mengenyam pendidikan tanpa memandang perlu kualitas pendidikannya, kebanyakan peminmpinnya korupsi dan berlangsung didepan mata dan menjadi berita rutin serta dipandang sebagai hal yang biasa, dan seterusnya dan seterusnya.

Itulah sebabnya sistem tata laksana ekonomi  makro yang baik dan benar sangat mutlak dijalankan. dan memang ini memerlukan waktu yang panjang dan kemauan yang keras untuk menjalankannya dan itu bisa dimulai dari mempelajari teorinya agar kita bisa menjadi lebih arif dan bijak dalam menilai. 
 
Empat Materi Ekonomi Makro
Ekonomi Makro

2. Dalam jangka pendek permintaan agregat mempengaruhi jumlah barang dan jasa yang diproduksi negara. Permintaan adalah motor penggerak langsung pada perekonomian, karena permintaanlah yang menunjukkan kemampuan ekonomi penduduk suatu negara. Tingginya permintaan menunjukkan kemampuan ekonomi penduduknya dan itu berlaku sebaliknya apapun alasannya. Kebijakan stabilisasi selain fiskal dan moneter seperti kebijakan upah dan harga serta kebijakan perdagangan luar negeri akan sangat membantu untuk meningkatkan permintaan melalui pertumbuhan ekonomi, meskipun dalam batas tertentu peningkatan permintaan ini harus tetap diwaspadai sebab dalam hitungan tertentu permintaan yang terlalu tinggi akan menyebabkan produksi jumlah barang dan jasa menjadi tidak terkendali dan akan sangat berbahaya bagi perekonomian karena perekonomian akan semakin "panas" dan mudah "terbakar" (dalam arti perekonomian yang permintaan penduduknya tinggi atas barang dan jasa menyebabkan pembukaan kapasitas produksi terlalu cepat dan terlalu banyak sehingga cenderung tidak terkendali, baik dari dalam negeri dalam bentuk "pemaksaan produksi" maupun dari luar negeri berupa impor yang juga tidak terkendali ", ujung-ujungnya penduduk bisa terlalu konsumtif. Perhatikan perekonomian China tahun 2004-2006 yang tumbuh di atas 8%/tahun, yang menyebabkan perekonomian China melaju kencang, akibatnya pertumbuhan permintaan semakin tinggi, termasuk permintaan atas produk-produk impor yang sangat mahal dan hampir tidak bermanfaat untuk sarana produksi seperti mobil super mewah, kapal pesiar mewah dan lain sebagainya dan untuk itu pemerintah China terpaksa "mengerem" laju pertumbuhan ekonominya sebab akan sangat berbahaya dalam jangka panjang bila tidak dikendalikan.

3. Dalam jangka panjang pertumbuhan jumlah uang akan mempengaruhi inflasi akan tetapi tidak berpengarug terhadap pengangguran. Teori umum yang sering dipelajari adalah adanya hubungan antara pertumbuhan jumlah uang (beredar) dengan tingkat inflasi, hal ini adalah benar karena harus diakui uang benar-benar menjadi indikator kegiatan ekonomi. Bila pertumbuhan uang tinggi maka tingkat harga umum atas barang dan jasa akan tinggi, sebaliknya bila rendah maka rendah pula harga , tinggi rendahnya harga secara umum ini dalam jangka panjang menunjukkan tingkat inflasi yang terjadi dalam perekonomian. Berkaitan dengan inflasi adalah masalah pengangguran. Secara teoritis dalam jangka pendek memang ada hubungan antara tingkat inflasi terhadap pengangguran yang bersifat trade off , artinya semakin tinggi inflasi maka pengangguran rendah, sebaliknya inflasi yang rendah akan menyebabkan tingkat pengangguran tinggi. Dengan teori yang sederhana hubungan antara inflasi dan pengangguran bisa dijelaskan, akan tetapi bagaimana menjelaskan hubungan antara inflasi dan pengangguran dalam jangka panjang memang tidak bisa disederhanakan karena, selain masalah inflasi ada masalah besar lainnya yang menjadi faktor tinggi rendahnya pengangguran yaitu masalah penawaran dan permintaan tenaga kerja (struktur pasar tenaga kerja), pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya.

4. Dalam jangka pendek, pembuat kebijakan fiskal dan moneter (pemerintah) menghadapi trade off  antara indlasi dan pengangguran. Adanya trade off antara lain inflasi dan pengangguran sejatinya didasarkan pada hasil penelitian Philips yang menemukan fakta dari data series yang menunjukkan adanya trade off itu. Bila misalkan pemerintah melaksanakan kebijakan moneter melalui salah satu instrumennya yaitu pengetatan jumlah uang beredar, maka dalam jangka pendek akan menyebabkan tingkat pengangguran tinggi, mengapa? Karena ketatnya jumlah uang beredar menyebabkan suku bunga tinggi, sehingga masyarakat cenderung uuntuk menabung, akibatnya permintaan menjadi rendah, rendahnya permintaan akan mendorong turunnya harga, harga yang turun akan menyebabkan produsen menurunkan produksi dan membatasi pembukaan kapasitas produksi (hal ini juga disebabkan oleh tingginya suku bunga menyebabkan rendahnya investasi), sehingga wajar saja banyak perusahaan akan melakukan rasionalisasi atau paling tidak menunda  penambahan karyawan. Jadi bila misalkan pemerintah ingin menurunkan pengangguran dalam jangka pendek salah satu caranya adalah meloggarkan kebijakan peredaran uang, melakukan kebijakan fiskal dengan penstabil otomatik dan menurunkan suku bunga agar investasi semakin tinggi.

Demikian tulisan yang berjudul Empat Materi Ekonomi Makro, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Labels: