Sunday, 18 October 2015

Kurs Valuta Asing

    Pembahasan kali ini mengenai Kurs Valuta Asing. Dalam Kurs Valuta Asing akan di bahas mengenai Pengertian Nilai Tukar Mata Uang Asing, Sistem Kurs Valuta Asing, Sebab Terjadinya Perubahan Nilai Tukar Rupiah dan Menghitung Nilai Suatu Valuta Berdasarkan Kurs yang Berlaku. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Kurs Valuta Asing yaitu sebagai berikut.

Kurs Valuta Asing

1. Pengertian Nilai Tukar Mata Uang Asing
    Valuta asing atau mata uang asing merupakan jenis-jenis mata uang yang digunakan di negara lain. Sedangkan dengan kurs valuta asing adalah suatu nilai yang menunjukkan jumlah mata uang dalam negeri yang diperlukan untuk mendapatkan satu unit mata uang asing. Kurs berbagai mata uang asing berbeda dalam waktu tertentu.

2. Sistem Kurs Valuta Asing
   Cara menentukan tinggi rendahnya kurs valuta sing pada prinsipnya ada tiga cara, yaitu sebagai berikut.
a. Kurs Tetap (Fixed Exchange Rate) 
   Kurs tetap merupakan kurs mata uang asing yang ditentukan oleh pemerintah. Kurs ini juga dinamakan kurs resmi karena kurs tersebut ditentukan oleh pemerintah. Kadang-kadang, karena permintaan valuta sing lebih kuat daripada penawarannya ataupun penawaran valuta sing lebih kuat daripada permintaannya maka kurs yang sebenarnya terjadi di pasar tidak sama dengan kurs resmi. Kurs yang terjadi di pasar tersebut dinamakan kurs pasar gelap. Jika nilai mata uang suatu negara terus-menerus dalam keadaan yang dinilai terlampau tinggi (jika dibandingkan dengan kurs dalam pasar gelap), maka perekonomian dalam negara tersebut akan mengalami:
1) Pemerintah negara tersebut harus terus-menerus menjual valuta asing untuk memenuhi kelebihan permintaan yang terjadi. Akibatnya adalah menurunnya cadangan valuta sing.
2) Perkembangan impor akan lebih kuat daripada ekspor sehingga kegiatan perekonomian mengalami kemunduran.
3) Karena lesunya kegiatan ekonomi dalam negeri maka ada kecenderungan untuk mengalirnya modal ke luar negeri, dan ini akan memperburuk tingkat perekonomian dalam negeri.

   Dengan adanya dampak yang kurang baik akibat dari penilaian mata uang sendiri atas mata uang asing yang terlampau tinggi tersebut, maka pemerintah harus melakukan devaluasi untuk menyesuaikan kurs resmi dengan kurs yang terjadi sesungguhnya di pasar.

b. Kurs Bebas (Floating Exchange Rate)
   Di dalam pasar bebas, kurs bergantung pada beberapa faktor yang memengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing. Permintaan valuta asing diperlukan guna melakukan transaksi pembayaran ke luar negeri (impor), yaitu berasal dari transaksi kredit neraca pembayaran internasional. Sedangkan penawaran valuta asing berasal dari eksportir, yaitu berasal dari transaksi kredit neraca pembayaran internasional.
  Permintaan dan penawaran valuta asing sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di dalam negeri maupun luar negeri yang termasuk di dalamnya adalah pendapatan, tingkat harga barang, dan tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan pendapatan makin besar kemungkinan untuk impor yang berarti makin besar pula permintaan akan valuta asing. Demikian juga inflasi, akan menyebabkan impor naik dan ekspor turun yang akan mengakibatkan kurs valuta asing naik. Selanjutnya, tingkar bunga dalam negeri yang tinggi cenderung menarik modal asing untuk masuk ke dalam negeri. Kurs valuta asing akan cenderung turun.

c. Kurs Bebas Terkendali (Managed Floating Rate)
   Pada tahun 1944, diadakan konferensi internasional di Bretten Woods, Amerika Serikat, yang dihadiri oleh 43 Negara. Konferensi ini bertujuan untuk bisa menstabilkan kurs valuta asing dan mengatur sistem pembayaran internasional secara lebih baik. Pada konferensi tersebut dibentuk International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional. Pada konferensi tersebut juga diadakan perjanjian sebagai berikut.
1) Diadakan perbandingan nilai tertentu antara emas dan dolar Amerika Serikat, yaitu satu ons emas murni = US$ 35.00 ini berarti dolar dikaitkan dengan emas.
2) Untuk valuta-valuta lainnya ditetapkan perbandingan nilai tertentu dengan emas dan atau dengan dolar, sesuai dengan situasi pada waktu itu. Dengan demikian, emas atau dolar dapat digunakan sebagai standar dalam penentuan kurs valuta asing.
3) Pemerintah negara-negara peserta wajib mempertahankan kurs yang telah ditetapkan dalam batas-batas 1% sampai 2% di atas atau di bawah nilai yang telah ditetapkan.
4) Negara-negara anggota yang membayar iuran uang dalam bentuk emas (25%) dan dalam bentuk uang sendiri atau dolar (75%). Dana ini setelah terkumpul digunakan untuk membantu mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran.
5) Jika ada negara anggota yang mengalami defisit neraca pembayarannya, maka ia berhak meminta bantuan pada IMF yaitu dapat meminjam emas atau valuta yang dibutuhkan sehingga kursnya tidak merosot. Hak kredit ini disebut Drawing Right (DR).

  Pada tahun 1969, ketentuan-ketentuan Bretton Woods tersebut masih dilengkapi dengan diadakannya Special Drawing Right (SDR) yang sering disebut dengan emas kertas guna membantu negara-negara yang sedang berkembang yang mengalami kesulitan. Setiap negara diberi suatu jatah SDR. Jika suatu negara mengalami defisit neraca pembayaran maka SDR yang dimiliki dapat ditukarkan dengan valuta yang dibutuhkan untuk membayar utang-utang luar negeri.
   Pada bulan Desember 1971, diadakan pertemuan yang dikenal dengan sebutan Smithsonian Agreement yang menghasilkan kesepakatan bahwa batas penyimpanan dari paritas resmi lebih diperlonggar menjadi plus-minus 2,25%. Jika suatu negara ingin mengubah nilai ekstern mata uangnya dengan melewati batas-batas tersebut harus mendapatkan persetujuan IMF terlebih dahulu. 
   Pada bulan Januari 1967, pada Pertemuan Jamaica dicapai kesepakatan bahwa negara anggota IMF boleh menggunakan sistem kurs mengambang dengan tidak melupakan pentingnya koordinasi di antara kebijakan-kebijakan ekonomi di negara-negara anggota, konsultasi kebijakan kurs devisa negara-negara anggota dan usaha pemecahan bersama masalah-masalah ketidakseimbangan antarbangsa secara fundamental.
   Upaya-upaya yang telah disebutkan di atas pada prinsipnya adalah untuk menjaga kurs valuta asing menjadi stabil dan pembayaran internasional.

3. Sebab Terjadinya Perubahan Nilai Tukar Rupiah
   Ada banyak faktor yang menyebabkan perubahan dalam kurs valuta, yaitu sebagai berikut.
a. Perubahan dalam Cita Rasa Masyarakat
   Perubahan cita rasa masyarakat akan mengubah corak konsumsi mereka atas barang-barang yang diproduksi dalam negeri atau yang diimpor. Perbaikan kualitas barang-barang dalam negeri menyebabkan keinginan mengimpor berkurang dan dapat menaikkan ekspor. Perbaikan kualitas barang-barag impor menyebabkan keinginan masyarakat untuk mengimpor bertambah besar. Perubahan-perubahan ini akan memengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing sehingga nilai tukar rupiah terhadap valuta asing akan berubah.

b. Perubahan Harga Barang Ekspor dan Impor
   Harga barang merupakan salah satu faktor penting yang menentukan apakah suatu barang akan diimpor atau diekspor. Barang-barang dalam negeri yang dapat dijual dengan harga yang relatif murah akan menaikkan ekspor dan apabila harganya naik maka ekspornya akan berkurang. Pengurangan harga barang impor akan menambah jumlah impor dan sebaliknya kenaikan harga barang impor akan mengurangi impor. Dengan demikian, perubahan harga-harga barang ekspor dan impor akan menyebabkan perubahan dalam penawaran dan permintaan atas mata uang negara tersebut.

c. Kenaikan Harga Umum (Inflasi)
   Inflasi sangat besar pengaruhnya kepada kurs valuta asing. Inflasi yang berlaku pada umumnya cenderung untuk menurunkan nilai suatu valuta sing. Kecenderungan seperti ini disebabkan efek inflasi sebagai berikut.
1) Inflasi menyebabkan harga-harga di dalam negeri lebih mahal dari harga-harga luar negeri. Oleh sebab itu, inflasi cenderung menambah impor.
2) Inflasi menyebabkan harga-harga barang ekspor menjadi lebih mahal. Oleh karena itu, inflasi cenderung mengurangi eskpor.

d. Perubahan Suku Bunga dan Tingkat  Pengembalian Investasi
   Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi sangat penting peranannya dalam memengaruhi aliran modal. Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang rendah cenderung akan menyebabkan modal dalam negeri mengalir ke luar negeri. Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang tinggi akan menyebabkan modal luar negeri masuk ke negara itu. Apabila lebih banyak modal mengalir ke suatu negara, permintaan atas mata uangnya bertambah, maka nilai mata uang tersebut bertambah. Nilai mata uang suatu negara akan merosot apabila lebih banyak modal negara dialirkan ke luar negeri karena suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi di negara-negara lain.

e. Pertumbuhan Ekonomi
   Corak pertumbuhan ekonomi suatu negara akan berpengaruh terhadap nilai mata uangnya. Apabila kemajuan suatu negara disebabkan oleh perkembangan ekspor, maka permintaan atas mata uang negara tersebut bertambah lebih cepat dari penawarannya dan oleh karena nilai mata uang negara naik. Namun demikian, apabila kemajuan tersebut menyebabkan impor berkembang lebih cepat dari ekspor, maka penawaran mata uang negara tersebut lebih cepat bertambah dari permintaannya dan oleh karenanya nilai mata uang negara tersebut akan merosot.

4. Menghitung Nilai Suatu Valuta Berdasarkan Kurs yang Berlaku
   Dalam perhitungan nilai tukar asing tertentu, kita harus mengetahui nilai kurs yang berlaku pada saat ini. Dalam pertukaran valuta asing terdapat dua jenis nilai kurs yaitu nilai kurs jual (selling rate atau ask rate) dan nilai kurs beli (buying rate atau bid rate). Nilai kurs jual selalu lebih tinggi daripada nilai kurs belinya. Selisih antara nilai kurs jual dan nilai kurs beli merupakan keuntungan bagi pedagang valuta asing atau bank yang melakukan transaksi valuta asing.
   Adapun contoh untuk menghitung nilai valuta asing tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Contoh Soal:
a. Tuan Suyatno akan pergi ke Amerika Serikat. Ia memiliki uang sebesar Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah). Kemudian ia menukarkan uangnya (rupiah) dengan dolar Amerika di bursa valas. Pada saat itu, kurs yang berlaku di bursa valas adalah sebagai berikut.
Kurs Jual  : US$1 = Rp10.000,00
Kurs Beli   : US$1 = Rp9.800,00
Berapa dolar Amerika yang diterima dari Tuan Suyatno dari bursa valas?
Jawab:
Tuan Suyatno menukarkan rupiha dengan dolar. Dalam kejadian ini, Tuan Suyatno membeli dolar Amerika dan bursa yang menjualnya, sehingga yang diperhitungkan adalah kurs jual sebagai berikut. 
Rp400.000,00 : Rp 10.000,00 x US$1 = US$40.000
Dengan demikian, Tuan Suyatno menerima US$40.000.

b. Sepulangnya dari Amerika, Tuan Suyatno memiliki uang sebanyak US$2.000. Ia datang lagi ke bursa valas untuk menukarkan uang dolarnya dengan uang rupiah. Pada saat itu, kurs yang berlaku di bursa valas adalah sebagai berikut.
Kurs Jual  : US$1 = Rp10.200,00
Kurs Beli  : US$1 = Rp10.100,00.
Berapa rupiah Tuan Suyatno akan menerima hasil penukaran dolarnya di bursa valas tersebut?
Jawab:
Tuan Suyatno menukarkan dolar Amerika dengan rupiah. Dalam hal ini menjual dolar Amerika ke bursa dan bursa akan memberlakukan kurs beli sebagai berikut.
US$2.000 X Rp10.100,00 = Rp20.200.000,00
Dengan demikian, Tuan Suyatno akan menerima uang sebesar Rp20.200.000,00
 
Kurs Valuta Asing
Kurs Valuta Asing
Demikian pembahasan mengenai Kurs Valuta Asing. Semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian. 

Labels:

1 Comments:

At 15 January 2016 at 00:58 , Blogger FBS Indonesia said...

Rebat FBS TERBESAR – Dapatkan pengembalian rebat atau komisi
hingga 70% dari setiap transaksi yang anda lakukan baik loss maupun
profit,bergabung sekarang juga dengan kami
trading forex fbsasian.com
-----------------
Kelebihan Broker Forex FBS
1. FBS MEMBERIKAN BONUS DEPOSIT HINGGA 100% SETIAP DEPOSIT ANDA
2. FBS MEMBERIKAN BONUS 5 USD HADIAH PEMBUKAAN AKUN
3. SPREAD FBS 0 UNTUK AKUN ZERO SPREAD
4. GARANSI KEHILANGAN DANA DEPOSIT HINGGA 100%
5. DEPOSIT DAN PENARIKAN DANA MELALUI BANL LOKAL
Indonesia dan banyak lagi yang lainya
Buka akun anda di fbsasian.com
-----------------
Jika membutuhkan bantuan hubungi kami melalui :
Tlp : 085364558922
BBM : fbs2009

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home