Tuesday, 20 February 2018

Produk Kerajinan dari Bahan Keras

Assalamualaikum Wr Wb
     Pada pembahasan kali ini, akan membahas mengenai Produk Kerajinan dari Bahan Keras, mulai dari Pengertian Kerajinan dari Bahan Keras, Aneka Produk Kerajinan dari Bahan Keras, Fungsi Produk Kerajinan dari Bahan Keras, Unsur Estetika dan Ergonomis Produk Kerajinan dari Bahan Keras serta Motif Ragam Hias Produk Kerajinan dari Bahan Keras. Untuk lebih jelasnya yaitu sebagai berikut.

1. Pengertian Kerajinan dari Bahan Keras
    Kerajinan merupakan budaya tradisional yang kini menjadi komoditi negara untuk meningkatkan devisa. Di antara sejumlah kerajinan Nusantara, ada kerajinan yang tetap mempertahankan bentuk dan ragam hias tradisionalnya, tetapi ada pula yang telah dikembangkan sesuai dengan tuntutan pasar.
    Seperti pembahasan sebelumnya, bahwa produk kerajinan dapat dibagi menjadi dua, yaitu produk kerajinan dari bahan lunak dan produk kerajinan dari bahan keras. Produk kerajinan dari bahan keras merupakan produk kerajinan yang menggunakan bahan dasar yang bersifat keras. Beberapa bahan keras yang digunakan dalam pembuatan produk kerajinan dapat dibagi menjadi dua yaitu;
a. Bahan Keras Alami
    Bahan Keras Alami adalah bahan yang diperoleh dilingkungan sekitar kita dan kondisi fisiknya keras seperti kayu, bambu, batu, rotan, dan lain-lain.
b. Bahan Keras Buatan
    Bahan Keras Buatan adalah bahan-bahan yang diolah menjadi keras sehingga dapat digunakan untuk membuat barang-barang kerajinan seperti berbagai jenis logam, fiberglass dan lain-lain

2. Aneka Produk Kerajinan dari Bahan Keras
    Produk kerajinan sangat beraneka ragam. Berikut ini contoh produk kerajinan dari Bahan Keras.
a. Kerajinan Logam
    Kerajinan logam menggunakan bahan logam seperti besi, perunggu, emas, perak, dan lain-lain. Teknik yang digunakan biasanya menggunakan sistem cor, ukir, tempa atau sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Bahan logam banyak dibuat sebagai perhiasan atau aksesoris, kemudian berkembang pula sebagai benda hias dan benda fungsional lainnya, seperti gelas, kap lampu, perhiasan. wadah serbaguna bahkan sampai piala sebagai simbol kejuaraan. Logam memiliki sifat keras, sehingga dalam pengolahannya memerlukan teknik yang tidak mudah, seperti diolah dengan teknik bakar/pemanasan dan tempa.

Kerajinan Logam
Kerajinan Logam

Kerajinan Logam
Kerajinan Logam

b. Kerajinan Kayu
   Negara Indonesia merupakan daerah tropis yang sebagian besar wilayahnya diisi oleh lautan dan juga hutan. Hutan yang tersebar di banyak tempat di Indonesia tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi para perajin. Karya kerajinan ukir kayu adalah karya kerajinan yang menggunakan bahan dari kayu yang dikerjakan atau dibentuk menggunakan tatah ukir. Kerajinan ukiran memang lebih banyak menggunakan bahan baku kayu sebagai bahan utamanya. Kayu yang biasanya digunakan adalah kayu jati, mahoni, waru, sawo, nangka, dan lain-lain.
Kerajinan Kayu
Kerajinan Kayu
 
Kerajinan Kayu
Kerajinan Kayu
c. Kerajinan Bambu
   Bambu dapat dijadikan berbagai produk kerajinan yang bernilai estetis dan ekonomi tinggi. Sejak ratusan tahun lalu, orang Indonesia telah menggunakan bambu untuk berbagai kebutuhan, mulai dari yang oaling sederhana sampai yang rumit. Sampai saat ini, bambu masih digunakan untuk keperluan tersebut. Bahkan saat ini, produk kerajinan bambu tampil dengan desain lebih menarik dan artistik. Beberapa teknik dalam pembuatan kerajinan bahan alam dari bambu adalah teknik anyaman dan teknik tempel atau sambung. Anyaman Indonesia sangat dikenal di mancanegara dengan berbagai motif dn bentuk yang menarik.
Kerajinan Bambu
Kerajinan Bambu

Kerajinan Bambu
Kerajinan Bambu

d. Kerajinan Rotan
    Rotan merupakan hasil kekayaan alam yang sangat besar di Indonesia. Pulau yang paling banyak menghasilkan rotan adalah Kalimantan. Tumbuhan rotan bersifat kuat dan lentur sehingga sangat cocok sebagai benda kerajinan dengan teknik anyaman. Contoh produk kerajinan dari bahan rotan banyak digunakan pada meja kursi, lemari, tempat makanan, dan lain-lain.
Kerajinan Rotan
Kerajinan Rotan

Kerajinan Rotan
Kerajinan Rotan

e. Kerajinan Batu
   Indonesia sangat kaya dengan bebatuan, jenisnya beraneka ragam. Daerah Kalimantan merupakan penghasil batu warna yang dinilai sangat unik. Banyak daerah di Indonesia menjadikan bebatuan warna sebagai produk kerajinan seperti aksesoris pelengkap busana, juga sebagai penghias benda.
   Batu hitam yang keras dan batu padas berwarna putih/cokelat yang lunak banyak dimanfaatkan untuk produk kerajinan. Teknik pengolahan untuk batu hitam dan batu padas banyak menggunakan teknik pahat dan teknik ukir. Kerajinan batu banyak digunakan untuk hiasan interior dan eksterior
Kerajinan Batu
Kerajinan Batu

Kerajinan Batu
Kerajinan Batu

f. Kerajinan Kaca Serat  (fiberglass)
       Kaca serat (fiberglass) adalah serat gelas berupa kaca cair yang ditarik menjadi serat tipis. Serat ini dapat dipintal menjadi benang atau ditenun menjadi kain, kondisi siap pakai. Kemudian, diresapi dengan resin sehingga menjadi bahan yang kuat dan tahan korosi. Oleh sebab itu, fiberglass biasa digunakan sebagai badan mobil dan bangunan kapal. Dia juga digunakan sebagai agen penguat untuk banyak produk plastik.
     Kerajinan Fiberglass membutuhkan beberapa campuran dalam proses pembuatannya. Campuran fiberglass terdiri atas cairan resin (minyak resin bahan dasarnya minyak bumi dan residu), katalis, met atau serat fiber, polish atau sabun krim silicon untuk membuat cetakan, serta talk untuk menekatkan warna. Proses pembuatan perlu perbandingan agar memperoleh hasil yang baik. Jika zat cair (resin dan katalis) dicampur, akan bereaksi dari cair berubah menjadi padat dan keras, serta berwarna bening mengilap.
Kerajinan Kaca Serat
Kerajinan Kaca Serat

Kerajinan Kaca Serat
Kerajinan Kaca Serat


3. Fungsi Produk Kerajinan dari Bahan Keras
   Pada materi kerajinan dari bahan lunak sudah dibahas tentang fungsi produk kerajinan. Kamu diharapkan dapat mengeksplorasi fungsi produk kerajinan tersebut ditinjau dari bahannya. Seperti pada produk kerajinan dari bahan lunak, produk kerajinan dari bahan keras juga memiliki fungsi sebagai berikut.
a. Benda Pakai 
   benda pakai adalah karya kerajinan yang diciptakan mengutamakan fungsinya. Unsur keindahannya hanyalah sebagai pendukung.
Benda Pakai
Kerajinan Benda Pakai

 b. Benda Hias
     Benda Hias adalah karya kerajinan yang dibuat sebagai benda pajangan atau hiasan. Jenis ini lebih menonjolkan aspek keindahan daripada aspek kegunaan atau segi fungsinya.

Kerajinan Benda Hias

4. Unsur Estetika dan Ergonomis Produk Kerajinan dari Bahan Keras
    Dalam perkembangan produk, kerajinan tidak dapat melepaskan diri dari unsur-unsur seni pada umumnya. Sentuhan-sentuhan estetik sangat penting untuk mewujudkan karya kerajinan aktraktif dan bernilai ekonomis. Pada produk kerajinan, aspek fungsi menempati porsi utama. Maka karya kerajinan harus mempunyai nilai ergonomis yang meliputi kenyamanan, keamanan dan keindahan (estetika).
   Pada materi kerajinan dari bahan lunak, kamu sudah mempelajari tentang unsur estetika dan ergonomis karya kerajinan dari bahan lnak. Diharapkan kamu dapat mengenali dan mengeksplorasi tentang unsur estetika dan ergonomis serta mengembangkan produk-produk kerajinan dari bahan keras yang ada di daerahmu dan di wilayah Nusantara.

5. Motif Ragam Hias  Produk Kerajinan dari Bahan Keras
   Produk kerajinan dari beberapa daerah di Indonesia sudah dikenal di mancanegara sejak zaman dahulu. Keanekaragaman produk kerajinan tersebut memiliki motif dan ragam hias yang khas di setiap daerah. Setiap motif dan ragam hias mempunyai nilai keindahan dan keunikan serta makna simbolis yang penuh perlambangan dan juga nasihat. Beberapa daerah yang terkenal ukiran atau pahatannya adalah Jepara, Yogyakarta, Cirebon, Bali, Toraja, Palembang, Kalimantan, dan masih ada daerah lainnya. Kita perlu  mengenal dan melestarikan motif dan ragam hias Nusantara. Kekayaan kreasi bangsa Indonesia perlu kita syukuri sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
   Pada materi kerajinan dari bahan lunak, kamu sudah mempelajari tentang motif ragam hias pada karya kerajinan dari bahan lunak. Diharapkan kamu dapat mengeksplorasi berbagai macam motif ragam hias pada karya kerajinan berbahan keras yang ada di daerahmu dan di wilayah Nusantara. Berikut contoh motif ragam Hias dari bahan keras.

 Demikian pembahasan mengenai Pengertian Kerajinan dari Bahan Keras, Aneka Produk Kerajinan dari Bahan Keras, Fungsi Produk Kerajinan dari Bahan Keras, Unsur Estetika dan Ergonomis Produk Kerajinan dari Bahan Keras serta Motif Ragam Hias Produk Kerajinan dari Bahan Keras. Semoga materi ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.

sumber. Buku Prakarya dan Kewirausahaan SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI semester 2

 

Labels:

Saturday, 17 February 2018

Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Assalamualaikum wr wb
    Pada pembahasan kali ini, akan membahas tentang Pengertian Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Fungsi, Tugas dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Struktur Dewan Komisioner, Pelayanan Otoritas Jasa Keuangan terhadap Konsumen dan Masyarakat, Hubungan Kelembagaan serta Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan. Pembahasan Otoritas Jasa Keuangan akan dibahas dibawah ini.

1. Pengertian Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
    Otoritas Jasa Keuangan atau OJK adalah lembaga negara yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011 yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan terhadap keseluruhan kegiatan di sektor jasa keuangan. Pimpinan tertinggi OJK adalah dewan komisioner yang bersifat kolektif dan kolegial. Anggota dewan komisioner yang bertugas memimpin pelaksanaan pengawasan kegiatan jasa keuangan dan melaporkan pelaksanaan tigasnya kepada dewan komisioner adalah kepala eksekutif.

2. Tujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
    Ada beberapa tujuan dibentuknya Otoritas Jasa Keuangan. Tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai berikut.
a. Agar keseluruhan kegiatan di sektor jasa keuangan terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel,
b. Agar keseluruhan kegiatan di sektor jas keuangan mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil, dan
c. Keseluruhan kegiatan di sektor jasa keuangan mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.
 
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
3. Fungsi, Tugas, dan Wewenang OJK
a. Fungsi
    Otoritas Jasa Keuangan berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di sektor jasa keuangan.
b. Tugas
    Otoritas Jasa Keuangan mempunyai tugas sebagai berikut.
1) mengatur dan mengawasi kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan,
2) mengatur dan mengawasi kegiatan jasa keuangan di sektor pasar modal, dan
3) mengatur dan mengawasi kegiatan jasa keuangan di sektor perasuransian, dana pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya.
c. Wewenang
    Untuk melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan di sektor perbankan, Otoritas Jasa Keuangan mempunyai wewenang sebagai berikut.
1) Pengaturan dan pengawasan mengenai kelembagaan bank yang meliputi hal-hal berikut.
a) Perizinan untuk pendirian bank, pembukaan kantor bank, anggaran dasar, rencana kerja, kepemilikan, kepengurusan dan sumber daya manusia, merger, konsolidasi, dan akuisisi bank, serta pencabutan izin usaha bank.
b) Kegiatan usaha bank, antara lain sumber dana, penyediaan dana, produk hibridasi, dan aktivitas di bidang jasa.

2) Pengaturan dan pengawasan mengenai kesehatan bank meliputi hal-hal berikut.
a) Likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, kualitas aset, rasio kecukupan modal minimum, batas maksimum pemberian kredit, rasio pinjaman terhadap simpanan, dan pencadangan bank,
b) Laporan bank yang terkait dengan kesehatan dan kinerja bank,
c) sistem informasi debitor,
d) pengujian kredit (credit testing)
e) standar akuntansi bank.

3) Pengaturan dan pengawasan mengenai aspek kehati-hatian bank, meliputi hal-hal berikut.
a) manajemen risiko
b) tata kelola bank
c) prinsip mengenal nasabah dan anti pencucian uang
d) pencegahan pembiayaan terorisme dan kejahatan perbankan, dan
e) pemeriksaan bank

   Untuk melaksanakan tugas pengaturan, Otoritas Jasa Keuangan mempunyai wewenang berikut.
a. Menetapkan peraturan pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2011,
b. Menetapkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan,
c. Menetapkan peraturan dan keputusan Otoritas Jasa Keuangan,
d. Menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa keuangan,
e. Menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas Otoritas Jasa Keuangan,
f. Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan perintah tertulis terhadap Lembaga Jasa Keuangan dan pihak tertentu,
g. Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola statuter pada Lembaga Jasa Keuangan,
h. Menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola, memelihara, dn menatausahakan kekayaan dan kewajiban, dan 
i. Menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

   Untuk melaksanakan tugas pengawasan, Otoritas Jasa Keuangan mempunyai wewenang sebagai berikut.
a. Menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan,
b. Mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan oleh Kepala Eksekutif
c. Melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan Konsumen, dan tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan, pelaku dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan,
d. Memberikan peruntah tertulis kepada Lembaga Jasa Keuangan dan/atau pihak tertentu,
e. Melakukan penunjukan pengelola statuter,
f. Menetapkan penggunaan pengelola statuter,
g. Menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan, dan
h. Memberikan dan/atau mencabut :
1) izin usaha,
2) izin orang perseorangan,
3) efektifnya pernyataan pendaftaran,
4) surat tanda terdaftar,
5) persetujuan melakukan kegiatan usaha,
6) pengesahan,
7) persetujuan atau penetapan pembubaran dan
8) penetapan lain, sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

4. Struktur Dewan Komisioner
   Otoritas Jasa Keuangan dipimpin oleh dewan komisioner yang bersifat kolektif dan kolegial. Dewan komisioner beranggotakan sembila orang anggota yang ditetapkan dengan keputusan presiden. Mereka dan memiliki hak suara yang sama. Adapun susunan keanggotaannya sebagai berikut.
a. seorang  ketua merangkap anggota,
b. seorang wakil ketua sebagai komite etik merangkap anggota,
c. seorang kepala eksekutif pengawas perbankan merangkap anggota,
d. seorang kepala eksekutif pengawas pasar modal merangkap anggota,
e. seorang kepala eksekutif pengawas perasuransian, dana pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya merangkap anggota,
f. seorang ketua dewan audit merangkap anggota,
g. seorang anggota yang membidangi edukasi dan perlindungan konsumen,
h. seorang anggota ex-officio dari bank Indonesia yang merupakan anggota dewan gubernur bank Indonesia, dan
i. seorang anggota ex-officio dari kementerian keuangan yang merupakan pejabat setingkat eselon I Kementerian keuangan.

5. Pelayanan Otoritas Jasa Keuangan terhadap Konsumen dan Masyarakat
   Untuk perlindungan konsumen dan masyarakat, Otoritas Jasa Keuangan berwenang melakukan tindakan pencegahan kerugian konsumen dan masyarakat, yang meliputi hal-hal berikut.
a. memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat atas karakteristik sektor jasa keuangan, layanan, dan produknya,
b. meminta lembaga jasa keuangan untuk menghentikan kegiatannya apabila kegiatan tersebut berpotensi merugikan masyarakat, dan
c. tindakan lain yang dianggap perlu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

   Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan juga melakukan pelayanan pengaduan konsumen yang meliputi hal-hal berikut.
a. menyiapkan perangkat yang memadai untuk pelayanan pengaduan konsumen yang dirugikan oleh pelaku di lembaga jasa keuangan,
b. membuat mekanisme pengaduan konsumen yang dirugikan oleh pelaku di lembaga jasa keuangan, dan
c. memfasilitasi penyelesaian pengaduan konsumen yang dirugikan oleh pelaku di lembaga jasa keuangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

   Untuk perlindungan konsumen dan masyarakat, Otoritas Jasa Keuangan berwenang melakukan pembelaan hukum, yang meliputi hal-hal berikut.
a. Memerintahkan atau melakukan tindakan tertentu kepada lembaga jasa keuangan untuk menyelesaikan pengaduan konsumen yang dirugikan lembaga jasa keuangan dimaksud.
b. Mengajukan gugatan:
1) untuk memperoleh kembali harta kekayaan milik pihak yang dirugikan dari pihak yang menyebabkan kerugian, baik yang berada di bawah penguasaan pihak yang menyebabkan kerugian dimaksud maupun di bawah penguasaan pihak lain dengan itikad tidak baik, dan/atau 
2)  untuk memperoleh ganti rugi dari pihak yang menyebabkan kerugian pada konsumen dan/atau lembaga jasa keuangan sebagai akibat dari pelanggaran atas peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

6. Hubungan Kelembagaan
   Dalam melaksanakan tugasnya, OJK berkoordinasi dengan Bank Indonesia dala membuat peraturan pengawasan di bidang perbankan antara lain:
a. kewajiban pemenuhan modal minimum bank,
b. sistem informasi perbankan yang terpadu,
c. kebijakan penerimaan dana dari luar negeri, penerimaan dana valuta asing, dan pinjaman komersial luar negeri,
d. produk perbankan, transaksi derivatif, kegiatan usaha bank lainnya,
e. penentuan institusi bank yang masuk kategori systemically important bank, dan
f. data lain yang dikecualikan dari ketentuan tentang kerahasiaan informasi.

   Ketika Bank Indonesia dalam melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenangnya memerlukan pemeriksaan khusus terhadap Bank tertentu, Bank Indonesia dapat melakukan pemeriksaan langsung terhadap bank tersebut dengan menyampaikan pemberitahuan secara tertulis terlebih dahulu kepada OJK. Dalam melakukan kegiatan pemeriksaan itu, Bank Indonesia tidak dapat memberikan penilaian terhadap tingkat kesehatan bank. Bank Indonesia memberikan laporan hasil pemeriksaan bank kepada OJK paling lama 1 (satu)  bulan sejak diterbitkannya laporan hasil pemeriksaan. OJK menginformasikan kepada Lembaga Penjamin Simpanan mengenai Bank bermasalah yang sedang dalam upaya penyehatan oleh OJK.
    Ketika OJK mengindikasikan bank tertentu mengalami kesulitan likuiditas dan/atau kondisi kesehatan keuangannya semakin memburuk, OJK segera menginformasikan ke Bank Indonesia untuk melakukan langkah-langkah sesuai dengan kewenangan Bank Indonesia. Lembaga Penjamin Simpanan dapat melakukan pemeriksaan terhadap bank yang terkait dengan fungsi, tugas, dan wewenangnya, serta berkoordinasi terlebih dahulu dengan OJK.
    OJK, Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan wajib membangun serta memelihara sarana pertukaran informasi secara terintegrasi.

7. Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan
   Untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, dibentuk Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan dengan anggota terdiri atas:
a. Menteri Keuangan selaku anggota merangkap koordinator,
b. Gubernur Bank Indonesia selaku anggota,
c. Ketua Dewan Komisioner OJK selaku anggota, dan
d. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan selaku anggota.

Itulah pembahasan mengenai  Pengertian Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Fungsi, Tugas dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Struktur Dewan Komisioner, Pelayanan Otoritas Jasa Keuangan terhadap Konsumen dan Masyarakat, Hubungan Kelembagaan serta Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan. Semoga pembahasan mengenai Otoritas Jasa Keuangan, dapat memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

sumber. Alam S. 2016. Ekonomi Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Esis

Labels:

Wednesday, 7 February 2018

Kebutuhan dan Alat Pemenuhan Kebutuhan

Assalamualaikum Wr Wb
    Pada postingan kali ini, saya akan membahas mengenai Kebutuhan dan Alat Pemenuhan Kebutuhan. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Kebutuhan dan Alat Pemenuhan Kebutuhan akan dibahas di bawah ini;

1. Kebutuhan yang Tidak Terbatas
    Setiap individu memiliki kebutuhan yang hampir tak terbatas. Coba tulis pada secarik kertas daftar kebutuhan Anda. Pastilah dalam catatan itu tercatat lebih banyak barang dan jasa yang Anda butuhkan daripada yang Anda miliki sekarang. Anda mungkin ingin tinggal di beberapa tempat yang menarik. Contohnya, Bali. Hongkong, Hawaii, atau Paris. Karena tempat-tempat itu jauh, mungkin Anda tidak ingin bergantung pada penerbangan komersial. Anda berharap orang tua Anda memiliki sebuah jet pribadi yang menyenangkan atau Rolls-Royce, Mercedes, Ferrari, atau Porsche. Mungkin juga Anda tidak ingin menghabiskan seluruh waktu untuk membantu Ibu membersihkan rumah atau memasak. Anda berharap ada beberapa pembantu yang siap melayani Anda.
   Anda dapat dengan mudah melihat bahwa jika setiap orang diminta untuk membuat sebuah daftar kebutuhan. Kebutuhan itu akan sangat banyak. Bahkan hampir tak terbatas. Kebutuhan yang tidak terbatas pada dasarnya tidak masalah. Namun, akan menjadi masalah ketika kebutuhan yang tidak terbatas itu bertemu dengan sarana pemenuhan kebutuhan yang terbatas.
    Kebutuhan memang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai bagian dari kehidupan manusia, kebutuhan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk mencapai kemakmuran. Untuk mencapai kemakmuran tersebut, diperlukan keberadaan alat pemuas kebutuhan. Kebutuhan manusia dapat dikelompokkan berdasarkan jenis dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Jenis-Jenis Kebutuhan
    Jenis kebutuhan dapat dibedakan berdasarkan tingkat intensitasnya, subjek yang membutuhkan, waktu pemenuhan kebutuhan, dan sifat pemenuhan kebutuhan.
a. Jenis Kebutuhan Berdasarkan Tingkat Intensitas
   Berdasarkan tingkat intensitas atau keharusan pemenuhan kebutuhan, kebutuhan dibedakan menjadi kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier.
1) Kebutuhan Primer
    Kebutuhan primer adalah kebutuhan manusia yang harus dipenuhi untuk melangsungkan hidupnya. Agar dapat hidup layak, manusia harus makan, berpakaian, dan mempunyai tempat tinggal. Kebutuhan primer sering disebut sebagai kebutuhan alamiah atau kebutuhan utama.
2) Kebutuhan Sekunder
   Kebutuhan sekunder atau kebutuhan pelengkap adalah kebutuhan yang dipenuhi setelah kebutuhan primer. Contohnya, manusia perlu melengkapi diri dengan sepatu, tas, dan peralatan untuk bekerja.
3) Kebutuhan Tersier
   Kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang bersifat mewah. Umumnya tujuan pemenuhan kebutuhan ini adalah untuk menaikkan status sosial. Kebutuhan mewah dipenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder telah terpenuhi. Sebagai contoh, penggunaan mobil mewah bukan lagi bertujuan sebagai sarana transportasi, tetapi untuk menunjukkan status sosial. Penggunaan perhiasan mahal atau tingkat di apartemen mewah juga dapat menaikkan status sosial pengguna.

Kebutuhan dan Alat Pemenuhan Kebutuhan
Kebutuhan


b. Jenis Kebutuhan Berdasarkan Subjek yang Membutuhkan
    Subjek pengguna alat pemenuhan kebutuhan dapat dibedakan atau individu dan masyarakat umum. Oleh karena itu, jenis kebutuhan menurut subjek dibedakan menjadi kebutuhan individu dan kebutuhan umum.
1) Kebutuhan Individu
    Kebutuhan individu adalah kebutuhan yang berhubungan dengan berbagai individu yang berbeda. Sebagai contoh, seorang petani membutuhkan cangkul, benih, traktor, dan alat pertanian lainnya. Di lain pihak, guru membutuhkan alat peraga, buku referensi, modal, dan perangkat mengajar lainnya.
2) Kebutuhan Umum
    Kebutuhan umum adalah kebutuhan yang berhubungan dengan masyarakat atau disebut juga kebutuhan sosial. Contoh kebutuhan umum adalah jalan raya, jembatan penyeberangan, taman kota, air bersih, jaringan listrik, dan fasilitas umum lainnya.

c. Jenis Kebutuhan berdasarkan waktu
   Berdasarkan waktu pemenuhannya, kebutuhan dibedakan atas kebutuhan sekarang dan kebutuhan masa mendatang.
1) Kebutuhan sekarang atau kebutuhan saat ini adalah kebutuhan yang tidak dapat ditunda pemenuhannya dan harus dilakukan saat ini. Sebagai contoh, orang yang lapar harus segera makan dan orang yang sakit harus segera berobat atau dirawat di rumah sakit.
2) Kebutuhan masa mendatang atau kebutuhan masa depan adalah kebutuhan yang dirancang atau direncanakan untuk terpenuhi di masa depan. Sebagai contoh, orang tua menabung atau mengikuti asuransi pendidikan untuk mempersiapkan biaya kuliah anaknya.

d. Jenis Kebutuhan Menurut Sifat Pemenuhan Kebutuhan
   Jenis kebutuhan ini digolongkan berdasarkan sasaran alat pemenuhan kebutuhan yang digunakan. Dalam hal ini, terdapat alat pemenuhan kebutuhan jasmani dan alat pemenuhan kebutuhan rohani.
1) Kebutuhan jasmani atau kebutuhan fisik adalah kebutuhan yang berhubungan dengan tubuh manusia. Jenisnya antara lain pakaian, makanan, minuman, dan obat-obatan.
2) Kebutuhan rohani adalah kebutuhan yang berhubungan dengan kejiwaan seseorang. Sebagai contoh, agar dapat bekerja lebih baik karyawan perlu mendapat nasihat, motivasi, dan latihan yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian maupun keahlian kerja.

2. Barang dan Jasa sebagai Alat Pemenuhan Kebutuhan
   Untuk memenuhi kebutuhan manusia diperlukan barang dan jasa. Barang adalah alat pemenuhan kebutuhan manusia yang mempunyai bentuk fisik. Di lain pihak, jasa adalah alat pemenuhan kebutuhan yang tidak berbentuk tetapi bisa dirasakan manfaatnya.
1. Jenis-Jenis Barang
    Barang dapat dibedakan berdasarkan cara memperoleh, kepentingan barang dalam kehidupan manusia, cara penggunaan, serta cara pengerjaan menurut bentuk dan sebab.
a) Berdasarkan cara memperoleh
    Barang dapat dibedakan menjadi barang ekonomi dan barang nonekonomi.
1) Barang ekonomi adalah barang yang didapat dengan cara mengorbankan sesuatu untuk mendapatkannya. Contoh barang ekonomi antara lain baju, komputer, dan sepatu,
2) Barang nonekonomi atau barang bebas adalah barang bisa didapat tanpa pengorbanan atau biaya. Beberapa contoh barang pemenuhan kebutuhan yang tidak memerlukan biaya untuk mendapatkannya adalah sinar matahari, air sungai, pasir dipantai, dan udara.

b) Berdasarkan kepentingan
   Barang dibedakan menjadi barang inferior, barang esensial, barang normal, dan barang mewah.
1) Barang inferior adalah barang yang pemakaiannya dikurangi jika pendapatan bertambah dan sebaliknya. Contohnya adalah sandal jepit, barang bekas, dan barang tiruan. Pembelian barang-barang ini akan dikurangi jika pendapatan bertambah, tetapi pembelian akan bertambah jika pendapatan berkurang.
2) Barang esensial adalah barang yang sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan permintaannya tidak signifikan dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Contohnya adalah beras, gula, minyak sayur, dan bensin. Ba
3) Barang normal adalah barang yang permintaannya bertambah pada saat pendapatan meningkat dan sebaliknya. Contohnya adalah baju, buku, dan komputer.
4) Barang mewah adalah barang yang berharga mahal dan dapat menaikkan status sosial penggunanya. Contohnya adalah perhiasan, berlian, mobil mewah, dan kapal pesiar.

c) Berdasarkan Cara Penggunaannya
   Barang dapat dibedakan menjadi barang pribadi dan barang publik
1) Barang pribadi adalah barang yang dimiliki dan digunakan oleh individu atau perorangan. Contohnya adalah rumah, tabungan, dan mobil.
2) Barang publik adalah barang yang digunakan untuk kepentingan banyak orang atau masyarakat umum. Contohnya adalah taman, jembatan penyeberangan, jalan raya, dan sekolah.

d) Berdasarkan hubungan pemakaian
   Barang dapat dibedakan menjadi barang substitusi dan barang komplementer.
1) Barang substitusi adalah barang yang dapat menggantikan barang lain. Contohnya adalah jika harga beras mahal, maka orang mengonsumsi jagung atau singkong sebagai pengganti. Contoh lainnya, jika harga tiket pesawat terbang mahal maka orang menggunakan kereta api sebagai srana transportasi alternatif.
2) Barang komplementer adalah barang yang kegunaannya semakin bertambah jika digunakan bersama dengan barang lain. Contohnya adalah baju kemeja dengan dasi, sepatu dengan kaus kaki, serta mobil dengan bensin.

e) Berdasarkan cara pengerjaan atau proses pengolahan
   barang doat dibedakan menjadi barang mentah, barang setengah jadi, dan barang jadi.
1) Barang mentah atau bahan mentah adalah barang yang belum mengalami pengolahan. Contohnya adalah kelapa, kentang, dan ubi kayu.
2) Barang setengah jadi adalah barang yang telah diproses pada tahap tertentu, tetapi belum menjadi barang siap pakai. Contohnya benang, kopra, dan tepung beras.
3) Barang jadi adalah barang yang telah diproses hingga siap untukdigunakan. Contohnya adalah sepatu, tas, kemeja, dan komputer.

f) Berdasarkan bentuk dan sifat
   Barang dapat dibedakan menjadi barang tetap dan barang bergerak
1) Barang tetap adalah barang yang bersifat tetap dan tahan lama. Contohnya adalah gedung, mesin pabrik, dan tanah.
2) Barang bergerak adalah barang yang bersifat tidak tetap dan masa pakainya pendek. Contohnya adalah buah, sayur, beras, dan bahan bakar.

2. Kegunaan Suatu Barang
   Setiap hari manusia membutuhka berbagai barang untuk memenuhi kebutuhannya. Kegunaan suatu barang bagi manusia menurut AJ Meyers dapat dibedakan menjadi kegunaan bentuk, kegunaan tempat, kegunaan waktu, dan kegunaan milik.
a) Kegunaan bentuk (Form Utility)
   Kegunaan bentuk adalah kegunaan yang muncul setelah suatu barang diubah bentuknya. Contohnya adalah papan, paku. cat. dan pelitur yang diolah menjadi meja, kursi, atau perabotan lainnya. Dengan diubah bentuknya, barang-barang tersebut semakin bernilai.
b) Kegunaan tempat (Place Utility)
   Kegunaan tempat adalah kegunaan yang muncul setelah suatu barang dipindahkan ke tempat lain. Contohnya adalah pasir di pantai atau batu kapur di gunung akan memiliki nilai ekonomis setelah di angkut ke lokasi pembangunan gedung di kota.
c) Kegunaan waktu (Time Utility)
   Kegunaan waktu adalah kegunaan barang ketika digunakan tepat waktu. Contohnya adalah tabungan pendidikan yang telah disiapkan sejak jauh-jauh hari menjadi berguna ketika tiba saatnya membayar biaya pendaftaran sekolah. Contoh lainnya adalah pakaian bayi yang berguna pada waktu bayi telah lahir.
d) Kegunaan milik (Ownershil Utility)
    Kegunaan milik adalah kegunaan barang yang muncul ketika barang tersebut telah dimiliki. Sebagai contoh, komputer yang ada di toko akan berguna setelah pembeli membayar dan memiliki barang tersebut sehingga dapat digunakan.

3. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kebutuhan
   Jika dicermati lebih dalam, terdapat beberapa perbedaan antara kebutuhan seseorang dan seseorang lainnya. Demikian juga halnya dengan perbedaan kebutuhan antara suatu kelompok dan kelompok lain. Sebagai contoh, kebutuhan seorang pelukis dengan kebutuhan seorang arsitek tentu berbeda. Pelukis membutuhkan kuas, kanvas, cat minyak, dan peralatan melukis lainnya. Arsitek membutuhkan meja gambar, pena teknik, penggaris, komputer, dan peralatan teknis lainnya.
   Terdapat beberapa hal yang menyebabkan perbedaan kebutuhan tiap individu. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, agama, adat istiadat, dan peradaban.

a. Lingkungan
   Lingkungan merupakan salah satu faktor penyebab yang memengaruhi perbedaan kebutuhan manusia. Manusia yang hidup pada lingkungan yang berbeda akan memiliki kebutuhan yang berbeda pula. Sebagai contoh, orang yang tinggal di daerah yang beriklim dingin cenderung menggunakan pakaian tebal dan makan makanan yang mengandung kalori tinggi agar badan mereka tetap hangat. Sebaliknya, orang yag tinggal di daerah beriklim panas cenderung berpakaian tipis dan menghindari makanan yang mengandung kalori tinggi.
b. Agama
    Agama juga merupakan salah satu faktor pembeda kebutuhan individu. Sebagai contoh, orang yang beragama islam membutuhkan Al-quran, sajadah, dan tasbih untuk beribadah serta tidak mengonsumsi daging babi. Di lain pihak, penganut agama Hidu menggunakan bunga, janur, dan perlengkapan lainnya untuk melaksanakan ritual kegamaan serta tidak mengonsumsi daging sapi.
c. Adat Istiadat
   Adat istiadat yang berlaku di suatu daerah juga turut memengaruhi perbedaan kebutuhan dan pola hidup seseorang. Sebagai contoh, masyarakat suku Melayu Riau memiliki tradisi untuk menggunakan berbagai jenis pakaian adat berdasarkan waktu atau acara tertentu. Sementara itu, masyarakat suku Tapanuli mempunyai tradisi menggunakan ulos dalam acara-acara adat.
d. Peradaban
   Kemajuan peradaban yang berbeda-beda di tiap wilayah juga menyebabkan perbedaan kebutuhan. Sebagai contoh, nenek moyang kita pada masa lalu cukup berpakaian sederhana dan makan umbi-umbian. Setelah peradaban semakin maju, jenis pakaian dan makanan yang dkonsumsi masyarakat semakin beragam. Contoh lainnya, pada tahun 1980-an sarana komunikasi di Indonesia masih terbatas pada telepon dan pos. Saat ini, masyarakat Indonesia dapat berkomunikasi dengan menggunakan telepon seluler dan internet.

Demikian pembahasan mengenai Kebutuhan dan Alat Pemenuhan Kebutuhan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.

sumber. Alam S. 2016. Ekonomi Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Esis

Labels:

Tuesday, 1 August 2017

Sharia Insurance and Conventional Insurance

This discussion is about Sharia Insurance and Conventional Insurance. For more details about Takaful and Conventional Insurance are as follows;

History of Sharia Insurance

The word insurance is taken from the dutch language, 'assurantie'. In Dutch law is called 'Verzekering', which means coverage. The term then develops into 'assuradeur' which means the insurer and the insured is called 'geassureerde'. In the Law of the Republic of Indonesia number 2 of 1992, the definition of insurance is an agreement between two or more parties; The insurer binds itself to the insured, accepting the insurance premium, to provide reimbursement to the insured due to loss, damage or loss of expected profit or legal liability to a third party which may be subject to the insured, arising from an uncertain event or for Provide a payment based on the death or life of an insured person.

The scope of the insurance business includes the financial services business by collecting public funds through the collection of insurance premiums. Insurance also provides protection to members of the community of insurance service users against the possibility of loss due to an uncertain event or on the life or death of a person.

Insurance Basics

Insurance in Arabic is called At-ta'min. The insured party is called mu'ammin and the insured party is called mu'amman lahu or musta'min. At-ta'min comes from the word amanah which means to provide protection, tranquility, security and freedom from fear. The term menta'minkan something means a person pays or provides installment money so that he or the person appointed to be his heirs get a replacement for lost property.

Sharia Insurance and Conventional Insurance
Sharia Insurance and Conventional Insurance

Philosophy
The underlying philosophy of Takaful insurance is that mankind is a big family of humanity. In order for common life to be established, humankind must help-help, mutual responsibility, and bear each other between one and the other. Tafakul yag means mutual bearing between human beings is the basis of the foundation of human activity as a social creature. On the basis of the footing, among the participants agreed to share among them the risks posed by death, fire, loss and so on. Thus, the Takaful system should be universal, generally applicable.

According to the National Shariah Council Fatwa of the Indonesian Ulema Council (DSN-MUI) on general guidance of Takaful insurance, Takaful is a mutual protection and help among some people through investment in assets and / or tabarru which provides a pattern of return to face risks Certain through akad (engagement) in accordance with sharia, responsible, cooperate and help each other, and protect each other. Meanwhile, in conventional insurance, we recognize the risk transfer system which means the transfer of risk from the insured to the insurer. Both systems are the basic difference from the definition of Takaful with conventional insurance.

According to Shaykh Abu Zahra, every individual in society is in a collateral or dependent of society. Any person who has the ability to become a guarantor with a virtue for every potential humanity in society shall ensure his brother for any deficiencies
.
The difference between sharia insurance and conventional insurance
In the law of the Republic of Indonesia number 2 of 1992, the definition of conventional insurance is the risk spillover that may occur to the insured (the insurer) to the insurer (insurance company). Thus, the elements contained in the definition of conventional insurance are:

A. First element; The insured party promised to pay the premium money to the insurer at once or gradually.
B. The second element; The insurer promised to pay some money to the insured, simultaneously or gradually, if implemented third element.
C. The third element; An event that was not immediately clear will happen.

Definition of conventional insurance
Here are some notions of conventional insurance based on several different viewpoints;

Economic Viewpoint
Insurance is a method to reduce risk by moving and combine the uncertainty of financial disadvantages.
Legal point of view
Insurance is a risk insurance contract between the insured and the insurer. Insurers promise to pay for the activities caused by the risks insured to the insured. Meanwhile, the insured pays a periodic premium to the insurer so that the insured exchange for large losses that may occur with a certain payment is relatively small.

Business viewpoint
Insurance is a company whose main business is receiving / selling services, transferring risks from other parties, and benefiting from the risks (sharing of risk) of the people who then invest the funds in various economic activities.

Social point of view
Insurance is defined as a social organization that receives the transfer of risk and collects funds from its members to pay the losses that may occur to each member. With the uncertainty of losses occurring to each member, members who have never suffered harm from a social point of view are contributors to the organization.

From various viewpoints it can be concluded that conventional insurance is transfer / risk transfer from the insured to the insurer or the term transfer risk. In the concept of Takaful, according to DSN-MUI, the risks that will occur are shared on the basis of ta'awun, namely the principle of mutual protection and mutual help on the basis of ukhuwah Islamiyah among members in the face of disaster.

Such is the discussion on Sharia Insurance and Conventional Insurance. Hopefully this article useful for all readers

Labels:

Monday, 31 July 2017

Produk Kerajinan dari Bahan Lunak

Pembahasan kali ini tentang Produk Kerajinan dari Bahan Lunak. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Produk Kerajinan dari Bahan Lunak yaitu sebagai berikut;

Produk Kerajinan dari Bahan Lunak
 
Produk kerajinan lebih banyak memanfaatkan bahan-bahan alam seperti tanah liat, serat alam, kayu, bambu, kulit, logam, batu, rotan dan lain-lain. Ada juga yang memanfaatkan bahan sintetis sebagai bahan kerajinan seperti limbah kertas, plastik, karet. Pembuatan produk kerajinan di setiap daerah memiliki jenis kerajinan lokal yang menjadi unggulan daerah. Misalnya, Kasongan (Daerah Istimewa Yogyakarta), sumber daya alam yang banyak tersedia tanah liat, kerajinan yang berkembang adalah kerajinan keramik. Palu (Sulawesi Tengah), sumber daya alamnya banyak menghasilkan tanaman kayu hitam, kerajinan yang berkembang berupa bentuk kerajinan kayu hitam. Kapuas (Kalimantan Tengah), sumber daya alamnya banyak menghasilkan rotan dan getah nyatu sehingga kerajinan yang berkembang adalah anyaman rotan dan getah nyatu.n

Secara umum, jenis bahan dasar produk kerajinan dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu produk kerajinan dari bahan lunak dan produk kerajinan dari bahan keras. Beberapa kerajinan bahan lunak serta pengemasannya akan diuraikan secara singkat pada penjelasan berikut ini. Namun, materi yang diuraikan disini merupakan contoh saja, kamu dapat mempelajarinya sebagai pengetahuan dan diharapkan dapat mengeksplorasi pengetahuan lainnya sebagai bahan pengayaan.

1. Pengertian Kerajinan dari Bahan Lunak
    Kerajinan dari bahan lunak merupakan produk kerajinan yang menggunakan bahan dasar yang bersifat lunak, beberapa bahan lunak yang digunakan dalam pembuatan produk kerajinan, yaitu seperti berikut;

a. Bahan Lunak Alami
    Bahan lunak alami adalah bahan lunak yang diperoleh dari alam sekitar dan cara pengolahannya juga secara secara alami tidak dicampur maupun dikombinasi dengan bahan buatan. Contoh bahan lunak alami yang kita kenal adalah tanah liat, serat alam, dan kulit.

b. Bahan Lunak Buatan
     Bahan lunak buatan adalah bahan untuk karya kerajinan yang diolah menjadi lunak. Beragam karya kerajinan dari bahan lunak buatan dapat dibuat berdasarkan bahan yang digunakan. Bahan-bahan yang digunakan bisa berupa bubur kertas, gips, fiberglas, lilin, sabun, spons dan sebagainya.

2. Aneka Produk Kerajinan dari Bahan Lunak

Produk kerajinan dari bahan lunak sangat beragam, mulai dari karya kerajinan yang digunakan untuk kebutuhan fungsi pakai dan karya kerajinan untuk hiasan.

Berikut ini contoh produk kerajinan dari bahan lunak;

a. Kerajinan dari Tanah Liat
    Kerajinan yang terbuat dari bahan tanah liat sering dikenal orang dengan kerajinan keramik. Kerajinan keramik adalah karya kerajinan yang menggunakan bahan baku dari tanah liat yang melalui proses sedemikian rupa (dipijit, butsir, pilin, pembakaran, dan glasir) sehingga menghasilkan barang atau benda pakai dan benda hias yang indah. Contohnya: gerabah, vas bunga, guci, piring.

Gelas dari tanah liat
Cangkir dari Tanah Liat
Cobekan dari Tanah Liat
Cobekan dari Tanah Liat



Indonesia memiliki aneka ragam kerajinan keramik dari berbagai daerah yang memiliki ciri khas pada keunikan bentuk, teknik hingga ragam hias yang ditampilkan. Kekayaan hayati di Indonesia telah menginspirasi keindahan dan keunikan bentuk kerajinan keramik menjadi keramik Nusantara yang memiliki karakteristik tersendiri dan berbeda dengan keramik Cina, Jepang dan Negara lainnya.

b. Kerajinan dari Serat Alam
   Bahan-bahan serat alam dapat menghasilkan kerajinan tangan yang beraneka ragam, misalnya tas, dompet, topi. alas meja, tempat lampu. Teknik pembuatan kerajinan dari serat alam ini sebagian besar dibuat dengan cara menganyam. Contoh kerajinan dari serat alam yaitu sebagai berikut;

Tas dari Serat Alam
Tas dari Serat Alam

Dompet dari Serat Alam
Dompet dari Serat Alam


c. Kerajinan Kulit
    Kerajinan ini menggunakan bahan baku dari kulit yang sudah disamak, kulit mentah atau kulit sintetis. Contohnya tas, sepatu, wayang. dompet, jaket. Kulit yang dihasilkan dari hewan seperti sapi, kambing, kerbau, dan buaya dapat dijadikan sebagai bahan dasar kerajinan.
Contoh kerajinan dari kulit yaitu sebagai berikut;
Sepatu dari Kulit
Sepatu dari Kulit

Tas dari Kulit
Tas dari Kulit
 

d. Kerajinan Gips
   Gips merupakan bahan mineral yang tidak larut dengan air dalam waktu yang lama jika sudah menjadi padat. Kandungan gips terdiri atas jenis zat hidrat kalsium sulfat dan beberapa mineral seperti karbonat, borat, nitrat, dan sulfat yang dapat terlepas sehingga gips dalam proses pengerasan akan terasa panas. Prosesnya harus dicairkan dahulu jika ingin bentuk seperti yang diinginkan, harus dibuat cetakan. Jika akan diproduksi dalam jumlah banyak, harus dibuat model terlebih dahulu. 

Hiasan Dinding dari Gips
Hiasan Dinding dari Gips

Secara umum, untuk semua produk gips diperlukan cetakan. Bahan utama pembuatan cetakan adalah silicone rubber, tetapi yang paling gampang dan mudah dicari adalah plastisin atau tanah liat.

Fungsi Kerajinan dari gips biasanya dapat berupa hiasan dinding, mainan dan sebagainya.

e. Kerajinan Lilin
    Pembuatan kerajinan bahan dasar lilin cukup sederhana dan mudah, dapat dilakukan oleh semua orang. Jika kita akan mengubah bentuknya menjadi benda kerajinan yang unik, tentunya perlu dicairkan dengan proses pemanasan di atas api/kompor. Contoh kerajinan dari lilin yaitu sebagai berikut;

Kerajinan dari Lilin
Lilin Hias


f. Kerajinan Sabun
    Kerajinan dari sabun sangat unik. Bahan yang diperlukan adalah sabun batangan. Sabun dapat diolah dengan dua cara. Pertama; mengukir sabun yang menghasilkan karya seperti binatang, buah, dan flora ukiran. Kedua, membentuk sabun, yaitu sabun diparut hingga menjadi bubuk, dicampur dengan sagu dan sedikit air, lalu dibuat dengan adonan baru seperti membuat bentuk dari palstisin. Berikut contoh produk kerajinan dari bahan sabun.

Bunga dari Sabun
Bunga dari Sabun

Kura-kura dari Sabun
Kura-kura dari Sabun 


g. Kerajinan Bubur Kertas
   Sisa-sisa kertas dapat dimanfaatkan untuk beraneka ragam karya kerajinan. Salah satu alternatif pemanfaatan sisa-sisa kertas adalah dibuat bubur kertas untuk bahan berkarya kerajinan. Proses pembuatan bubur kertas dapat dilakukan dengan langka-langkah berikut ini.
1. Siapkan kertas bekas, misalnya kertas tisu atau kertas koran. Robek atau gunting menjadi potongan-potongan kecil (lembut).
2. Masukkan potongan kertas ke dalam baskom atau ember plastik. Kemudian, siram dengan air hangat.
3. Masukkan 1 sendok teh garam. Garam bermanfaat untuk menghindarkan kertas busuk.
4. Potongan kertas yang telah dirandam dan diberi garam ini didiamkan selama 1-2 hari hingga menjadi lunak.
5. Dua hari kemudian atau setelah kertas menjadi lunak dan hancur, saring menggunakan kain (dapat menggunakan kain lap yang pori-porinya besar). Keempat tepi kain disatukan dan plintir, hingga air akan terpisah dari ampasnya.
6. Buang air perasan kertas. Kemudian, masukkan kembali potongan kertas-kertas yang sudah diperas airnya ke dalam wadah dan remas-remas hingga hancur. Tambahkan sedikit air ketika meremasnya.
7. Buat larutan pasta dengan mencampur 2 sendok makan tepung kanji dengan air secukupnya. Apabila pasta terasa terlalu cair, penggunaan tepung kanji dapat ditambah.
8. Campur adonan kertas dengan larutan pasta. Remas-remas hingga tercampur merata dan didapat adonan bubur kertas yang liat sehingga mudah untuk dibentuk.
Berikut contoh karya kerajinan dari bubur kertas.
Boneka dari Bubur Kertas
Boneka dari Bubur Kertas

Vas Bunga dari Bubur Kertas
Vas Bunga dari Bubur Kertas


3. Fungsi Produk Kerajinan dari Bahan Lunak

Fungsi produk kerajinan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi karya kerajinan sebagai benda pakai dan fungsi karya kerajinan sebagai benda hias.

a. Karya kerajinan sebagai Benda Pakai
Karya kerajinan sebagai benda pakai meliputi segala bentuk kerajinan yang digunakan sebagai alat, wadah, atau dikenakan sebagai pelengkap busana. Sebagai benda pakai, produk karya kerajinan yang diciptakan mengutamakan fungsinya, adapun unsur keindahannya hanyalah sebagai pendukung. Berikut contoh karya kerajinan sebagai benda pakai.

Tas sebagai Benda Pakai
Kerajinan Tas


b. Karya Kerajinan sebagai Benda Hias
Karya kerajinan sebagai benda hias meliputi segala bentuk kerajinan yang dibuat dengan tujuan untuk dipajang atau digunakan sebagai hiasan atau elemen estetis. Jenis ini lebih menonjolkan aspek keindahan daripada aspek kegunaan.
Berikut contoh karya kerajinan sebagai benda hias. 

Hiasan dinding sebagai benda hias
Kerajinan Hiasan Dinding

Demikian pembahasan mengenai Produk kerajinan dari Bahan Lunak. Semoga tulisan ini benrmanfaat bagi pembaca sekalian.

sumber: Buku Prakarya dan Kewirausahaan SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI semester 1

Labels: