Kumpulan artikel tentang ekonomi dan ilmu ekonomi serta akuntansi dan manajemen

Faktor-Faktor Penentu Besarnya APBD

Hai teman-teman, kali ini saya akan membahas mengenai Faktor-Faktor Penentu Besarnya APBD. Pembahasan mengenai Faktor-Faktor Penentu Besarnya APBD yaitu sebagai berikut.

     Di Indonesia, APBD setiap daerah berbeda-beda besarnya. Hal ini bergantung dari sumber daya alam dan tingkat aktivitas ekonomi yang ada pada daerah tersebut. Di Indonesia, ada daerah yang tanahnya subur, pertaniannya berkembang baik, akan tetapi ada daerah yang tandus dan kering sehingga pertanian kurang bisa berkembang. Di samping itu ada daerah yang perdagangannya maju, banyak ditanam investasi, dan ada daerah yang perdagangannya kecil dan investasi tidak banyak. Kondisi masing-masing daerah yang berbeda itu memengaruhi tingkat pendapatan masyarakatnya yang berakibat pada penerimaan pemerintah daerah dari sektor pajak dan retribusi. Secara menyeluruh potensi keuangan daerah, ditentukan oleh hal-hal berikut.

A. Kondisi Awal Suatu Daerah 
     Adanya struktur ekonomi dan sosial suatu daerah menentukan besar kecilnya keinginan pemerintah daerah untuk melakukan pungutan. Hal ini dikarenakan struktur sosial dan ekonomi suatu masyarakat menentukan tinggi rendahnya tuntutan akan adanya pelayanan publik (public service) dalam kuantitas dan kualitas tertentu. Pada masyarakat agraris misalnya, tuntutan akan tersedianya fasilitas pelayanan publik dalam kualitas dan kuantitasnya akan lebih rendah dari pada masyarakat yang berbasis pada industri. Contohnya tuntutan penyediaan fasilitas umum dari masyarakat Kulon Progo akan berbeda dalam jumlah dan kualitas jika dibandingkan dengan tuntutan pengadaan fasilitas umum dari masyarakat kota Yogyakarta yang merupakan pusat bisnis dan perdagangan di wilayah DIY.
    Dalam kaitannya dengan hal tersebut, pemerintah daerah yang agraris tidak akan terpacu untuk menarik pungutan-pungutan dari masyarakat. Lain halnya dengan pemerintah kota yang berbasis industri dan perdagangan akan terpacu untuk menarik pungutan-pungutan untuk memenuhi tuntutan masyarakat dalam menyediakan barang publik. Kemampuan membayar pungutan dari masyarakat industri atau perkotaan akan lebih tinggi daripada masyarakat agraris.
     Dari uraian pokok bahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kondisi awal suatu daerah sangat menentukan potensi sumber penerimaan daerah. Kondisi awal ini mencakup hal-hal berikut.
1. Komposisi industri yang ada di daerah tersebut.
2. Struktur sosial, politik dan institusional serta berbagai kelompok masyarakat yang relatif memiliki kekuatan.
3. Kemampuan administratif, kejujuran, dan integritas dari instansi perpajakan pemerintah.
4. Tingkat ketimpangan dalam distribusi pendapatan.
    Salah satu indikasi yang mudah untuk melihat kondisi awal suatu daerah adalah dengan melihat kontribusi sektor pertanian atau kontribusi sektor industri pada Produk Domestik Bruto (PDRB) suatu daerah.
     Semakin tinggi kontribusi sektor industri pada Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu daerah, akan semakin tinggi potensi penerimaan daerahnya. Sebaliknya semakin tinggi kontribusi sektor pertanian pada PDRB suatu daerah, maka akan semakin rendah potensi penerimaannya.

B. Ekstensifikasi dan Intensifikasi Penerimaan
     Kebijakan ini merupakan upaya memperluas cakupan penerimaan. Usaha memperluas cakupan penerimaan daerah harus memerhatikan tiga hal pokok antara lain:
1. menambah objek dan subjek pajak atau retribusi;
2. meningkatkan besarnya penetapan besarnya pajak dan retribusi; dan
3. mengurangi tunggakan (wajib pajak).

C. Perkembangan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Per kapita Riil
    Semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin tinggi kemampuan seseorang untuk untuk membayar (ability to pay) berbagai pungutan-pungutan yang ditetapkan oleh pemerintah

D. Pertumbuhan Penduduk
     Dalam hal-hal tertentu, besarnya penduduk dapat memengaruhi tingkat pendapatan pemerintah. Sebab, jika jumlah penduduk meningkat maka objek pajak yang dapat ditarik juga meningkat.

E. Tingkat Inflasi
     Inflasi akan menentukan penerimaan pendapatan pajak atau retribusi yang penetapannya didasarkan pada omset penjualan, misalnya pajak hotel dan pajak restoran.

F. Penyesuaian Tarif
    Peningkatan pendapatan sangat bergantung pada kebijakan penyesuaian tarif. Untuk pajak atau retribusi yang tarifnya ditentukan secara flat (tetap), maka penyesuaian tarif perlu mempertimbangkan laju inflasi. Kegagalan dalam penyesuaian tarif dan laju inflasi akan menghambat peningkatan penerimaan daerah.

G. Pembangunan Baru
     Peningkatan pendapatan juga dapat dilakukan dengan pembangunan fasilitas-fasilitas umum yang baru, misalnya pembangunan pasar, pembangunan terminal, perluasan bandar udara atau pelabuhan, pembangunan jasa pengumpulan sampah dan penerimaan lainnya yang bersumber dari adanya fasilitas baru.

H. Sumber Pendapatan Baru
     Sumber pendapatan baru merupakan adanya tambahan usaha bisnis dari masyarakat. Atau adanya penambahan investasi yang dilakukan oleh masyarakat. Penambahan investasi yang dilakukan oleh masyarakat akan dapat meningkatkan penerimaan pajak dan retribusi oleh pemerintah.
 
APBD
APBD
I. Perubahan Peraturan
    Usaha peningkatan penerimaan pemerintah dapat dilakukan dengan membuat peraturan-peraturan baru yang lebih menunjang untuk peningkatan penerimaan pajak dan retribusi.

    Demikian pembahasan mengenai Faktor-Faktor Penentu Besarnya APBD. Semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian..
Faktor-Faktor Penentu Besarnya APBD Rating: 4.5 Diposkan Oleh: ekonomisajalah

0 komentar:

Post a Comment